The Butler Movie

Daynenoe
Karya Daynenoe  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2016
The Butler Movie

Tema?perlawanan orang-orang kulit hitam untuk menjadi setara dengan kulit putih?telah menjadi ide yang terbilang sering digali oleh para sineas film dunia.?Masing-masing berusaha menggambarkan warna-warna kelam yang dialami black people hanya karena budaya yang menempatkan mereka pada strata lebih rendah.

Salah satu kisah nyata yang diangkat dalam layar lebar adalah The Butler,?The Butler ditulis oleh Danny Strong, setelah ia terinspirasi dari kisah nyata kepala pelayan White House bernama Eugene Allen berdasarkan artikel Washington Post berjudul ?A Butler Well Served by This Election? karya Wil Haygood yang diterbitkan tahun 2008 lalu. Bersama sutradara Lee Daniels, mereka berdua mengembalikan kehidupan Eugene Allen ke layar bioskop dengan karakter fiksi Cecil Gaines yang diperankan oleh Forest Whitaker.

Cecil Gaines?adalah simbol ketidakberdayaan seorang warga AS berkulit hitam di sebuah negeri yang konon selalu mengedepankan pentingnya penghormatan atas hak-hak asasi manusia (HAM). Sebuah negeri yang sudah sering kita dengar telah terbiasa dan bisa menjunjung tinggi peradaban sosial zaman modern: kesetaraan hak dan harkat manusia di depan negara dan hukum.?Namun itu hanya terjadi di tataran diskursus politik. Realitas politik yang sebenarnya terjadi di perkebunan kapas dimana cerita film ini dikisahkan.
?
Cecil kecil menyaksikan bos ladang kapas, Thomas Westfall (Alex Pettyfer) melampiaskan hasrat seksualnya ke ibu Cecil, Hattie Pearl (Mariah Carey).?Sang ayah, Earl Gaines (David Banner) hanya mampu menahan gejolak di dada melihat istri diperkosa. Bahkan menasihati Cecil junior untuk menerima nasib sebagai pekerja di ladang kapas. Gaines meregang nyawa di tangan pemilik kapas di depan Cecil junior.?Setelah pemerkosaan itu, Hattie mulai terganggu kejiwaannya. Cecil kemudian menjadi pelayan di rumah Thomas dan diurus oleh Annabeth (Vanessa Redgrave), pengurus rumah tersebut. Namun di usia remaja, ia akhirnya memutuskan pergi mencari kehidupan lebih baik.
?
Cecil kecil mulai bekerja sebagai pelayan toko, sampai akhirnya bekerja di sebuah hotel di Washington DC.?Cecil kemudian menikah dengan Gloria Gaines (Oprah Winfrey). Lahirlah dua anak laki-laki bernama Louis (David Oyelowo) dan Charlie (Elijah Kelley).
?
Cecil mulai mengabdi di Gedung Putih sebagai pelayan pada 1952. Ketika itu, pergerakan hak asasi manusia mulai memanas.?Pelecehan ras tak hanya di ladang kapas. Cecil senior juga merasakan pelecehan bahkan ketika menjadi pelayan di gedung putih. Cecil tampil memperjuangkan rasnya. Perjuangan mendapatkan kenaikan pangkat dan upah setara kulit putih dilakukan di kediaman Presiden AS.?Pekerjaan impian bekerja di Gedung Putih tak seindah yang dibayangkan. Karena tuntutan kerja, Cecil senior mulai telat pulang rumah. Istrinya kesepian dan memilih alkohol sebagai pelarian. Dua anaknya juga kehilangan kasih sayang ayah.?Anak bungsu Cecil meninggal di medan perang di Vietnam. Putra pertamanya keluar-masuk penjara sebagai aktivis kesetaraan hak kulit hitam. Keluarganya berantakan.?
?
Film ini mengalir dengan lambat namun tidak membosankan. Saya menikmati setiap adegan sembari menghubung-hubungkan dan merenung. Ya, seolah-olah ada jeda yang disediakan bagi penonton untuk berpikir. Perjuangan jangka panjang yang dijalani Cecil, perlawanan meledak-ledak ala anak muda dari Louis, serta kegelisahan Oprah Winfrey, yang berperan sebagai Gloria. Semua itu campur aduk dan menghasilkan perasaan yang berbeda-beda.?
?
Cecil, tanpa sadar telah melawan. Meskipun bagi keluarganya ia seperti?larut dalam kegembiraan palsu. Tidak, bagi saya, ia menolak dengan sangat santun. Ia meminta perbaikan status, dari pelayan menjadi teknisi, dengan cara yang elegan. Tak kenal putus asa. Tak marah jika tak digubris. Ketenangan seperti ini jarang dimiliki dalam dunia yang begitu hiruk pikuk dan berharap jawaban secepat angin. Ia tenang berdiri, tak tergoyahkan, dan tetap melawan meskipun hanya dalam kebisuan.
?
?

  • view 129