KurinduITD - Kisah Sebuah Gelas Kaca

Daniel Hermawan
Karya Daniel Hermawan Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Mei 2017
KurinduITD - Kisah Sebuah Gelas Kaca

Alkisah terdapat sebuah gelas kaca rupawan di meja surgawi. Di badannya terukir mahakarya istimewa dari proses pembuatannya. Lewat tempaan dan bahan baku berkualitas yang dibangun sejak 1945, gelas ini bersinar bak cawan emas yang siap menjamu dengan minuman berkelas. Gelas kaca ini dipandang elok oleh gelas lainnya yang tersimpan di almari. Tak jarang gelas lain iri melihat gelas kaca ini begitu sering ditampilkan di meja surgawi untuk menjamu tamu yang datang.
Suatu kali, gelas kaca berisi air ini tumpah terisi minyak goreng. Seketika riak air dan minyak berpautan satu sama lain membentuk kubu yang berbeda. Di satu sisi, air segera berkumpul dengan air. Demikian pula dengan minyak yang berkumpul dengan minyak. Air dan minyak membentuk endapan yang berbeda sesuai massa jenis. Gelas kaca yang semula indah nian ini terisi oleh dua cairan yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya.
Banyak gelas lain yang senang karena keindahan gelas kaca ini sirna tergantikan oleh gelas lain yang selama ini diletakkan di pojok lemari. Sang abdi kerajaan melihat tidaklah elok gelas kaca indah ini terisi oleh air dan minyak yang mengendap. Abdi kerajaan ini pun membawa gelas kaca ini ke dapur untuk membersihkan noda yang ada. Ia menuangkan air dan minyak ke dalam pembilasan sembari menggosok gelas kaca ini perlahan dengan spons busa berisi sabun.
Setiap air dan minyak yang melekat dihapuskan, dibersihkan, dan dihilangkan dari gelas kaca yang indah. Setelah itu, gelas kaca ini dikeringkan dan dibawa kembali ke meja surgawi dengan kondisi yang jauh lebih bersih. Gelas kaca ini siap untuk digunakan kembali menjamu tamu spesial dengan minuman berkelas sesuai dengan tampilannya yang istimewa.
Gelas kaca itu adalah Indonesia. Negeri yang dibangun dan diukir dari perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi nusa dan bangsa. Ukiran, goresan, serta lekukan gelas itu menggambarkan sebuah seni perebutan dan perjuangan para pemuda dalam mengusir penjajah yang berusaha mencabik keutuhan dari gelas kaca indah ini. Lewat persatuan yang dibuat dari bahan baku kaca yang kokoh, Indonesia terlihat menawan dengan keragaman budaya yang tersaji di setiap ukiran yang terlihat diluarnya. Tak jarang ia menjadi sebuah contoh dari negara yang mempunyai khazanah budaya yang kaya dan melimpah. Banyak negara lain yang iri dengan keberhasilan Indonesia untuk hidup berdampingan di tengah banyaknya perbedaan yang ada.
Suatu kali, Indonesia dihadapkan pada situasi politik yang diperparah dengan isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Hal ini membuat situasi Indonesia terpolarisasi dari dua kubu yang berbeda, yakni kita dan mereka. Endapan ini membuat kondisi negara penuh dengan kebencian, permusuhan, serta perbedaan yang seyogianya tidak pernah dipermasalahkan selama ini. Politik membawa Indonesia menjadi gelas kaca yang terisi cairan kepedihan yang membuat cawan spesial ini tak dapat diisi dan digunakan untuk cairan lain yang lebih bernilai.
Ketika gelas kaca bernama Indonesia ini sibuk dengan air dan minyak yang mengisi setiap rongganya, negara lain senang karena mereka dapat mengambil keuntungan dari kesibukan dan kondisi bangsa yang tidak produktif. Mereka bisa mengambil alih perhatian untuk menjadi negara yang produktif dengan memanfaatkan situasi ini. Negarawan melihat bahwa kondisi ini harus diakhiri segara karena polarisasi ini tidak menjadi sebuah endapan yang menghancurkan keindahan gelas kaca bernama Indonesia ini.
Negarawan harus mengajak masyarakat Indonesia untuk menghilangkan kebencian, luka, serta perbedaan yang selama ini mengganjal di dinding gelas kaca, kemudian menghapusnya dengan sabun bernama toleransi yang diusap dengan spons lembut bernama Bhinneka Tunggal Ika. Setiap ego dan persepsi yang menjebak dihapuskan, dibersihkan, dan dihilangkan dari gelas kaca indah bernama Indonesia.
Lewat pertikaian air dan minyak, gelas kaca Indonesia dapat dibersihkan dan dideklarasikan kembali dengan pandangan yang lebih jelas dan jernih. Dasar kaca yang melekat, yakni Pancasila menjadi landasan untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan dan persatuan yang sudah lama melekat dalam setiap rongga dan ukiran yang terukir di sepanjang badan gelas kaca ini. Gelas kaca bernama Indonesia pun siap menyambut sebuah masa depan yang lebih gemilang dengan kondisi baru yang lebih bersih dan mengkilap.
Bertengkar untuk sebuah persepsi sama halnya dengan Burung Trilili yang digambarkan Denny JA. “Mereka butuh mimpi. Tak peduli itu ilusi.” Mungkin kalimat ini menggambarkan bagaimana idealisme digambarkan segelintir orang yang berupaya menggoyak kesatuan bangsa dalam wadah gelas kaca istimewa ini. “Hidup berasal dari burung trilili. Matilah karena burung trilili.” Ucapan yang bersifat provokatif terkadang mengaburkan pandangan kita akan sebuah cita yang lebih luas. Kebenaran seolah ditentukan oleh sebuah persepsi praktis antara air dan minyak yang memandang keduanya adalah pihak yang benar.
Burung trilili senantiasa ada layaknya sebuah tetesan air raksa yang diberikan pihak lain untuk mengacaukan ideologi dari sebuah bangsa. Satu hal yang pasti adalah kesadaran kita akan dasar negara kita, Pancasila yang menjadi fondasi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Siapapun mempunyai tempat yang sama di Indonesia dan marilah kita membangun tempat yang bersih, sejuk, dan indah untuk kita tempati bersama di gelas kaca bernama Indonesia.
Menyadari hal ini, maka kita selaku negarawan haruslah membilas semua endapan luka yang tertoreh. Mari kita bilas dengan semangat persatuan dan toleransi yang pernah memerdekakan bangsa ini dari tangan penjajah. Kini mari kita isi gelas kaca ini dengan sebuah karya istimewa yang dapat memperkuat dan memperindah jati diri Indonesia. Kita percaya bahwa terlalu mahal harganya untuk memecahkan gelas kaca demi pertikaian air dan minyak. Gelas kaca ini akan lebih bernilai ketika kita mampu mengisinya dengan cita-cita bangsa yang lebih luhur, yakni menyejahterakan masyarakat lewat karya yang dimiliki.
Mari kita jaga gelas kaca ini agar dapat dinikmati hingga anak cucu kita kelak dengan nama Indonesia!

  • view 46