Antara Larantuka dan Adonara

Sarif Suksin
Karya Sarif Suksin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Februari 2018
Antara Larantuka dan Adonara

          Antara Larantuka dan Adonara


(Suasana langit diatas laut di muka pelabuhan Larantuka tenang seperti biasanya, tanpa angin yang berhembus kencang. Sementara diatas perahu, diatas permukaan laut tenang itu, ada perjalanan antara Larantuka dengan pulau Adonara.
Rasanya, memang laut antara Larantuka dan Adonara selalu tenag.
Kondisi laut yang tenang, birunya laut dan jernihnya air laut hingga berpuluh meter ke dalam laut yang dapat dijangkau mata, menguatkan Ama, untuk membawa kewa menempuh perjalanan laut ke Adonara)
(Masih terbayang di pelupuk mata Ama, bagaimana di muka kapela Tuan Ma kemarin, Kewa bertanya pada dirinya, sambil tangan kewa sebelah kanan, bergelayut di tangan kiri Ama)
Kewa : Pulau apakah itu Ama, di depan kita? (bertanya sambil melihat ke arah pulau Adonara)
Ama : Itu namanya Pulau Adonara ( jawab Ama singkat).
Kewa : Rasanya demikian dekatnya (Gumamnya, nyaris tak terdengar. Namun, bagi Ama, itu adalah sebuah permintaan, jika ingin mengunjunginya)
Ama : Besok kita akan mengunjungi sayang (demikian bisik ama di telinga Kewa).
Kewa : Akh… Ama... (hanya itu kalimat yang dikeluarkan Kewa, namun cengkeraman tangannya pada tangan Ama semakin kuat, kepala itu, merebah ke pundak Ama)
Ama : Kita akan sewa perahu dengan dua awak sekaligus, agar kompartable, agar kita bisa terlayani bagai Ratu dan Raja (bisik ditangan Kewa).
(Tak Ada jawaban, hanya cengkeraman tanga itu semakin kuat dirasa Ama.
Kini, diatas perahu besar ini, Kewa dan Ama sedang menyusuri selat antara Larantuka dan Adonara. Tiba-tiba, angin bertiup kencang, blazer Kewa yang sejak tadi hanya dijinjingnya, terbawa angin kencang, melayang-layang dan akhirnya menyentuh perairan laut selat Adonara. Refleks, Ama melompat ke laut, mengejar Blazer Kewa)
(Terjadi kepanikan diatas perahu, Blasius segera memutar haluan mengarahkannya pada posisi Ama, Herman menyediakan tali kapal dan menghubungi penjaga pantai. Sementara Kewa dengan penuh kekhawatiran berdiri dipagar geladak, tak tahu harus berbuat apa)
(Siang belum sepenuhnya tiba, masih sekitar pukul sepuluh WITA, di Jalan Sudirman Larantuka, dimana RSUD Larantuka berada, Kewa dan Ama sedang duduk-duduk di selasar RSUD.
Kejadian kemarin, di perairan laut selat antara Larantuka dan Adonara, tak membuat Ama cidera. Patroli Polisi yang kebetulan lewat, membuat semuanya jadi repot. Ama harus dibawa ke RSUD lalu di visum, memastikan semuanya baik, tak kurang suatu apa.
Siang nanti Ama harus kembali lapor ke Kantor Polisi, untuk membuat keterangan tertulis. Tentang apa sesungguhnya yang terjadi kemarin).

Kewa : Ama.... (Kewa, menggeser duduknya, menyajikan secangkir kopi Bajawa hangat pada sang suami)
Ama : Ya, sayang, (jawab Ama).
Kewa : Kenapa sih, harus nyebur ke laut? (tanya Kewa terhadap suaminya)
Ama : Hehehe… aku hanya ingin buktikan ke Kewa (jawab Ama)
Kewa : Buktiin tentang apa, Ama ?
Ama : Kalo hanya Blazer saja, aku bisa menjaganya, apalagi untuk sang pemilik Blazernya.
Kewa : Ohhhhh….(Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Kewa. Kewa sangat tersanjung dengan kalimat Ama terakhir)
(Selanjutnya, tak dibutuhkan kata-kata. Sepasang pangantin remaja itu hanyut dalam dunianya. Karena, sesunggunya, tak seluruh rasa yang ingin diungkapkan, harus dinyatakan dalam bentuk kata-kata.
Sepasang pengantin baru itu, hanyut dalam pelukan bahagia)

 

 

  • view 64