Bingkai Coklat Kehitaman

Danang Purhadi
Karya Danang Purhadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juni 2016
Bingkai Coklat Kehitaman

Ra.

Bingkai Coklat Kehitaman.

Kadang, rubah punya sisi manis ketika ada dalam potret berbingkai kayu coklat kehitaman.

Ya, ada sisi manis yang teringat ketika diam-diam bius hujan membius batin, memunculkan kembali bayang-bayang ketika kita berdua. Memadu kasih.

"Oiii lagi apa?" Lana mengirim pesan pribadi dari salah satu sosmed.

Hujan belum mereda betul, batinku masih asik melamunkan kebersamaan ketika denganmu, Lana. Biarlah kau sesering apapun mencoba menghubungiku, tetap aku takkan membuka pesanmu atau membalasnya.

Oiii lagi apa?. Jumlah huruf yang sama, susunan huruf yang sama, susunan kata yang sama. Semua masih sama, sama seperti jumlah kerinduanku padamu jika rindu bisa dijumlahkan.

Bingkai coklat kehitaman, yang menggantung di dinding beranda rumahmu, apa sudah terisi dengan gambar baru?

Aku suka potret rubah itu Lana, aku sangat suka. Hanya satu yang dapat Ku temui gambar seperti itu di penjual poster pinggir jalanan kota ini. Rubah berbulu jingga layaknya senja, dengan sedikit warna hitam di ujung kaki, ujung telinga, dan ujung ekornya.

Hujan di hari berikutnya turun, rintik-rintik. Kudapati seseorang sedang kelabakan membungkus gulungan kertas di ujung jalan dengan plastik warna coklat kehitaman.

"Aku punya sesuatu untukmu". Lana kembali mengirim pesan pribadi.
" Ra, tolong baca pesanku. Ada sesuatu yang ingin Ku berikan, untukmu." tetap sama, ku tekan jariku pada layar handphone dan ku geser, menghapus pesan Lana tanpa dibuka.

Lana.. Aku ingin menyudahi semua tentang dirimu, tak ada lagi yang bisa merengkuh dan menyeretku kembali padamu. Meski rindu benar-benar menyiksaku.

"Ra, ada kiriman untukmu. Baru saja kurir datang. Ibu letakkan di meja." Kau benar-benar kejam Lana, bahkan cara Ibuku bicara sama sepertimu, ketika kau bilang akan kembali. Cara yang sama ketika kau memegang pundakku dari belakang dengan lembut, berbisik di telingaku, dan kemudian mencium pipiku. Dan kemudian kau pergi.

"Dua minggu lagi, datanglah ke rumah. Aku sudah menerima pemberianmu Lana. Terima kasih." Aku memintamu datang bukan untuk menemuimu Lana, sepertinya Ibu kangen padamu. Tak berhenti ia menanyakan tentangmu setelah tahu bingkisan itu darimu.

Jika semua berjalan sesuai rencana, aku akan sangat bahagia Lana. Kau pernah bilang, jika aku bahagia kau juga akan bahagia.

***

Lana.

"Aku harap kau tak menghindariku lagi Ra, aku masih tetap sama. Lana yang mencintaimu." Dua minggu lagi Ra, aku akan datang.

Aku hanya berpikir untuk secepatnya menuju rumahmu Ra, aku tak ingin kehilanganmu. Hari ini tepat dua minggu yang kau janjikan.

"Silahkan masuk nak Lana, Ibu sudah menunggu dari tadi. Ra bilang hari ini nak Lana akan datang." Ibumu tetap menyambutku dengan hangat, sama seperti terakhir kali aku berkunjung.

"Nak Lana duduk saja dulu, Ibu bikin minuman dulu.."

"Tapi bu, apa Ra ada di rumah?"

"Nak Lana duduk dulu saja, ibu ke belakang sebentar ambil minuman.." muka ibu memucat, kemana kau Ra? Apa kau menghindariku lagi? Aku sudah mengenal baik ibu, ia akan pucat jika berusaha berbohong Ra. Kau, apa kau menghindariku?

Bingkisan yang aku kirim tergeletak di meja? masih rapi? apa kau belum membukanya? apa maksudmu ini Ra?

"Nak Lana, Ra ingin ibu memberikan ini." Amplop? Apa kau memberiku surat saja? Dan aku tak bisa menemuimu? Kau keterlaluan Ra. Brengsek.

Lana, kekasihku.

Sampai kapanpun, aku ingin selalu bisa hadir dan ada dalam kehidupanmu.
menjadi apapun yang kau inginkan. aku berharap bisa seperti itu Lana.

Tanpa menghadirkan rasa kesal, selal, menjadi beban, rasa keberatan.
Aku ingin ada dan terus ada, entah kau rasa atau tak kau rasakan.

Semoga kau bisa lebih bahagia lagi Lana. Sampai kapanpun, yakinlah aku tetap mencintaimu.

-Ra

Kau benar-benar.. Aku tak mampu memahamimu yang seperti ini Ra. Kau..
Apa gunanya aku menangis seperti ini jika kau tetap tak mau menemuiku?
Apa kau tak malu pada ibu? kau meminta ibu untuk menyelesaikan masalahmu?
Kau benar-benar pengecut Ra. kau pengecut. PENGECUT BODOH!!

"Nak Lana, Ibu minta maaf atas nama Ra.. Dia tak bisa menemuimu. Sampai kapanpun. Ibu juga merasa kehilangan. Ra, anak ibu satu-satunya.." Ibu menangis sejadi-jadinya? ada apa ini Ra? Ibu juga merasa kehilangan?

Aku tak mampu berpikir jernih, aku terlalu kalut untuk memahami arti perkataan ibu. Aku.. Ra..
Apakah kau..

"Bu, apakah Ra?"

"Ra meninggal tiga hari lalu nak Lana, selama ini dia minta ibu tak memberi tahu siapapun akan penyakitnya."

Ra..

"Ra ingin kau buka bingkisan ini, Ra juga meminta Nak Lana untuk bahagia tanpa dia.."

"Limfoma non hodgkin"

Kau pasti paham istilah itu Lana.
Cepat selesaikan sekolah kedokteranmu.
Dan cepatlah menikah sebelum kau bertambah tua.
Boleh aku meminta satu hal lagi padamu?
Aku ingin kau jaga ibu, semampumu saja.
Ibu seorang diri sekarang, dan kau Lana.
Wanita pertama yang aku bawa pada ibu.
Dan aku berjanji padanya kau akan menjadi menantunya.

Maaf, jangan banyak bersedih lagi.

Maaf, aku menghilang seketika setelah dokter mendiagnosa penyakitku.
Ini rencana Tuhan Lana, kita tak bisa merubahnya.

Maaf, aku tak bisa mengatakan secara langsung keinginanku agar kau menjaga Ibu.
Aku mencintaimu sama seperti aku mencintai Ibu  Lana.

  • view 89