Begitulah Tuhan

Wildan Muhlison
Karya Wildan Muhlison Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Maret 2016
Begitulah Tuhan

Malam tadi sesosok pria tambun terduduk termangu di teras kontrakan gubuknya,, pikirannya melayang entah kemana tak mau jua untuk segera tersadar dan kembali ke kesadarannya.

tak seperti biasanya,,?

karena sosok yang dikenal dengan panggilan "gentong" ini kesehariannya penuh dengan ide dan inovasi baru, selalu ada saja hal baru yang dia tawarkan ke orang sekitar, seakan menjadi angin segar di tengah kekakuan masyarakat perkotaan di kompleksnya.

"Hai Tong...." bisik seorang paruh baya sambil menepukkan tangan pada pundaknya

mengagetkan lamunan si gentong, mendadaklah seketika seluruh jiwa yang melanglang buana harus ditarik kembali ke raganya..

"Ealah Pak Har,, kok ngagetin aja malam-malam gini,, ada angin apa kok tumben mampir ke sini.." ketus si gentong

"angin malam yang membawaku kemari, seakan menggiringku ke tempat di mana aku harus berada.." jawab Pak Har dengan gaya pujangga gagalnya.

"oala pak pak,,,,, lagi suntuk ini pak har,, dr pagi tadi ada sesuatu yang masih betah menggeliyat di pikiran, tetap aja ndak mau beranjak dan pergi dari pikiranku pak Har...." curhat si gentong langsung to the point

Sambil membenahi duduknya, pak Har menyalakan rokok lintingannya yang sembari tadi melinting rokoknya sambil mendengarkan curhatan si gentong...

"Apa gerangan yang merisaukanmu tong,,? tumben-tumbennya dirimu yang selalu aktif tiba-tiba menjadi lesu lunglai begini.." tanya pak Har mencoba mengidentifikasi

"ah pak Har kepo ya,, tenang saja pak Har, ini gag akan lama kok dan ini hanya persoalan antara aku dan aku" pungkas?si gentong dengan mimik muka yang datar

Akhir - akhir ini memanglah si gentong ini terlihat lesu, ada sesuatu yang berkecamuk di pikirannya, setelah ditelusuri oleh pak Har, terungkaplah sudah, permasalahan yang dialami oleh si gentong.

Ternyata si gentong ini sedang dalam kontradikisi tentang pengabulan doa dan permintaan oleh Tuhan,, hal itu tampak dari secarik kertas yang penuh dengan guratan pensil di atas meja di samping kopi hitam pekat yang sudah meninggalkan ampasnya.

dan tak sengaja, terbaca oleh pak Har, saking terlalu terlenanya si gentong dengan guratan-guratan dalam pikirannya.

____________________________________

Tuhan,

apalah dayaku yang hanya menjadikanMu sebagai tempat bermunajat di kala kebutuhan hidup tengah mendesak.

apalah dayaku yang hanya bisa meyakiniMu namun tak tercermin dalam setiap hela nafas ku

apalah dayaku yang hanya bertransaksi denganMu, aku beri apa, Engkau beri apa pada ku. hanya itu.

apalah dayaku yang ibadah ritualnya selama ini terjalin hanya sekedar formalitas mengugurkan kewajiban.

apalah dayaku yang seringnya?kebaikannya selalu digunakan untuk menjadi bahan baku ria' ku pada manusia lainnya.

namun Tuhan,,

ijinkanlah aku, yang semoga masih dalam definisi dari hamba-Mu,

tidaklah aku merasa berada di tengah ketidak adilan yang nyata..

lihatlah orang di luar sana yang mungkin tak seiman dengan ku, tak sebaik dibandingkan aku, tak serajin dalam mengejar dunia,

Tapi, kenapa Engkau selalu saja tampak memberikan apa yang mereka mau, -sedangkan aku, atau mungkin janganlah aku- orang yang nyata baiknya, nyata ibadah ritualnya, nyata ibadah sosialnya, sederhana hidupnya, Engkau tetap pertahankan ia berada di kehidupannya yang tak pernah lama dihampiri oleh kata cukup.

Bantu aku ya Tuhan untuk tahu dan mengerti kegundahan pikiran yang tak berujung ini.........

_____________________________________________

Terdengar tarikan napas yang begitu dalam, sambil tetap mengebulkan kepulan asap yang beraroma khas dari tanah?Madura.

Suasana kembali tenang dan senyap, dua orang yang berada di kursi teras tersebut seakan menyelami kembali ke angan-angan dan seakan berusaha berkontemplasi dengan diri masing-masing.

di tengah heningya malam,,

Suara pak Har memecah pekatnya sunyi, sambil tetap menghisap rajangan tembakau yang terbungkus rapi dengan bara apinya yang tetap menyala.

"Tong,, ijinkan bapak menceritakan sesuatu padamu dan sekaligus padaku,,,," pak Har mencoba memecah keheningan

"Oooh,, silahkan pak Har, cerita tentang apa itu?" jawab si gentong sambil membenahi posisi duduknya.

pak Har menghela nafas dalam,,

"Kapan hari, saat bapak sedang asik duduk di teras rumah bapak,, ada pengamen yang menghampiri rumah bapak, suaranya tidak enak di dengar, liriknya pun tak jelas, irama genjrengan?gitarnya pun amburadul,?pakaiannya acak-acak, tindik'an pun sudah menghiasi seluruh wajahnya. Tanpa pikir panjang lagi Bapak ambil uang logam?di dalam saku celana sisa kembalian beli rokok, dan kuberikan kepada pengamen tersebut, lantas pengamen tersebut langsung berlalu sambil menyunggingkan senyum ketusnya,,"

pak Har memberi jeda sambil menghisap lagi rokoknya..

"Kemudian selang beberapa hari, datang lagi pengamen lain ke rumah bapak, kali ini ada yang berbeda dengan pengamen ini, pakaiannya tampak begitu sopan dan bersih, suaranya uenaaak didengar, ritemnya pas, temponya aduhai, pitch controlnya pun ruar biasa. Otomatislah bapak menahan untuk memberikan?uang agar bapak bisa lebih lama lagi mendengarkan suara merdunya. sampai menjelang akhir lagu barulah bapak memberikan uang dan memberikannya langsung pada pengamen itu sambil membungkuskan gorengan ubi yang masih hangat padanya, dia pun tersenyum dan begitu pula bapak. Nah tong, Begitulah?romansa Tuhan terhadap hambaNya.. "

mendadak terurai senyuman dari wajah si gentong yang dari tadi tampak datar dan ketus... seakan menemukan jawaban dari kegundahannya walaupun masih tampak dahinya mengerut tanda masih ada yang belum dipahaminya, dan tanpa basa basi lagi,,

saat akan mengajukan pertanyaan tiba-tiba dipotong oleh pak Har "ah kamu pikir sendirilah apa maksud dari cerita bapak tadi..?sudah larut, sudah saatnya bapak pulang..." sela pak Har

?

pak Har pun berlalu, sambil tetap meninggalkan clue yang harus diteruskan oleh si gentong yang telah terbantukan dalam menemukan jawaban kegundahannya.

?

  • view 173