Insiden Jum'at

Insiden Jum'at

Daynenoe
Karya Daynenoe  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
Insiden Jum'at

Ceritanya begini? hmmm saya deskripsikan dalam bentuk perincian saja biar?agak mudah

* Orang-orang Shalat jum'at di Masjid
* Anak-anak kecil sibuk bermain, ribut dan sesekali berlarian di Masjid
* Tiba-tiba Seorang dari generasi tua angkat bicara dengan suara tinggi -yang membuat saya dan yang lainnya terkejut- dan langsung memarahi para anak kecil yang unyu-unyu itu.

Peristiwa ini buat saya sebal dan seperti biasa kesebalan sering mengundang otak saya bekerja dengan cara yang aneh. Sebenarnya saya pun heran apa yang saya sebalkan? apa peduli saya ??

Betapapun saya bersikap tidak peduli ?tetap saja saya jadi kepikiran. Mengapa saya sebal??

Karena Shalat Jum'at di Masjid ? hmmm kayaknya nggak deh. Ngapain saya sebal sama Jum'atan, wong saya nggak dipaksa kok. Murni niat sendiri mau shalat, terlepas dari kontroversi seputar jum'atan di kampung saya..

Karena Anak-anak kecil unyu itu ? hmm gimana ya. Saya pribadi sih nggak ada urusan sama mereka. Walaupun terkadang saya tidak suka keributan.?


So,, ada yang salah dengan itu ??

Ya iyalah, ngapain coba di Masjid. Apa nggak ada tempat lain, di luar kek atau di jalan sono yang nggak ada orang shalatnya.

Benarkah begitu ??

Saya rasa ada yang kurang. Anak kecil itu ke Masjid bisa jadi ikut orang tuanya atau disuruh orang tuanya dan seperti biasa Orang tua suka marah kalau anak tercintanya yang seharusnya ke masjid malah keluyuran kemana-mana. Jadi kayaknya anak kecil itu punya rasa amanah yang cukup tinggi untuk tetap pergi ke masjid sesuai anjuran orang tuanya atau mungkin bisa jadi karena ketakutan jadi Monyet?seperti yang sering mereka dengar jika ngak pergi jum'atan. Mengapa mereka harus dipermasalahkan dengan sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja ada pada mereka?


Kemungkinan terakhir, saya sebal sama Satu Orang tua yang tiba-tiba memarahi anak-anak itu. Umurnya nggak tua-tua amat tetapi saya yakin umur begitu paling tidak sudah bisa punya anak?tiga. Begini Pak, untuk apa sih marah-marah. Apalagi dengan suara yang bikin saya dan orang lain terkejut. Namanya juga anak-anak, jika saya berada dalam sudut pandang mereka maka saya dapat memakluminya. Mereka, maaf belum mengerti banyak hal yang sudah dimengerti oleh anda wahai para Kaum tua. Mereka lebih butuh banyak pelajaran dan senyuman bukan kemarahan yang saya rasa malah menyebarkan ketakutan.

Beberapa orang tua sepertinya terbiasa dengan Metode instan dalam mendidik, tinggal marah dan bila perlu diancam maka semua beres. Pendidikan gaya horor begitu nggak menarik buat saya dan hasilnya tidak memuaskan. Lihatlah anak-anak itu cuma terdiam sebentar mungkin karena ketakutan dan setelah berlalu beberapa menit semuanya kembali ribut seperti semula.

Anda wahai para Kaum tua mungkin punya sejuta alasan untuk tidak suka dengan anak-anak kecil yang ribut di masjid. Mungkin anda merasa ritual anda terganggu alias anda jadi nggak khusyu?. Ok itu masalah anda, tapi lihat baik-baik apa yang anda tunjukkan. Saya rasa malah jauh lebih buruk. Seharusnya anda sebagai kaum tua harus menjadi contoh untuk dapat menahan diri dari kemarahan yang seperti itu. Saya melihat itu sangat tidak pada tempatnya. Saya berpikir Tuhan mungkin lebih memaklumi anak kecil itu dibanding sikap yang anda tunjukkan.

* Anda marah-marah dengan suara keras pada anak kecil di rumah Tuhan.
* Anda sudah tidak bisa menahan emosi karena suatu kewajaran.
* Anda sama saja juga mengganggu ritual ibadah orang lain tapi bedanya mereka Anak kecil belum mendapat porsi besar pengetahuan soal apa yang seharusnya mereka lakukan.

Bukankah kita punya banyak cara yang lebih baik untuk memberi pengajaran dan saya yakin anda para Kaum tua punya banyak pengalaman dan kompetensi soal ini. Satu-satunya kendala hanyalah emosi dan tidak sabaran. Cuma itu saya rasa

Sebelum mengakhiri saya mau memaparkan bagian yang hilang disini, yaitu Para Orang Tua Mereka. Boleh saja anda atau siapa saja berharap agar mereka anak-anak kecil itu jangan ribut ketika orang sedang shalat. Tetapi tentu kita harus berusaha keras untuk itu. Beritahu pada mereka para Orang Tua anak-anak itu agar mereka berusaha keras untuk mengajarkan tatacara atau adab atau apapun yang diperlukan. Saya curiga sepertinya setelah pulang maka masalah ini malah terlupakan dan lenyap dalam ketidakpedulian. Di rumah para orang tua akan kembali sibuk dengan masalah rumah dan anak-anak kecil seperti biasa menonton atau langsung tidur. Susah memang dan kalau nggak mau maka jangan banyak menuntut.

Ah akhirnya saya tahu mengapa saya kesal, mungkin karena saya lapar !!?


  • view 124