YAKUZA BERPOLITIK

David Sirait
Karya David Sirait Kategori Politik
dipublikasikan 19 Januari 2018
YAKUZA BERPOLITIK

Jepang merupakan negara yang paling rentan terkena bencana khususnya Gempa bumi dan Tsunami. Masih segar dalam ingatan kita, Bencana alam Tahun 2011 terjadi gempa bumi yang berkekuatan 9 Skala Richter yang meluluhlantakkan Jepang. Gempa bumi dengan Kekuatan 9 Skala Ritcher ini, mencatat sebagai gempa bumi terkuat di Jepang sepanjang sejarah dan bahkan menjadi gempa terbesar keempat di dunia. Gempa bumi ini diikuti dengan gelombang Tsunami di ketinggihan 10 Meter. Gempa ini menimbulkan peringatan tsunami untuk pantai Pasifik Jepang dan sedikitnya 20 negara, termasuk seluruh pantai Pasifik Amerika dari Alaska ke Chili

Gempa bumi dan tsunami ini telah menimbulkan berbagai kerusakan parah di beberapa wilayah Jepang. Terjadi kehancuran Infrastruktur mulai dari rumah, pelabuhan, bandara, jalur rel kereta api hingga beberapa pembangkit listrik mengalami kebakaran. Yang lebih mengerikan lagi, gempa bumi dan Tsunami ini, mengakibatkan kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukusima. Berdasarkan penelitian, radiasi kebocoran tenaga nuklir di Fukusima dapat berdampak pada kerusakan sel-sel tubuh yang menimbulkan penyakit semacam leukimia atau kanker hingga dampak kerusakan lingkungan. Sementara itu, Tokyo Broadcasting System (TBS) dan Japanese National Police Agency mengkonfirmasi sebanyak 15.269 tewas, 5.363 luka dan 8.526 hilang akibat gempa bumi dan Tsunami 2011 di Jepang.

Tak lama berselang pasca gempa bumi dan tsunami di Jepang tersebut, Kelompok-kelompok Yakuza memberikan bantuan kepada korban. Kesigapan para Yakuza, bahkan mendahului kuncuran bantuan dari pemerintahan maupun dari negara-negara asing. Kantor-kantor Yakusa, mengklaim sebagai pusat-pusat bantuan logistic semacam makanan, minuman, obat-obatan dan selimut.

Inagawa-Kai, kelompok Yakusa ketiga terbesar di Jepang, mengirimkan bantuan 25 truk dengan kapasitas masing-masing empat ton mengangkut popok kertas, ramen (sejenis mie instan), lampu pijar, baterai dan minuman.
Eksekutif Sumiyoshi-kai, kelompok Yakusa kedua terbesar di Jepang, selain mengirimkan berbagai barang ke lokasi bencana, juga menyediakan tempat bagi warga asing. Sementara kelompok terbesar atau penguasa no.1 Yakuza di Jepang, Yamaghuci-gumi, tidak mau ketinggalan. Kelompok ini membuka kantor-kantor di seluruh wilayah terkena bencana untuk menyalurkan bantuan kepada korban.

Jika kita kalkulasikan dana yang dikeluarkan kelompok-kelompok Yakuza untuk penanggulan bencana tersebut, angkanya sangat funtastis yaitu mencapai 1,1 Miliar Yen. Bagi kita, hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Sebab, pandangan kita bahwa Yakuza adalah kelompok preman, criminal yang terorganisir dan tentunya sangat ditakuti di Jepang. Namun jika kita menelisik, ternyata kegiatan-kegiatan filantropi (kemanusian) yang dijalankan Yakuza, sudah lama dijalankan di Jepang. Kegiatan-kegiatan filantropi Yakuza, tak ubahnya seperti program-progam kapitalis yang memberikan bantuan-bantuan kepada fakir miskin, atau melalui kegiatan program CSR atau CD.

Akan tetapi, apakah dengan kegiatan-kegiatan filantropi Yakuza, mereka dapat menghapuskan “dosa-dosanya” di Jepang? Tentu saja Tidak. Banyak beranggapan bahwa kegiatan filantropi di Jepang hanyalah taktik Yakuza untuk menutupi aksi-aksi kriminalnya hingga dijadikan sebagai kelompok paramiliter untuk menjaga kekuasaan di Jepang. Artinya kegiatan filantropisnya tidak sebanding dengan kejahatan yang dilakukannya.

Muncul lagi pertanyaan, apakah kelompok Yakuza sebatas organisasi di dunia hitam? Lantas bagaimana kaitannya dgn dunia berpolitikan?. Hal ini menjadi menarik untuk kita ulas sebagai fondasi untuk berbagi informasi, analisa tentang Yakuza dan Politik di Jepang.

Yakuza pertama kali muncul di Zaman Edo atau awal zaman modern-kapitalisme di Jepang. Yakuza ini, sedari awal tidak terlepas dalam perebutan kekuasaan untuk menduduki “Shogun”. Fase ini diikenal dengan Perang Sekigahara. Perang tersebut berawal dari perselisihan daimyo (penguasa wilayah pada zaman feodal) dari kedua keluarga tersebut untuk memperebutkan kekuasaan dan kedudukan shogun sebagai pengganti Toyotomi Hideyoshi yang meninggal pada tahun 1598. Menurut tradisi, yang berhak mewarisi kedudukan shogunadalah putra dari Toyotomi Hideyoshi, yaitu Toyotomi Hideyori. Namun kekuatan Tokugawa Ieyasu semakin hari semakin kuat dan hal tersebut membuat khawatir keluarga daimyo Ishida Mitsunari (1560-1600) yang merupakan pendukung Hideyori Ieyasu. Karena kekhawatiran tersebut, Ishid a Mitsunari kemudian mengumpulkan pengikutnya untuk menjatuhkan Tokugawa Ieyasu. Tetapi Tokugawa Ieyasu tidak membiarkan begitu saja, sehingga perselisihan diantara daimyo-daimyo pendukung keluarga tersebut semakin memanas dan akhirnya terjadilah perang Sekigahara.

Perang Sekigahara dimenangkan oleh Tokugawa Leyasu. Dia kemudian mendirikan pemerintahan Bakufuyu dan diangkat menjadi Shogun di Edo (Tokyo). Setelah kejadian perang ini, samurai kehilangan tuan dan menganggur, sedangkan mereka adalah persis semacam tentara. Samurai yang tidak bertuan ini kita kenal dengan sebutan Ronin. Karena tidak ada pekerjaan, maka ronin ini banyak menjadi perampok, menebar terror dan menjadi pembunuh bayaran. Para ronin pengangguran tersebut membentuk beberapa kelompok dalam melakukan aksinya dan menamakan dirinya kabuki-mono. Untuk melawan kabuki-mono, shogun membentuk Machi-yakko yang terdiri dari pedagang, seniman, pelajar, buruh. Kelompok Machi Yakko dianggap sebagai pasukan kota yang menjaga masyarakat dan kekaisaran.

Pada akhirnya, kelompok kabuki-mono dapat dikalahkan. Hal ini membuat Machi Yakko kehilangan pekerjaan dan gelar pahlawan kota yang mengabdi kepada Kaisar. Karena tidak ada pekerjaan lagi, maka kelompok Machi Yakko menjelma menjadi tekiya (pedagang keliling) dan penjudi (bakuto). Namun ketika mereka menjadi pedagang, mereka melakukan tindakan-tindakan penipuan baik kepada pembeli maupun sesama pedagang. Nah, kedua kelompok inilah disebut sebagai Yakuza tradisional.

Terminologi ‘Yakuza’ berasal dari sebuah permainan kartu hanafuda (kartu bunga) yang dimainkan oleh kelompok bakuto (penjudi). Dalam permainan kartu ini, para pemain dibagi tiga buah kartu. Jumlah angka yang mereka pegang berasal dari angka terakhir dari jumlah angka keseluruhan dalam kartu yang mereka miliki. Apabila dalam permainan seorang pemain mendapatkan total angka dari kombinasi kartu yang dimiliki berjumlah 20, maka pemain tersebut dianggap kalah. Angka terakhir merupakan angka penentu, dan angka 0 merupakan angka yang paling buruk. Kombinasi tiga angka terburuk yang menghasilkan nilai 20 adalah angka 8, 9, dan 3. Ketiga angka tersebut dalam bahasa jepang dibaca ya-k u-sa.

Jika melihat kesejarahaan munculnya kelompok Yakuza di Jepang, berasal dari golongan-golongan klas bawah yang didominasi para pengangguran. Akan tetapi, yakuza juga ternyata berasal dari kalangan-kalangan menengah-atas terutama yang akan menjadi pemimpin sindikat. Pada masa itu, kaisar Tokugawa mengandeng kelompok Yakuza tradisional ini untuk mengamankan kekuasaannya dari para pemberontak (baca; rakyat). Tuan-tuan tanah juga sudah mulai merekrut yakuza tradisional untuk menguasai lahan-lahan di Jepang. Demikian pengusaha-pengusaha local semacam bos konstruksi menggunakan jasa Yakuza tradisional menjadi petugas keamanan mulai dari urusan untuk pembebasan lahan yang berkonflik dengan masyarakat, hingga proyek selesai.

Yakuza tradisional sedari awal mengembangkan serangkaian aturan mencakup ketaatan mutlak pada kerahasiaan organisasi, kepatuhan pada sistem oyabun-kobun (atasan-bawahan) dan urutan kedudukan yang menentukan status dan peranan dalam kelompok dan aturan serta tradisi ini berlaku dalam organisasi yakuza sampai sekarang. Promosi jabatan biasanya didasarkan pada performa anggota selama terjadi tawuran antar geng. Apabila ada yang melanggar aturan maka akan dikenakan sanksi. Pengusiran dari geng atau pencabutan status anggota. Ada kesepatan antar kelompok yakuza bahwa anggota yang terusir tidak dapat diterima dikelompok manapun, termasuk di kelompok lawan. Jika anggota sudah diusir, maka khabar itu akan disiarkan ke kelompok-kelompok Yakuza di Jepang. Selain itu, sanksi yang terkenal adalah yubitsume. Yubitsume adalah hukuman dengan cara memotong ruas jari kelingking tangan.

Para boz-boz Yakuza mulai mengembangkan dunia hiburan, selain bergerak di bidang jasa pengamanan. Tempat-tempat perjudian kemudian berkembang di kota-kota. Secara bersamaan, obat-obatan, minuman keras hingga prostitusi telah menyebar di kota-kota terutama di Tokyo. Kaisar Tokugawa semakin memberikan keleluasaan kepada Yakuza. Selain Yakuza menjaga kekuasaan keamanan kaisar dari ancaman pemberontakan, bisnis-bisnis yang dijalankan Yakuza juga memberikan pajak pemasukan bagi kaisar. Kaisar pun mengintruksikan kepada para pengusaha local dan tuan tanah, agar mengunjungi tempat-tempat hiburan yang didirikan Yakuza.

Ketika Jepang memasuki era modern, Yakuza masih tetap eksis. Dunia hiburan masih menjadi pusat para yakuza, selain jasa pengamanan. Aturan yang seolah-olah diciptakan melarang perjudian, obat-obatan, minuman keras dan prostitusi. Hal ini, mendorong yakuza untuk melakukan penyuapan kepada pihak kepolisian. Boz-boz Yakuza berusaha mendapatkan ijin secara legal. Hingga bisnis-bisnis yakuza terdiri atas bisnis legal dan bisnis ilegal. Bisnis legal merupakan bisnis yang tidak melanggar hukum sedangkan bisnis ilegal adalah bisnis kriminal. National Police Agency mengatakan bahwa bisnis-bisnis legal yakuza diantaranya adalah klub musik, pasar saham, perusahaan real estate, bank, usaha toko-toko sovenir, bar, restoran, perkebunan, klub malam, bioskop, konstruksi dan jasa pembongkaran, jasa keamanan, rumah sakit, rumah judi , penyewaan truk, hotel, pembuangan limbah, agen perjalanan, dan lainnya. Bisnis-bisnis resmi ini merupakan tameng bagi bisnis-bisnis kriminal di belakangnya. Walaupun yakuza terlibat dalam kegiatan bisnis yang sah, tetapi sebagian pendapatannya juga berasal dari bisnis-bisnis kriminal.

Yakusa dapat kita sebut sebagai organisasi kanan atau ultanasionalisme. Yakusa mempunyai kesamaan dengan organisasi-organisasi fasis di Italia, seperti misalnya organisasi Camicie Nere (baju hitam) yang diketuai Benito Musolinni. Itu sebabnya, pada proses masa perang dunia II, pemerintahan Jepang membentuk Dai Nippon Kokusui-kai (Perhimpunan Intisari Nasional Jepang Raya). Yakusa tentu menjadi kelompok yang bergabung.

Pasca perang dunia ke-2, Jepang menyerah pada sekutu. Fase ini dianggap berakhirnya zaman kekairaran. Jepang dikuasai oleh sekutu di bawah kepemimpinan AS. Usaha restorasi meiji dijadikan sebagai lompatan untuk men-demokrasi-kan Jepang dan sekaligus mengejar pertumbuhan ekonomi di bawah control AS. AS melibatkan Jepang untuk melawan pengaruh sosialisme/komunisme. “Pasca” dari pendudukan AS, perpolitikan sangat kental dengan kekuatan kanan/konservatif. Sejak itu, Yakuza malah mendapatkan kedudukan sangat besar dalam perpolitikan di Jepang. Mereka tidak hanya sebatas kegiatan dunia hiburan/ekonomi atau jasa pengamanan, Namun juga berkecimpung dalam kehidupan politik.

Kemudian bos-bos geng yakuza yang menjadi bagian dalam wadah sayap kanan bertransformasi menjadi semacam makelar politik yang disebut kuromaku. Mereka menjembatani “pekerjaan” poltiik dan bisnis. Yakuza semakin dekat dengan para elit-elit politik kanan, pengusaha. Hubungan mereka saling menguntungkan baik secara politik dan ekonomi. Artinya kampanye untuk melawan komunis sebagai ikatan identitas politik, juga sejalan untuk meraup kejayaan bisnis di Jepang.

Hingga dewasa ini, Yakuza masih menjadi organisasi ultranasionalis yang “dipelihara” kekuatan kanan dalam perpolitikan di Jepang. Bagi yakuza, terintegrasi di ranah politik membuatnya lebih mungkin melakukan berbagai lobi-lobi politik untuk melindungi diri dari jeratan hukum hingga melanggengkan bisnis-bisnis (i)legal.. Bagi politisi dan pejabat pemerintah, dengan menjalin hubungan dengan yakuza maka mereka mendapatkan bermancam manfaat. Pertama, Yakuza dapat menjadi kekuatan keamanan untuk memukul mundur masyarakat ketika terjadi konflik dengan pemerintah dan pengusaha dalam pembangunan. Artinya, yakuza sebagai kekuatan ultranasionalis yang menghambat laju gerakan rakyat. Kedua, Yakuza juga dapat dijadikan sebagai mesin politik untuk memobilisasi pemenangan dalam pemilu-pemilu dengan cara-cara pemaksaan (koersif), hingga mempertahankan kekuasaan tirani.

Dan sangat menarik, jika boz-boz Yakuza telah mulai memperebutkan kursi-kursi kekuasaan ##

Referensi;
______Dubro, Alec & Kaplan, E David (2013). Sejarah Dunia Hitam di Jepang YAKUZA. Komunitas Bambu, Depok.
Puzo, Mario (2006). The Godfather. Gramedia, Jakarta.
Shiba, Ryotaro (2010). The Last Shogun. Kantera, Jakarta.

  • view 107