Kebaikan perlu Keberanian

Wildan Muhlison
Karya Wildan Muhlison Kategori Project
dipublikasikan 02 September 2016
Nduk,

Nduk,


Catatan pesan seorang Ayah pada anak perempuannya

Kategori Acak

5.3 K Hak Cipta Terlindungi
Kebaikan perlu Keberanian

Nduk nduk,,

Katanya, jaman ini, berbuat baik tidak semudah sebagaimana seharusnya. Ah masak?? Kapan hari saat sedang dalam perjalanan menuju ke jakarta, di salah satu stasiun komuter, tampak terburu buru seorang bapak tua dengan bawaannya yang seabrek, dia terburu karena sedang berusaha mengejar salah satu komuter yang tidak lama lagi akan berangkat. Orang-orang sekitarnya tampak sibuk berkejaran dengan waktu. Semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing, hidup di kota besar seperti ini haruslah realistis, waktu adalah uang yang sayang untuk disia-siakan. Dan di saat kesibukan terus memadat, aku yang tampak sedang duduk termangu di salah satu tempat duduk, menghabiskan botol mineral yang tersisa, membasahkan tenggorokan yang kering, tumben-tumbennya kota yang dikenal kota hujan ini akhir akhir ini jarang mau membasahi dirinya. Ah kembali lagi ke soal Bapak tua tersebut, hati semakin berontak, seakan ada dorongan untuk segera memberikan bantuan untuk membantu membawakan barang-barangnya, toh, tidak ada barang yang memberatkan di dua tangan ini. Tapi eh tapi, saat akan beranjak, timbul lagi perasaan lain, jarak yang harus aku tempuh untuk membawakan barang bapak tua tersebut, dari tempat bapak tersebut kemudian ke komuter lalu kembali lagi ke tempat ini. Ah rasanya sudah pw, belum lagi ketika memberanikan diri untuk membantunya, takut nanti dikira sok baik, sok perhatian, lagian juga enggan rasanya kalau membantu bapak itu, di sisi lain ada porter yang dari tadi sudah menawarkan jasanya.

Nduk, nduk, batin ini berkecamuk rasanya, antara beranjak atau tetap di sini saja. Dan saat menyadarinya, bapak tersebut telah jauh, dan telah masuk ke dalam komuter tanpa memakai jasa para porter. Duh betapa teririsnya batin ini.

Lanjut lagi, ketika tiba di Surabaya, di stasiun besar di sana, semua orang berlalu lalang berbaris rapi menuju ke pintu keluar, ada yang sambil celingak celinguk ke luar melihat orang yang siap menjemputnya, di sisi lain ada pula yang sedang mengotak atik gadgetnya untuk mencoba menyibukkan diri dari hindaran para ojek, driver taxi yang gencar menawarkan jasa tumpangan dengan embel embel kunci yang ditawarkan kepada para penumpang, ada pula porter yang matanya gencar mencari penumpang dengan barang bawaan, dengan lugas dan luwes, “monggo bu saya bantu..”

Aku berada di barisan belakang antrian menuju ke pintu keluar, santai saja tidak terburu. Sembari itu tampak dua orang ibu yang berjalan tergopoh gopoh menghampiri seorang pemuda, tampaknya kedua ibu tersebut tengah menanyakan alamat pada pemuda tersebut, dari gaya bicaranya tampaknya kedua ibu ini bukanlah orang sini, logatnya tidak asing terdengar, hmm,, yap kedua orang tersebut asli jawa barat, tampak logat sundanya kental dan tampaknya baru kali ini menginjakkan kaki di kota pahlawan ini. Si pemuda tersebut tampak menjawab sekenanya, bukan karena acuh tapi mungkin tampak pemuda ini sedang terburu juga, mungkin sudah ada jemputan yang menunggu. Kedua ibu itu tampak tidak puas dengan penjelasan pemuda tersebut, hmm saatnya turun tangan pikirku, aku memberanikan langkah menuju ke arah kedua ibu tersebut, dan tersentak ketika pikiran tentang kekhawatiran kalau nanti diminta untuk mengantarkan mereka ke alamat yang dituju, iya kalau satu jalur kalau tidak, waduh. Pikiran kembali berkecamuk. Ah nanti juga ada orang yang lebih baik yang akan memberi tahu secara pasti alamat tersebut atau bahkan mengantarkan mereka, pikirku. Kemudian datang kembali pikiran, iya kalau ada yang mau, kalau gag ada. hayyo.

Kita hidup di masa “yang penting saya tidak mengganggu dan jangan ganggu saya", benar benar telah membelenggu sampai ke alam bawah sadar, sehingga dari sanalah kalimat “bukan urusan saya” bermula. Hey!! Siapa bilang bukan urusan kita?!, bukannya sikap setiap individu itu yang turut andil dalam membentuk bangunan yang disebut masyarakat. Enak aja… 

Tapi, benarkah?

Ya mbuh, wong akhirnya saking njelimetnya pikiran ini, sampai dua ibu tadi berlalu dari pandangan. Duh

 

Nduk, nduk....

Dari situlah bahwa kebaikan saja tidak akan berarti jika tidak didorong dengan keberanian untuk menyegerakan kebaikan di depan mata, awalnya hati akan terbebani tapi lama lama jika dibiarkan akan mengakar dan menjadi sikap yang apatis.

Berbuat baik tidak perlu menunggu, perlu keberanian untuk mendobrak perasaan tidak enak, dan penilaian orang lain yang sering hanya berdasar asumsi dangkal saja. Maksudnya supaya perbuatan kebaikan itu tidak menjadi barang langka dan orang orang tidak perlu takut ini itu untuk ambil bagian turun tangan. Bukankah apapun kebaikan itu adalah sesuatu yang wajar wajar saja, seperti yang selalu terdengar di setiap pengajaran moral dan agama? Tetapi perilaku individualis telah merampas kewajaran itu. Dan menjadikannya asing dalam keseharian kita sendiri.

Lah kudu pie trus,,,

Lah memang harus berani nduk,,, berani untuk berbuat kebaikan..

 

 

  • view 179