LGBT, Harus Bagaimana?

Dedeh Badrullaela
Karya Dedeh Badrullaela Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Februari 2016
LGBT, Harus Bagaimana?

Akhirnya aku menulis kata "LGBT" setelah sekian lama memutuskan untuk tidak menuliskannya di media sosial. Aku bungkam bukan karena pro terhadap LGBT, tetapi aku memilih cara lain yaitu merenunginya sendiri lalu melakukan tindakan yang bisa kulakukan. Sama halnya dengan peristiwa Hari Valentine, aku memilih bungkam. Bukan karena menyetujuinya, tetapi mencari jalan keluar yang tepat. Cukup dengan berdiskusi bersama teman dan kerabat terlebih dahulu, semoga dengan begitu mereka tidak merayakan hari yang tidak semestinya dirayakan.

Aku yang awam, merasa heran kenapa isu ini tiba-tiba meledak-ledak? Apakah kaum LGBT sesang gencar menularkan virusnya? Atau hanya ingin diperlakukan dengan baik? Entahlah.

Pernah mendengar ucapan seorang kawan tentang ketertarikan kepada lawan jenis, kira-kira begini, "Perempuan itu bagaimanapun tetap cantik dan akan selalu ada laki-laki yang jatuh cinta kepadanya."

Ah, ternyata kawan, ada saudara-saudara kita yang berbeda. Mereka menyukai sesama jenisnya (laki-laki dan perempuan) atau bahkan hanya menyukai sesama jenisnya. Mengherankan, bukan?

Pertanyaannya, kenapa orientasi seksual mereka bisa menyimpang? Ada yang mengatakan genetik, adapula yang mengatakan karena pengaruh lingkungan salah satunya akibat pendidikan seks yang tidak jelas dari orangtua (menurut Bunda Elly Risman, seorang psikolog dan pakar parenting yang telah mewaspadai LGBT sejak bertahun-tahun silam). Jika demikian, permasalahn LGBT tidaklah sederhana. Rumit. Sama seperti permasalahan pendidikan karakter yang terus saja berputar-putar. Dari A lempar ke B, B lempar ke C, C lempar lagi ke B. Rumit.

Kini, ramai sekali orang-orang yang menolak legalisasi LGBT atau bahkan eksistensi mereka di muka bumi. Siapa yang membolehkan, sih? Jelas-jelas agama pun mengharamkannya. Namun, banyak yang hanya ramai di media sosial, ramai menjudge ini haram-itu haram, bahkan tak jarang dilengkapi dengan caption yang kontroversial dan atau bahasa yang kasar. Banyak pula yang menyelewengkan kepanjangannya, misal jadi: Lelaki Ganteng Banyak Tilawah (pencitraan jomblo detected).

Aku tidak yakin dengan meramaikan penolakan di media sosial cukup kuat untuk menghentikan atau setidaknya menahan kampanye LGBT. Bisa jadi, malah ikut mempopulerkan LGBT itu sendiri. Ah, jangan-jangan tulisan ini pun 'salah alamat'.

Media sosial menjadi media yang paling menyenangkan bagi banyak orang -termasuk saya. Bagaimana tidak? Dengan mudahnya kita bercengkrama dengan banyak orang dan berbagi banyak informasi. Mungkin ada pula yang ingin 'numpang eksis' di media sosial, padahal di dunia nyata sama sekali tidak 'eksis'.

Bukan hanya permasalahan LGBT, tetapi juga banyak permasalahan lainnya. Orang dengan mudahnya meng-klik share dengan berbagai caption yang bagus dan persuasif tanpa ada aksi nyata. Ada yang dengan mantapnya memposting kerusakan alam akibat ulah manusia yang lalai lantas mengajak manusia untuk menjaga alam, tapi iapun masih membuang sampah sembarangan dan membiarkan anak serta kerabatnya membuang sampah sembarangan.

Berbagai permasalahan tidak bisa diselesaikan hanya dengan klik share tambah caption saja, lebih dari itu memerlukan aksi nyata. Mulailah dari lingkup terkecil, diri sendiri. Setelah itu, keluarga. Setidaknya, kita memberikan tauladan yang baik dan pendidikan kepada anak -keluarga- yang tepat. Tidak mustahil virus kebaikan akan menular dan menyebar luas, bukan? Jika punya kuasa untuk mengendalikan kebijakan dan banyak orang, lebih baik lagi.?

Sejatinya, tulisan ini ditujukan untuk diriku sendiri. Ya.

?

Bandung, 17 Februari 2016

-Dedeh Badrullaela

?

*gambar diambil dari?sini

  • view 245