Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 September 2018   06:25 WIB
Bulan

“Haruskah aku hilang lagi?” Kini ia benar-benar serius mengatakannya. Membuat sorot mata Bulan semakin tajam dan memerah seketika.
“Kau selalu mengatakan hilang hilang hilang dan hilang. Tidakkah kau pikir bagaimana perasaanku saat ini?” Gadis berambut hitam legam nan panjang terurai hingga atas pantat ini mempertegas perkataannya.
Doni hanya menatap mata Bulan yang mulai berkaca-kaca. Namun tiada menjawab lelaki berambut cepak dengan jaket levis biru dan bercelana hitam panjang ini menarik tas ransel dan pergi meninggalkan gadisnya sendirian.
"Selamat tinggal" Sebuah kata perpisahan yang mengantarkan lelaki itu keluar dari Kafe. Tanpa menatap ke belakang kembali ia benar-benar pergi dan semakin menjauh. Kini wajah Bulan benar-benar merah padam. Antara bingung dan marah. Ingin meneriaki kekasihnya, namun pita suaranya kering tak dapat berucap. Ia dibiarkan duduk sendiri di samping tembok kaca sebuah kafe dengan segelas lemon jus yang sedari tak dikecup lidah. Air matanya yang sedari tadi dipaksa diam sekarang tak dapat lagi dipendam. Menghapus make up yang telah dipoles halus di wajahnya. Melelehkan celak hitam yang menghiasi bagian bawah matanya. Wajahnya hancur kotor, begitupun juga hatinya. Andai aku tahu bahwa kau memang berniat meninggalkanku. Mungkin takkan kusiapkan reruntuhan yang telah kubangun lagi pondasinya. Takkan kuperkuat perasaan agar dikau selalu hadir dalam mimpi malam. Andai aku dapat meneriakimu jangan. Tapi aku hanya dapat diam saat marah padamu. Mulutku hanya sanggup terbungkam saat di depanmu. Hingga ketika kemarahanku tak dapat terkendali, kukeluarkan semua perasaanku. Tanpa berpikir, bagaimanapun nanti kau pasti akan meninggalkanku lagi. Gumamnya.
Bulan berjalan sendiri di atas jalan trotoar yang ramai akan lalu lalang pejalan kaki. Langkahnya tersengal-sengal dan loyo tanpa semangat. Bibirnya sedikit dimonyongkan menghadap depan dengan sorot mata kosong. Ia tak peduli lagi dengan mereka yang menatapnya keheranan. Wajahnya dibiarkan rusak oleh make up yang belepotan. Ketika sampai di zebra cross tanpa menekan tombol lampu hijau tuk pejalan kaki, ia langsung berjalan menuju tengah jalan raya yang ramai kendaraan bermotor. Tiba-tiba dari arah barat ada mobil yang melaju cukup kencang, hingga kehadiran Bulan tak disadari datang. Ketika akan mengerem, ternyata roda tak dapat berhenti langsung. Sehingga tanpa sengaja menabrak seorang gadis yang berjalan lunglai di depannya.
Bulan dibawa oleh beberapa orang menuju rumah sakit terdekat menggunakan mobil pelaku. Namun ketika tubuhnya diangkat menuju mobil, ada sebuah lipatan kertas berwarna putih terjatuh dari pakaian yang dikenakannya. Ia ditemukan oleh seorang lelaki berjaket levis bercelana hitam panjang. Diambilnya surat itu dan dimasukkan dalam saku kanan celana kainnya yang dalam. Ketika telah sampai di seberang jalan, surat itu dibukanya, isinya mengatakan
“AKU TELAH MENGADAKAN PERJANJIAN DENGAN TUHAN. KETIKA DALAM DRAMANYA AKU ADALAH KORBAN. BIARKAN AKU MATI DALAM KEGILAANKU. DAN KUMAU KAU PUN IKUT MENANGGUNG IMBASNYA”
Bulan Purnama
Tiba-tiba dari arah timur ada sebuah truk besar berguling jatuh. Menciptakan gesekan yang menepis beberapa kendaraan di sekitarnya. Tiga mobil dan lima motor yang sedang melaju tertumpas tak tentu arah. Menciptakan sebuah ledakan api yang mengagetkan setiap orang. Setiap mobil meledak dan terbakar bergantian. Bak kembang api yang diluncurkan saat menjelang perayaan tahun pergantian. Sebuah pintu mobil terlempar jauh ke arah trotoar. Menimpa seorang pemuda yang sedang berdiri di pinggir jalan. Hantaman kuat melepaskan leher dari kepalanya. Tubuhnya ambruk. Tangannya masih menggenggam kertas yang sama.
...

Karya : Dai