Ambrol-Mbrodol

Ambrol-Mbrodol

Danang Purhadi
Karya Danang Purhadi Kategori Renungan
dipublikasikan 28 September 2016
Ambrol-Mbrodol

Biar. Tak tertegun lagi aku mendengar tentangmu. Malam bukanlah menjadi panutan untuk diam merenungi pilihan, coba sesekali pergi seorang diri berjalan kaki menelusuri kota ini. Tak hanya itu, bawa saja uang secukupnya tanpa membawa yang lain-lain. Letakkan semua peralatan canggihmu. Tinggalkan sejenak.

Lalu, jika kau tanya untuk apa, aku tak bisa menjawab dengan kata-kata. Kemari, akan kujawab dengan suguhanku yang mungkin kau akan menolaknya. Tak ada kemewahan disini. Yang mewah ada di sana, yang akan kutunjukkan nanti. Kemewahan sejati yang aku pahami.

Cukup. Jika benar ini terlalu berat, lepaskan saja. Meski itu akan menjadi lebih berat lagi nantinya. Ambil yang mampu kau jinjing, letakkan dimanapun kau suka, jika berminat untuk memiliki, buka dan ambil satu. Cukup satu, nanti aku akan menawarkan yang lain sebagai pelengkap.

Tunggu. Apakah itu sedikit tentang haru hatimu? Ataukah bencimu yang akan menjadi awal sumpah serapahmu? Aku curiga tentang cara pandangmu dan cara berbicaramu yang.. Seolah-olah.. Menggebu, bagai kerbau karapan yang kalap karena panasnya pantat. Ahh, sudah lah. Aku tak mau memusingkan itu. Kita sama-sama menjalin keakraban.

Lanjut lagi kita ngopi-ngopi. Kesehatan mulai menjadi beban. Pikir kosong tak mampu memenuhi harapan. Ada keraguan dalam delik tatapmu malam itu. Aku curahkan sedikit perhatian yang menang canggung, sedikit keterpaksaan tampak menang, apa boleh buat, aku berusaha menghormati silaturahmi. "Jika memang tak berkenan, jangan lakukan." Itu tak sebanding kenyataan. Kadang kita lebih memilih diam dan berpura-pura. Kadang berbicara apapun yang lain-lain untuk menutupi.

Jika benar kita mengakui perbedaan, lalu mengapa kita mencoba menyamakan yang tak sama?..

Hanya diri sendiri yang boleh tau jawabnya, jika benar itu terungkap melalui mulut, apakah itu benar-benar kebenaran?

  • view 290