Di Sudut-Sudut Warung Kopi

Danang Purhadi
Karya Danang Purhadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Mei 2016
Di Sudut-Sudut Warung Kopi

Di suatu tempat, disebuah warung kopi mini sekali. Senja lagi asik menggelar tikar warna jingga berpoles kelabu dan sedikit percik-percik bintang disana.

"Aku sudah bilang sama ibuk, nanti kalo udah ghede aku kepingin jadi mantri sunat." kata Andiloh pada kedua kawannya. Keteng dan Towel, yang sedari sore ngobrol masalah cita-cita mereka.

"Ah, yang buener kamu Loh. Ibumu bilang apa?" kata Keteng tanpa melihat ke arah Andiloh, asik nyeruput mie instan goreng.

"Ga ngomong apa-apa Teng, cumak mulet-mulet sama ngelap ilernya yang tumpah-tumpah" jawab Andiloh "aku sengaja ngomong pas waktu ibukku lagi tidor. Lhawong ibukku pernah ngendiko aku besok kalok bisa harus jadi dokter kayak lagunya Didi Kempot itu lho Teng."

"Hmm.. Iya-iya, lagu yang sempet nge-hits di kampung kita itu toh waktu jamannya bapakmu masih kerja sama orang." Keteng.

Malam telah tuntas menelan Mentari, TV di warung kopi mini itu dinyalakan oleh pemilik warung.

"CENEL BERITA BUUUUUK!!" Towel teriak kegirangan pada pemilik warung, nonton berita adalah hobinya (entah mulai kapan).

"Inggeh nak Towel, Ibuk  pun paham senengane sampeyan.." kata pemilik warung sambil menarik segaris senyum yang cantik. "Kopinipun tambah nak?"

"Aku buk setunggal kayak biasanya. Tanpa gula seddikitpun." kata Keteng sambil senyum-senyum membalas senyum-nya Ibu warung.

"Aku nambah mie goreng Buk" kata Andiloh. "Aku pisan, Buk" sahut Towel.

Towel hobi nonton berita, tapi yang dilihatnya bukan isi dari berita melainkan cara pembawa berita ketika membawakan berita, mulai dari cara berbicara, gerak tubuh dan ekspresi si pembawa beritanya. Tak jarang juga Towel diam-diam ngomong sendiri menirukan pembawa berita kesukaannya itu. Towel punya cita-cita menjadi pembawa berita.

Selama Towel asik nontoni pembawa berita, Andiloh dan Keteng melanjutkan obrolan mereka tentang mantri sunat. Si Ibu warung sedang sibuk menghitung-hitung uang-uang yang serba berserakan di laci meja sambil diam-diam mendengarkan isi berita hari itu.

Waktu berlalu tak terasa, hari semakin malam, adzan isya' berkumandang.. Beberapa semut terinjak oleh kaki Towel karena tak memperhitungkan kemungkinan itu ketika melihat ceceran mie goreng Towel di lantai. Cecak penguasa langit-langit berdecak sembari siaran berita usai.

Tiga orang sekawan itu pamit pulang dan merayu si ibu warung, agar malam ini mereka bisa ngebon karena lupa membawa uang.

"Oalah cah lanang bagos-bagos.." kata ibu warung "sampean-sampean ojo niru koyo sing nang berita ngger.. ra apek, mundak kuwalat marang Gusti, wong tuo.. kapan Indonesa biso bangket yen manusia-manusianya pada amburadul. Maling uang rakyat, mabuk-mabukan, merkosa anak kecil sampai meninggal. ojo ngono ya ngger.. Sekolah sing dhuwur kanggo mangerteni liyan.. dudu kanggo Nyolong Duwit Rakyat"

Andiloh, Keteng dan Towel melongo.. Saling menatap.. Keheranan karena ibu warung menasehati mereka demikian. Mereka bertiga tampak bingung, karena sedari tadi ketika berita berlangsung, tak ada yang memperhatikan siaran berita kecuali Towel, itu pun Towel hanya fokus pada si pembawa beritanya. bukan pada isi berita.

Dalam perjalanan pulang..

"Wel, Loh.." kata Keteng.

"Apa?" sahut Andiloh dan Towel.

"Kata ibuk warung tadi Endonesa bangkit ya?" lanjut Keteng "Ibu warung suka ngayal juga ya ternyata, mana bisa toh Endonesa ini bangkit. Mau kemana cobak?"

"Kalo Endonesa bisa bangkit seperti kata ibu warung tadi, Wel.. Teng.." kata Andiloh menyikapi Keteng "mudah-mudahan besok pas waktu aku sudah jadi mantri sunat, aku yang dipanggil buat nyunat 'burung'nya. Biar aku jadi terkenal, masuk berita. hihih ihi.."

Sahut Towel, "Wahh, terus aku nanti yang bawain beritanya Loh. Biarin aku ya yang bawain beritanya.." sambil menegap-negapkan badannya supaya terlihat layaknya pembawa berita di TV

Keteng risih melihat gaya Towel yang alay, Keteng segera memotong scene tingkah Towel dengan berkata " Hoee.. nanti kalo Endonesa bangkit, mau tak ajakin ke negri yang ada saljunya biar nanti aku ketemu sama beruang warna putih, tak gowo muleh. Kalo nggak gitu ke negrinya penemu hambeger, biar nanti aku tanya resep aslinya apa terus aku bukak sendiri disini dekat pos kamling."

Malam semakin larut saja, selama perjalanan pulang Tiga Sekawan itu mengkhayal tentang kebangkitan Indonesia sesuai dengan yang mereka pahami.

  • view 132