Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 Juni 2016   15:20 WIB
Jodoh Versi Ibu

Kalau ada orang yang bilang "orang tua selalu menginginkan jodoh terbaik untuk anaknya" mungkin memang benar adanya hal tersebut, seperti Ibu yang akhir - akhir ini kelihatan repot sendiri dengan harapannya mengenai jodoh saya nanti. kenapa demikian ? saya juga gak ngerti kenapa begitu. tapi paling tidak saya berusaha untuk menerima harapan beliau walau saya sendiri gak tau kedepannya nanti apakah saya bisa mewujudkan harapan Ibu.

Dalam perbincangan ringan saat kumpul keluarga Ibu kerap mengingatkan saya tentang jodoh, beliau sering berkata

" De, kalau bisa nanti kamu cari jodohnya sama orang yang jauh ya, jangan sama orang dekat apalagi sama orang yang satu lingkungan sama kita." tutur beliau santai namun jelas sekali ada harapan besar yang ibu taruh disetiap kalimat yang beliau ucapkan.

Tapi saya gak pernah bisa kasih kepastian mengiyakan harapan Ibu, paling cuma bisa senyum - senyum aja. Toh saya memang sengaja gak pernah menanggapi secara serius ucapan Ibu karena saya takut tidak bisa memeberikan jodoh yang sesuai dengan harapannya, lagipula jodoh kan urusan Tuhan meskipun kita di kasih hak penuh untuk memilih kriteria yang kita inginkan dengan terus memperbaiki diri.

Bagi saya jodoh itu bukan perihal dekat atau jauh, yang selama ini saya pahami sejauh apapun kalau dia jodoh kita pasti akan bersatu dan sebaliknya sedekat apapun kalau dia bukan jodoh kita ya gak akan bersatu. Tapi orang tua selalu lebih banyak pengalaman dari anak - anaknya meskipun menurut saya banayaknya pengalaman itu belum tentu bisa merubah cara pandang orang tua, ada banyak orang tua yang memiliki pola fikir demokratis, membebaskan anak - anaknya dalam menjalani sesuatu termasuk jodoh mungkin, dan ada banyak juga orang tua yang masih berpandangan kolot, segala sesuatu harus mengikuti kemauannya, kebebasan menjadi sedikit susah untuk di dapatkan. Tapi saya gak tau Ibu masuk tipe orang tua yang punya pemikiran seperti apa beliau cenderung berada di tengah - tengah kedua kriteria itu, kadang Ibu memberikan kami anak - anaknya kebebasan dalam menjalani kehidupan kami  adakalanya pula beliau menjadi sangat pemilih dalam menentukan hal - hal seperti ini yang memang lebih bersifat sensitif.

sebenarnya saya yakin Ibu punya alasan dibalik harapan yang beliau berikan terhadap saya, dan tidak jarang pula ibu bilang

"kalau nikah sama orang dekat itu ribet, nanti kalau ada apa - apa sama rumah tangga kita, mudah kedengeran sama orang - orang dan mudah menjadi perbincangan orang lain nantinya."

secara sengaja atau tidak saya sendiri terkadang merasa sudah tersugesti dengan ucapan Ibu apalagi hal tersebut memang benar- benar ibu alami sendiri potret rumah tangga seperti itu sepertinya sudah menjadi trauma bagi beliau, hingga Ibu harus survive menjadi Single Perents karena akhir dari rumah tangganya tidak seindah yang beliau impikan.

namun bagi saya jodoh yang baik adalah tentang dua orang yang terus saling memperbaiki diri dan saling mengisi, begitu juga rumah tangga yang baik dibangun atas dasar saling mengasihi, dan semata - mata mencari ridho ilahi, bukan karena dibangun oleh orang yang jauh atau yang dekat. Jodoh adalah cerimanan diri, jadi itu kembali kepada diri kita sendiri, sudah pantaskah menjadi jodoh yang baik yang terus belajar memperbaiki diri, dan pantaskah membangun rumah tangga yang baik ? semoga saya termasuk kedalamnya.

Mungkin jodoh versi Ibu berbeda dengan versi saya, tapi saya yakin dibalik itu semua ibu hanya mengharapkan yang terbaik bagi saya, tentang jodoh siapa yang tahu? sudah takdirnya kalau jodoh itu rahasia Tuhan, tapi kita selalu bisa mengupayakan menjadi jodoh yang baik untuk diri kita sendiri dan juga pasangan kita nanti. 

Percayalah bu, dekat atau jauh nya jodoh anakmu ini, alangkah lebih indah jika jodoh itu memang baik untuk saya, namun baik tidaknya saya lah yang menentukan sejauh mana saya bisa memperbaiki dan memantaskan diri di hadapan Alllah SWT yang Maha Mengasihi dan Maha Pemberi

Foto : www.dailymoslem.com

 

Karya : Dede Mulyanah