Pahamkah Kau, Bintang?

Dedeh Badrullaela
Karya Dedeh Badrullaela Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Juni 2016
Pahamkah Kau, Bintang?

Pahamkah kau, Bintang?

Memutuskan untuk menunggu merupakan sebuah tindakan besar bagiku. Menunggu kepastian yang banyak orang abaikan, banyak orang memilih jalan tercepat untuk mencapai kepastian, yaitu dengan mencari kepastian itu sendiri.

Dan aku, memutuskan untuk menunggu -ditengah kedatangan orang-orang yang menawarkan kepastian. Ah, sejatinya kepastian itu sendiri adalah ketidakpastian.

Memutuskan untuk menunggu, barangkali buah dari sisi egoisku sendiri. Egois dengan keyakinan yang tak pernah terpatahkan –oleh siapa dan apapun. Egois dengan hasil konsultasiku dengan Tuhan. Bukankah keyakinan itu melebihi rasa cinta yang banyak orang agung-agungkan?

Mungkin aku tidak sepenuhnya menyukaimu, hanya saja segenap hatiku meyakini “akan lebih baik jika aku bersamamu.” Mungkin aku akan merelakan orang lain bersamamu –jika itu terjadi, hanya saja segenap hatiku meyakini “kau tidak akan lebih baik jika bersamanya.”

Maka semoga kau paham, Bintang, memutuskan untuk menunggu bukanlah hal sederhana.

30 bulan bukan waktu yang sebentar untukku membaca dirimu, dengan segenap keraguan –pada mulanya. 30 bulan yang mematangkan keyakinan bahwa kaulah orangnya.  30 bulan yang melahirkan kekhawatiran, kalau saja aku bukanlah orangnya. Kamu Bintang, dirimu yang kukhawatirkan melebihi kekhawatiran terhadap diriku sendiri. Kekhawatiran akan kehancuran dirimu sendiri jika bersama yang lain.

Tahukah kau, Bintang?

Sebisa mungkin kutahan sakit hatiku ketika kau kembali mengulur waktu kita, kembali berbuat sesukamu –bukan kita. Menyakitkan, sungguh. Ketika orang yang bertanggung jawab atasku telah mempersiapkan diri untuk melepas tanggungjawabnya kepadamu, ketika semua telah siap menyambutmu, lalu kau berbuat sesukamu. Tuhan.. Tapi siapa bisa mengubah keyakinanku bahwa kaulah pendampingku? Demi apa aku masih berusaha menyunggingkan senyuman didepanmu sedang dadaku sesak mendengar pernyataanmu, kalau bukan karena kesungguhan untuk mengabdikan hidupku padamu? Pahamkah kau, Bintang?

Baiklah, kita tidak bisa mengubah takdir. Tetapi kita bisa “merayu” Tuhan untuk merealisasikan semuanya. Aku tidak meminta banyak darimu, hanya mari menuju titik yang sama. Urusannya tidak lagi aku, kamu tetapi KITA. Semoga kau paham, Bintang.

Dan ketika orang-orang mengabaikanmu, maka pahamilah, aku tetap disampingmu dan tetap menjadi orang pertama yang mengagumimu.

  • view 90