Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 Agustus 2018   21:06 WIB
Secangkir Kenangan di Kota Kudus

14 Agustus 2018

Beberapa hari lalu adalah waktu kembaliku ke Kota Surabaya. Bersua dengan beberapa teman lama yang telah kukenal setahun terakhir. Kami makan bersama. memecah rindu yang telah terbungkam masa. Kala itu seorang temanku yang berasal dari Kudus akan kembali ke tempat muasalnya. Ia mengajakku, katanya agar ada teman.

Esoknya pada pukul enam pagi, ia telah bersiap di depan kampus kami. Kami berangkat naik bus patas arah Surabaya-Semarang. Biayanya cukup mahal, 95 ribu sampai kudus. "Kalau bus ekonomi biasanya hanya 45k" Kata Nisa, temanku. Sekitar jam 10 pagi, bus yang kami tumpangi turun di area makan. Ternyata biaya sebelumnya sudah termasuk sarapan.

Kami sampai di kudus sekitar pukul 13.30. Namun tak sembarang Kudus kami harus berhenti. Tepatnya ada di Prolimon Tanjung. Disebut prolimon karena di situ ada 5 belokan jalan. Tak pernah kuketahui sebelumnya. Sampai Tanjung, kami harus menaiki bus lagi menuju Desa Babalan. Ini juga asing menurutku. Tak pernah kuketahui ada bus menuju perkampungan warga.

Setelah istirahat sejenak, Nisa mengajakku makan siang. Ada nasi dan beberapa lauk pauk. Namun pandanganku sedikit bingung oleh potongan daging besar dalam mangkok. "Itu daging kerbau, di sini tidak ada sapi" katanya. Ia sedikit bercerita bahwa di Kudus memang masih mengikuti adat istiadat yang ada sejak zaman walisongo, yakni tidak menyembelih sapi. Ketika kucoba, rasanya memang tak jauh beda dari daging sapi yang biasa kutemukan di daerahku. Namun daging kerbau mempunyai aroma yang lebih menyengat.

Ba'da Maghrib orang tua temanku ini mengajak makan malam di suatu warung, mie ayam katanya. kami tak harus berjalan. Namun menaiki sepeda motor. Lucunya aku dan Nisa tak terlalu mahir naik sepeda. Namun akhirnya ialah yang menggoncengku. Nah, di sini juga sesuatu yang tak dapat kutemukan di manapun. Mie ayam Kudus berbeda dengan apa yang ada di daerahku, Mojokerto. Rasa kuahnya agak seperti gulai, namun lebih bening. Lalu acarnya dipisahkan dengan mie ayam. dan katanya lagi, bakso di Kudus tiada yang memakai daging sapi, semuanya kerbau.

Kamis, 16 Agustus 2018, Nisa mengajakku pergi ke Menara Kudus. Karena tak lagi boleh naik sepeda motor. Terpaksa kami harus naik angkutan umum. Dari depan gang, kami harus naik bus sampai Ramayana (entah jalan apa itu). Lalu naik angkutan umum berwarna ungu, dan berhenti di jalan menuju menara. untuk berjalan menuju arah timur, kami harus berjalan sejauh 150m. Di sana kami bertemu dengan seorang teman dari UIN Walisongo. Dia menemani kami dari pagi sampai sore hari (baik sekali). Dari keluar makam, makan siang, taman menara, hingga toko buku.

Pada hari terakhir di Kudus, temanku mengajak mengelilingi Desa Babalan. Dia menggoncengku hati-hati dan sedikit pelan dengan sepeda motor yang ia kenakan dua hari lalu. Diajaknya aku mengelilingi sawah, pasar, hingga menuju WBL (bukan Wisata Bahari Lamongan). Di sana ada sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa. ada rel kereta api yang terputus, katanya itu adalah sisa-sisa peninggalan belanda. Di sekitar situ juga masih ada alat-alat angkat beban yang masih kokoh berdiri tanpa dipakai. Mungkin ia juga peninggalan belanda. Inilah yang katanya WBL (Wisata Babalan). Indah nan sejuk. melihat pematang sawah yang tersebar, gunung-gunung yang jauh dimata, kerbau-kerbau yang sedang digembala, dan satu lagi, ada sebuah kuburan di sana. Kuburan islam dan non islam, namun berdampingan.  Sepertinya toleransi dan sikap saling menghargai memang sudah terjalin sejak sedia kala.

Sekitar pukul 07.15, kakak lelakinya mengantarku ke Tanjung Prolimon dan mencegat bus di sana. Tak sampai setengah jam, bus sudah datang. Lagi-lagi aku dapat bus patas. Namun tak apa, yang penting selamat sampai tujuan Surabaya. Terimakasih untuk secangkir aroma kudus yang telah kunikmati dalam beberapa hari. See you

 

 

Karya : Dai