Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 19 Juni 2018   22:35 WIB
Emak Dan Al -Quran

Assalamualaikum, tiba - tiba ingin membuat tulisan ini, sedikit pengingat diri, sebuah refleksi hati dan pembelajaran yang bisa saya renungi berkali - kali bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar selama ada niat, kemauan, dan tentunya dibarengi dengan usaha. Mari mulai bercerita

Usia emak sudah kepala lima saat itu, usianya tidak lagi muda hal itu ditandai dari tiga orang cucu yang dimilikinya, saya sendiri adalah anak emak yang ke empat. Emak adalah seorang single perents, Bapak dan emak berpisah sejak usia saya masih kecil, meskipun perpisahaan mereka belum diurus secara resmi di pengadilan, pernah suatu hari bapak dan emak rujuk, tetapi hal itu tidak bertahan lama dan akhirnya berpisah kembali sampai saat ini.

Status emak sebagai single perents dengan empat orang anak, membuatanya harus memutar otak untuk bisa menghidupi kami anak - anaknya. Emak bekerja sebagai buruh cuci, penjahit, dan pernah juga berdagang gorengan, semua Emak lakukan sendirian. Emak yang hanya lulusan SD bahkan tidak sampai selesai, hari - hari emak selalu disibukkan dengan rutinitas pekerjaannya, sejak muda hingga di usia lanjutnya. Hingga dalam beberapa hal emak menjadi tertinggal, salah satunya adalah pada saat itu emak belum bisa membaca Al-Quran.

Dulu, ketika saya masih sekolah dasar. saya ingat setiap kali pengambilan rapot sekolah emak jarang sekali hadir, beliau tidak pernah bisa tanda tangan. meskipun kadang saya membujuknya dan berkata bahwa tanda tangan hanya coret - coret saja. Tetapi, emak tidak pernah percaya diri untuk itu, akhirnya tanda tangan di raport saya lebih banyak dipenuhi dengan tanda tangan kakak - kakak saya.
Sampai suatu hari, disaat kami anak - anaknya sudah mampu bekerja yang artinya beban emak berkurang, karena kewajibannya menyekolahkan kami telah selesai. setelah lulus SMK saya memutuskan bekerja, setidaknya saya bisa sedikit membantu meskipun tidak banyak. Dengan kondisi demikian emak bisa beristirahat dalam lelahnya pekerjaan sebagai buruh cuci, penjahit, dan pedangang.

Waktu luang emak jadi lebih banyak, nikmat ini emak gunakan untuk bisa belajar membaca Al-quran, sebenarnnya emak bukan tidak bisa membaca, jika hanya Surat yasin emak tentu sudah hafal namun selebihnya emak masih belum bisa membacanya dengan lancar. Saya selalu kagum dengan sosok emak, sosoknya yang gigih dan pantang menyerah membuat saya selalu merasa bangga dengan emak.

Belajar Al-quran pada usia lanjut mempunyai tantangan sendiri, disamping lidah dan pengucapan yang tidak lagi semudah anak - anak muda pada umumnya, tentu perlu pendamping untuk bisa membantu, usaha itu emak lakukan dengan mengikuti pengajian bersama anak - anak yang lebih cocok menjadi cucu nya. Awalnya emak bercerita tak jarang anak - anak tertawa melihat emak yang ikut mengaji bersama mereka, sampai akhirnya anak - anak itu menjadi terbiasa dengan kehadiran emak. Terkadang mereka datang kerumah berteriak memanggil emak untuk berangkat mengaji bersama. Dalam benak saya pada saat itu hanya satu we proud of you mak. :)

Sekarang, emak sudah bisa membaca Al-Quran meskipun belum sempurna. Semua tentang emak, selalu mengajarkan saya apapun kondisinya selama ada niat, kemauan dan usaha semua bisa dilakukan dan insyaallah pasti akan dimudahkan oleh Allah swt.


sumber foto : griya quran 

Karya : Dede Mulyanah