Teruntuk : Baginda Rasulullah, shallallahu alaihi wasallam.

Debu Semesta
Karya Debu Semesta Kategori Renungan
dipublikasikan 18 Mei 2018
Teruntuk : Baginda Rasulullah, shallallahu alaihi wasallam.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepadamu...

Apakabar, ya Rasulullah?
Bagaimana kehidupan disana, ya Rasul?

Pertama - tama, aku ingin meminta maaf.
Maafkan aku yang mengaku sebagai umatmu, tapi Bahasa Arabku hanya sebatas afwan dan na'am.
Maafkan aku yang mengaku sebagai umatmu, namun masih banyak perilaku bejat dibanding bertaubat.
Maafkan aku yang selalu mengharap syafaatmu, namun kerap kali hanya sekedar ucap. Seolah bersembunyi dibalik 'pakaian kebaikan' atau sekedar  'kewajiban' menyapamu dalam urutan sambutan.  Aku memimpikan syafaatmu, namun alam bawah sadarku tak pernah mengundangmu untuk bertamu di bunga tidurku. 
Menjadi kepanjangan tangan dan mulutmu menjadi citaku,
namun kusadar ilmu ku belum seberapa dan waktuku masih penuh dengan sia. 
Oh, sungguh. Kumerasa tak pantas... Maafkan aku ya Rasul. Tapi satu yang aku tau dari setitik iman ini, ia kan terus merawat namamu jadi yang pertama dan utama, ketika aku ingin mencari sosok teladan terhebat sepanjang masa. Dalam hal apapun, dalam situasi apapun...

Yaa Rasulullah, bagaimana hidupmu disana?
Aku ingin bercerita ya Rasul. Bercerita tentang dunia yang telah lama kau tinggalkan. Bercerita tentang negeriku. Bercerita tentang umatmu...........

"Maha benar Netizen dengan segala gerakan jempolnya"
Aku lelah.
Aku lelah mendengar semua ocehan itu.
Kutengok ke kanan, mereka menjelekkan sebelah kiri. Kutengok ke kiri, mereka menjelekkan sebelah kanan,
Mereka saling menjatuhkan!
Semua pihak berteriak paling benar! Semua pihak saling memaksakan! Etnosentrisme extrem tak terelak kan
Aku lelah pada yang tak mengakui golongannya atas kebodohan yang telah dilakukan, Seolah mencuci tangan atas kesalahan yang telah dilakukan. yang memang kuakui itu memalukan. 

Bukan.
Bukan berarti aku tak miliki pendirian. Percayalah, semua orang memiliki kecenderungan- ini hanya soal mengungkapkan.
Bukan,
Bukan berarti aku tak miliki teman. Pun bukan berarti aku tidak percaya pada mereka.
Hanya saja, ada waktu dimana seseorang ingin sendiri bukan? Ya, sepertiku.

Bolehkah aku miliki waktu ku?
berlepas diri dari semua hal yang mengelilingiku,
mendengar suara hatiku,
dan berdaulat dengan diriku?

Tentu saja aku tidak benar-benar ingin sendiri. Namun situasi memaksaku untuk menutup telinga dan mataku, melihat kembali ke dalam hati, dan menyediakan seluas luas ruang untukmu ya Rasulullah.
Kepercayaanku jatuh utuh hanya kepadamu.

Ya Rasul, aku memang masih jauh dari kata menteladanimu. Bahkan, mungkin mendekati level iman dari para sahabatmu pun masih terlalu jauh untukku. Tapi ya Rasul, bolehkah aku menangis? Bolehkah aku meratapi keadaan yang sedang terjadi kini? Sungguh, dalam diamku aku menjerit. Aku marah. 

Mengapa hati ini tak mampu untuk berada di dua sisi, namun seolah sulit untuk bertahan di salah satunya?
Haruskah aku memilih salah satu dari keduanya, ya Rasul?
Apakah kita akan selalu melihat sesuatu dengan dikotomis : kawan dan lawan?

Atau, aku hanya butuh keberanian untuk mengungkapkan?
Kapan kah waktu yang tepat itu, ya Rasul?
waktu yang tepat menganggap mereka lawan disaat mereka adalah kawan?
pun waktu yang tepat menganggap mereka kawan disaat mereka adalah lawan?

Oh, benarkah kita benar-benar tidak bisa untuk tidak menyakiti yang lain?
Tapi, bukankah setiap apapun pilihan yang kita ambil akan selalu ada pro dan kontra beserta fanatisme nya?
Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita, bukan begitu kah ya Rasul?

Oh Rasulullah, Manusia terbaik sepanjang masa, Rahmat bagi alam semesta...
Apa yang kan kau lakukan jika engkau masih hidup di zaman ini ya Rasul? 
Bagaimana engkau menyikapi keadaan yang runyam ini?
Apa yang kan kau katakan kepada umatmu- untuk lembut dalam ketegasan? Untuk tetap berada di jalan yang benar tanpa merasa paling benar?
oh benarkah kebenaran yang haqiqi adalah sebuah perasaan yang tak mungkin diungkapkan? Agar kebenarannya tidak menguap menjadi sebuah keangkuhan?

Allahuma sholi ala sayidina Muhammad wa ala alihi sayyidina Muhammad.
Aku akan terus belajar ya Rasul. Aku akan terus belajar hingga dapat gunakan perspektifmu- kebenaran terbaik versimu.

Terimakasih telah mendoakanku bahkan sebelum kita bertemu, sebelum aku meminta padamu.
Terimakasih telah mengingatku di detik-detik terakhir dalam hidupmu.
Terimakasih telah meninggalkan ajaran terbaik dan semua teladanmu.




Semarang, 18 Mei 2018 pukul 01.48 a.m. , Ramadhan hari kedua.

Tertanda,
aku yang merindukanmu, yang semoga kau mengenaliku sebagai umatmu.
Kisa Adentia

 
"Sah-sah saja Anda memperdebatkan versi kebenaran mana yang paling sahih dan valid. Sah-sah saja Anda tidak terima dengan tuduhan pihak lain yang merugikan kubu Anda. Tetapi, masih adakah ruang di dalam diri kita untuk melihat persoalan secara lebih arif dan bijaksana? Bahwa ada kemungkinan kesalahan yang diperbuat oleh mereka yang berasal dari kelompok kita sendiri… Sekaligus ada ruang kebenaran di seberang sana meskipun itu datang dari pihak yang tidak kita sukai. Jangan sampai, kita menjadi sekelompok orang buta yang berdebat tentang definisi gajah padahal semua dari kita sedang memegang tubuh gajah itu—hanya saja di bagian yang berbeda-beda." (Fahd Pahdepie)

  • view 80