Duhai wanita, aku harus bagaimana

Wildan Muhlison
Karya Wildan Muhlison Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Agustus 2016
Duhai wanita, aku harus bagaimana

 

Duhai wanita, makhluk yang diciptakan dengan segala keanggunan dan kecantikan, betapa banyak manusia yang melukiskanmu dengan berbagai pujian hingga menyandingkannya dengan perhiasan sampai berlian permata. Inilah aku, aku yang mengagumimu, dengan caraku. Namun saat ini aku sampai pada persimpangan di mana aku mengalami kebingungan akan bagaimana caranya aku harus mengagumimu lagi.

Maaf,,
aku masih terlalu kikuk untuk bisa berkata jujur, mengungkapkan apa yang aku rasa selama ini.

Aku mencoba,
tapi mohon cermatilah dengan baik penjelasanku yang agak terlalu bertele-tele ini.

sampai di mana tadi....
oh iya, sampai di bahasan "mengagumi"

Dahulu aku ingin sekali mengagumimu seperti layaknya kekaguman sang Fajar kala merindukan sang Senja. Dalam persepsiku,  keindahanmu terlihat dari keanggunan akhlaknya, keramahan kasih sayangnya, dan sifat pemalunya yang membuatku menundukkan mata berusaha mengagumimu dalam jarak dan pandangan. Namun sekarang terjadi perluasan makna, kini banyak lagi diantara kamu yang mulai menunjukkan eksistensi lewat cara berbusana dan berpenampilan. dan jujur aku pun termasuk orang yang tidak terlalu up to date dalam persoalan ini.

Lihatlah saat ini pemandangan yang sangat mudah untuk ditemui, sebagian dari kamu dengan pakaian seksi, serba minimalis, dan ketat merapat menonjolkan banyak bagian yang dahulu tidak mudah untuk mendapatinya.

dan tahukah kamu jika selama ini dengan cara berpenampilanmu, aku sering mencuri-curi pandang padamu, untuk sekedar cuci mata sampai lupa jika ludah telah tertelan.

Hampir setiap hari, mataku slalu disuguhi hal-hal yang kuanggap tabu namun aku suka.
satu dua kali aku masih bisa mengintruksikan kesepuluh jari tanganku untuk membantu menutupi kedua mataku dan memerintahkan wajahku untuk bisa menunduk atau bahkan memalingkan wajah
namun selebihnya dan seterusnya, intruksi dan perintah itu tak lagi didengarkan, bahkan sengaja seirama dengan kesadaran liarku untuk tidak melewatkan pemandangan itu.

kamu perlu tahu,
aku pun masih diliputi perasaan risih setiap kali dipertontonkan hal itu, antara malu tapi mau..
jadi jangan heran ketika tak sengaja aku tertangkap mata oleh kamu.
aku seakan salah tingkah sendiri.
dan aku pun yakin kamu pun risih akan itu.

Duhai wanita, jujur, aku pun masih belum paham akan maksudmu, apakah memang tujuan utamamu memang seperti yang aku tangkap ataukah ada maksud lain.?!

Dan jika memang benar seperti itu adanya.
tolong beritahu aku,
aku harus bagaimana?!

Agar nantinya ketika aku ingin menikmatinya
aku tak terganjal dengan kerisihanku
dan begitu juga dengan kamu

Dan perlulah kamu tahu.
Jujur dari lubuk hati yang paling dalam.
slama ini aku hanya bisa menikmati dengan caraku
yang dengan diam-diam, dengan curi-curi pandang, dan secara tidak sengaja tertelan ludahku
bahkan mungkin beberapa kali momen menikmati itu kujadikan fantasi pribadiku yang kusimpan sendiri
yang sewaktu-waktu bisa kuunduh dan kunikmati sendiri

tolong beritahu padaku
bagaimana cara yang santun untuk bisa menikmati apa yang kamu pamerkan itu.
menikmati tiap sentinya dengan khidmat, menikmati tiap helai lekukan dengan detail.
menikmati hal yang kuanggap keindahan baru itu

Saat ini sebagian dari kamu, telah banyak yang menutup apa yang seharusnya ditutup
entah itu adalah panggilan hati atau mungkin sebagai ajang ngekor saja
atau malah sebagai bagian dari keikutsertaan kamu mengikuti fashion yang lagi in saat ini

tapi,
itu bukan urusanku,
saat ini aku tak mau terlihat baik di depanmu
biarlah kamu tahu juga diriku ini tak lepas dari kemunafikan

Entah mungkin otakku yang sudah terlanjur ngeres.
masih saja aku lihat sebagian dari kamu yang sudah tertutupi.
namun di mataku masih saja terlihat jelas tiap centi lekukan tubuh kamu
bahkan semakin jelas batasan-batasan itu.
dan maafkan aku jika aku harus menikmati dengan diam bahkan tak sengaja tertelan ludahku

Sekali lagi
tolong beritahu padaku dan jelaskan padaku
bagaimana aku harus menikmati ini semua
yang terkadang aku risih namun terkadang aku menikmati.
sehingga nantinya aku dan kamu sama-sama enak, sama-sama bisa menikmati dengan nyaman dan dengan cara yang santun


hingga akhirnya,
aku puas, kamu pun bangga.

dan sekali lagi,
bantulah aku menjawab pertanyaan dari pertanyaan yang sampai saat ini tak kutemukan jawaban pastinya.
Aku harus bagaimana ?!

 

  • view 277