Bintang Penghias Malam

Dedeh Badrullaela
Karya Dedeh Badrullaela Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Bintang Penghias Malam

"Papa, bangun. Udah siang nih!!!"

Hooaamm.. Aku masih mengantuk ketika anak gadisku, Najma membangunkanku.

Ia menatapku yang masih terbaring. Tangannya terus saja menggoyangkan kakiku. Aku mencoba membuka mata, lantas tersenyum melihat tingkahnya yang -tetap- lucu.

-------

Pagi itu berjalan seperti biasanya. Pukul 02.00 aku sudah memulai aktivitas, menyiapkan adonan kue yang pada proses pembakarannya dilanjutkan oleh istriku. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya menyukai pekerjaan sampingan ini, namun demi memenuhi kekurangan finansial, aku harus melakukannya. Memang, aku telah memiliki pekerjaan tetap, tetapi gajinya tidak seberapa. Ditambah dengan jarak tempuh ke tempat kerja yang cukup jauh, aku kesulitan. Apalagi sejak 10 bulan silam aku telah memiliki pendamping.

"Lisna, tolong hari ini kamu yang mengantarkan dagangan. Aku sedang banyak pekerjaan," pintaku pada Lisna, di suatu pagi.

"Mas gimana sih, mencari nafkah kan tugas mas, bukan tugasku," tolaknya.

"Cuma mengantarkan, Lis. Tidak seberapa. Selama ini akupun selalu melakukan apa yang kamu inginkan. Kamu wajib mematuhi suamimu, Lis! Aku...." tercekat, kuhentikan pembicaraan untuk menghindari intonasi yang lebih tinggi.

Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya. Tuhan, aku telah menyakiti dia, padahal selama ini aku belum pernah membuatnya bersedih.

"Maaf," ucapku datar.

Dia berbalik menuju kamar. Aku hanya bisa mendengarkan tangisannya.

Sungguh, aku tidak nyaman dengan posisi ini. Semenjak menikah aku tinggal satu atap bersama mertua. Mereka masih mengatur kehidupan Lisna -dan anak-anaknya yang lain. Dilengkapi dengan sikap Lisna yang manja dan tidak mematuhiku.

-------

Hari-hari semenjak kejadian itu menjadi dingin dan kaku. Sepulang bekerja, mertuaku sedang tidak ada di rumah. Kudekati Lisna yang duduk kaku di depan televisi.

"Lis..." panggilku lembut.

Aku bisa melihat senyumannya yang -tak bisa kupungkiri- manis. Mata beningnya tajam melihatku dengan senyuman tipis dari bibir merahnya. Rambut hitam panjang terurai. Lengkap dengan kulit mulus. Cantik. Sempurna.

Aku pun duduk di sampingnya. Dengan lembut, kubuka pembicaraan.

"Lis, kamu masih sayang sama Mas?" tanyaku.

Ia hanya menjawab dengan anggukan. Datar.

"Maaf, kemarin membuatmu menangis. Rasanya ada jalan yang lebih baik untuk kita." kuhela nafas sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan. Ia hanya mengerutkan kening tanda tak mengerti.

"Mungkin aku bukan laki-laki yang cocok untukmu dan keluargamu. Lebih baik kita berpisah saja," ucapku tersengal.

"Ok. Lisna memang bukan pendamping yang baik. Silakan saja!" jawabnya ketus. Aku dapat menangkap raut kesedihan lewat matanya yang berkaca-kaca. Ia keluar, entah kemana.

"Oh, Lisna. Maafkan." batinku menangis, sesak.

Sejak itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, kecuali di pengadilan agama.

-------

13 Desember 1993

"Saya terima nikahnya Mawar Sholiha binti Mahmud dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."

Alhamdulillah ijab qabul untuk pernikahan keduaku berjalan lancar. Dua tahun semenjak perceraianku dengan Lisna, aku memutuskan untuk menikahi Mawar yang usianya 10 tahun lebih muda dariku. Rahasia Tuhan memang indah. Kami saling mengenal sejak Mawar SMP. Tak pernah terbesit sedikitpun bayangan untuk menikahinya. Ya, inilah rahasia Tuhan.

Ia sangat berbeda dengan Lisna, baik fisik maupun psikisnya. Tubuhnya tinggi, kurus -hanya 45 kg- dengan kulit sawo matang. Tidak secantik Lisna memang, namun dia lebih 'dewasa'. Lima bulan sebelum menikah, dia belajar pra nikah secara intensif. Dia pun telah berhijab.

Meskipun ia cerewet, ia begitu penurut, sabar dan pengertian. Aku sungguh menyayanginya dan bertekad inilah yang terakhir untuk hidupku.

-------

18 Januari 1995

Anak pertamaku lahir, perempuan berkulit putih mulus bermata sipit. Najma Nur Layla, nama yang kuharap akan membawa arti penting bagi kehidupannya. Kelahiran Najma menorehkan senyum kebahagiaan seluruh keluarga.

Dibalik kebahagiaanku, tanpa kusadari, butiran kristal itu jatuh membasahi pipi. Aku menyesal, tidak bisa memberikan kebahagiaan ini kepada ayah yang telah meninggal dua bulan setelah perceraianku.

"Ayah, lihat.. Aku memberikanmu cucu yang lucu, dari perempuan cantik yang ayah sayangi."

Bersamaan dengan kebahagiaan atas kelahiran Najma, aku menyadari keadaan finansialku belum stabil.

Terbukti duapuluh bulan kemudian, ketika Najma anak semata wayangku mulai disapih. Ia tidak mau makan nasi. Ia selalu minum susu. Satu kardus susu bisa ia habiskan selama tiga hari. Alamat hutang menumpuk di slip gajiku.

Bagiku dan Mawar, ini bukanlah masalah besar. Ditengah krisis finansial itu, kita harus tetap memberikan yang terbaik untuk Najma. Melihatnya tumbuh dengan cantik dan cerdas cukup meluluhkan berbagai keluhanku. Terkecuali dengan manjanya yang terkadang berlebihan dengan tangisan yang sulit dihentikan.

Pernah suatu hari aku melarang dia untuk menginap di rumah temannya. Ia pun merajuk dengan tangisannya yang menggelegar. Istriku pun mulai tak sabar dan mencubit paha mungilnya. Bukannya berhenti, ia malah memukul ringan paha ibunya. Aku yang sedari awal menahan emosi, menggendongnya dan mengurungnya di dapur selama beberapa menit. Ia memang ahli mencuri hati. Tak lama, ia menangis lebih keras dan terdengar lebih mengkhawatirkan. Tidak tega, aku segera menggendongnya kembali dengan satu kecupan hangat. Dan, ia langsung berhenti. Ya, ia hanya butuh kecupan itu. Ah, itu pengalaman paling galak dalam kisah hubunganku dengan putri kecilku.

Najma telah menjadi pembangkit semangatku. Ia begitu menggemaskan, terlebih ketika ia membangunkanku.

"Papa... Papa... Banguun.. Maca kalah ama Ama," ujarnya sembari menarik selimutku.

Hooaamm. Padahal aku masih mengantuk.

"Iya sayang, papa bangun," ucapku dan bruk. Aku tertidur. Ia tidak beranjak, malah menggelitik kakiku. Ketika itu, aku dapat melihat wajah bulatnya yang lucu. Mata hitamnya tajam dengan rambut ikal terurai. Sungguh, ia telah mencuri perhatianku dan mengembalikan semangatku untuk bekerja demi masa depan cerahnya.

Cukup lama aku terkurung dalam keterbatasan finansial. Ketika baru menikah, aku masih menumpang di rumah ibu. Maka rencana perta.aku dengan sang istri adalah membangun istana untuk keluarga kecilku. Disamping itu, aku harus membeli kendaraan demi mempermudah menjangkau tempat kerjaku. Dan satu lagi, uang pembelian susu Najma yang tak terkira.

Nyaris saja aku lemah karena permasalahan ini -meski dengan keberadaan Najma- hingga suatu hari,

"Pa, mama bahagia, mama akan selalu bersama papa dan Najma," bisik Mawar sembari mengusap lembut pipi Najma yang tertidur di pangkuanku.

Kalimat sederhana yang menjadi mesin pendorong semangatku.

Byyyaaaarrr.. Bayanganku kembali ke masa lalu bersama Lisna. Ah.

"Aku lebih bahagia, Mawar, mendapatkan pendamping sesempurna dirimu," bisikku sembari menggenggam erat tangannya.

Mawar, bidadari yang Allah pilihkan untukku.

-------

"Papa, ayo Pa, bangun!" dengan sedikit keras Najma membangunkanku, membuyarkan bayangan-bayangan itu.

Ia tidak beranjak sampai aku benar-benar bangun. Tidak berubah sejak lima belas tahun silam. Namun, kini ia telah menjadi seorang gadis cantik, sholehah nan pintar. Bersyukur Allah telah memberikan amanah ini bersamaan dengan kelapangan finansial sehingga ia dapat mengenyam pendidikan di sebuah boarding school yang ia inginkan.

Najma Nur Layla, bintang penghias malam-malamku, bintang hatiku, semoga kau selalu bersinar untukku dan untuk mereka.

"Iya, papa bangun, sayang." ucapku dengan sesungging senyum dan mengusap kepalanya yang terbalut hijab.

?

Darussalam, 03 Oktober 2012

-Dedeh Badrullaela

?

?

*gambar diambil dari?sini

  • view 142