Hujan dan Ketombe

Danang Purhadi
Karya Danang Purhadi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 Juni 2016
Hujan dan Ketombe

Hari ini, hujan pertama diawal bulan Juni. Dinda, apa kabarmu kali ini? Semoga baik-baik saja, tetap sehat dan melakukan semua kegiatan yang jauh-jauh hari sudah kau rencanakan sebelumnya. Kalau waktu hujan, sepertinya rasa kangen yang datang tak bisa dilepaskan dengan mudah, semudah menghempaskan ketombe yang akhir-akhir ini sering bertengger di pundakku. Tapi yang jadi soal, kangen yang datang ketika waktu hujan, ibarat asal ketombe yang datang dari kulit kepalaku yang sedikit susah untuk dihilangkan. Jadi, ya aku ikuti saja rindu yang diam-diam terbang dan masuk ke dalam isi kepalaku. Seperti ketombe yang diam-diam terbang ke pundakku. Bedanya, rasa kangen padamu tak ku hempaskan seperti ketombe, kangen padamu kubiarkan saja menumpuk. Ahh, apa jadinya jika ketombe yang kubiarkan menumpuk, pasti orang-orang mengira aku habis jalan-jalan di suatu tempat yang sedang musim salju, lewat lorong waktu. Hehehe..

 

Ohh iya, Dinda. Jauh hari sebelum hari ini, waktu aku sedang ke toko buku, aku melihatmu di sana. Kau memakai kaus lengan panjang warna hitam. Tapi aku sengaja tak menyapamu, kau kelihatan sangat asik dengan buku-buku. Tampak mukamu kelihatan bingung buku apa yang akan kau bawa pulang. Kau asik sendiri. Jadi aku biarkan saja, aku juga asik sendiri menikmati kau yang sedang asik. Kita jadi sama-sama asik sendiri-sendiri. Hehehe.. Hari itu, di toko buku, kita tak janjian sama sekali kan, tapi kenapa kita bisa ketemu ya? Apa lagi hari itu kita memakai warna baju yang sama, padahal yang aku tahu kau suka dengan warna putih, apakah kau beralih suka pada warna kesukaanku? Hehehe, aku harap tidak begitu. Ini sekedar imajinasiku yang sedikit liar, untuk sedikit menyenangkan hatiku yang tak karuan, sebab tiba-tiba aku bertemu denganmu di tempat favoritku, toko buku. Jika tak sengaja kau membaca tulisanku ini, Dinda, semoga kau merasa, nama Dinda yang aku sebutkan di sini adalah kamu. Hehehe, lagi-lagi aku mencoba menyenangkan diri sendiri. Apa salahnya mencoba menyenangkan diri sendiri yang sedang dirundung rindu? Asalkan tak berdampak negative kan.

 

Rasa kangen ini semakin tak karuan, semakin dalam. Aku teringat tentang obrolan kita malam itu, jauh hari sebelum aku menemukanmu di toko buku. Dalam obrolan kita malam itu, aku tak paham betul dengan apa yang sebenarnya aku inginkan, Dinda. Aku hanya mencoba untuk memberimu sedikit gelisah yang aku rasakan. Tentang hubungan kita. Tapi gelisah yang aku rasakan itu, yang aku bicarakan denganmu, tampaknya adalah inti dari semua gelisah yang aku rasakan. Aku ingin sepenuhnya bisa bersamamu, yang jadi soal, aku terlalu gelisah dengan hubungan kita yang serba serius. Kita serius menjalin hubungan dengan masalah yang juga serius. Masalah itu datang dari kriteria yang ditetapkan oleh orang tuamu. Ayah dan Ibu mu. Aku benar-benar minder, tak bisa mempercayai kemampuanku sendiri, aku kehilangan rasa percaya diriku. Sebab itulah aku bertingkah tak karuan, aku tak ingin meninggalkanmu. Biarlah kau yang meninggalkanku dengan labilnya diriku. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahku ketika mendengar kriteria yang kau bicarakan waktu itu. Apakah lucu, Dinda? Aku ingin mendengar ceritamu tentang ekspresi wajahku ketika itu, jika kita bertemu lagi nanti. Itupun jika kau bermaksud untuk menemuiku lagi. Hehehe..

 

Tak terasa, tulisan ini memasuki halaman ke-dua. Kopiku masih penuh, masih sepertiga bagian yang aku minum. Rokok yang aku hisap malah sudah empat batang, benar-benar tanda aku sedang dirundung rindu. Hehehe.

 

Aku sering bertanya sebelum aku lelap dalam tidur, bertanya pada langit-langit kamarku yang di sudut-sudutnya terdapat jalinan benang sarang laba-laba yang tak berpenghuni lagi. Apakah kau sudah melupakanku, Dinda? Apakah hanya aku saja yang masih menginginkan bisa hidup bersamamu, membangun sebuah keluarga yang pernah kita bicarakan dulu. Jika kau benar merindukanku, apakah kau menyebut namaku dalam doa-doa mu? Aku tak bermaksud sombong, tapi benar, aku tak jarang menyebutkan namamu dalam doa-doa ku. Aku merasa keliru, aku tak bermaksud mempermainkanmu.

 

Hujan hari ini. Membuat semua terasa pilu. Aku menginginkanmu dengan cara yang keliru. Cara yang aku sendiri tak mampu mengerti. Benar, labil itu ada padaku. Aku tak benar-benar tahu siapa diriku ketika aku merindumu.

 

Jelas kini, kau pergi karena sisi labilku. Terima kasih yang terdalam untukmu, Dinda.

Kau membuatku merasa hidup kini.

Dengan memahamkan aku tentang siapa aku.

Yang tak pernah aku tahu sebelumnya.

 

Hehehe, aku malu mengakui itu. Tapi apa ya, yang membuatku tiba-tiba mengakui itu. Baik, aku akhiri sampai disini. Suratku yang berantakan tentang isi hatiku yang juga berantakan. Semoga harimu menyenangkan, Dinda. Selamat malam. Selamat akhir pekan.

  • view 124