Tentang kacang

Dai Firda
Karya Dai Firda Kategori Motivasi
dipublikasikan 07 Oktober 2017
Tentang kacang

Kacang-kacang, kacang-kacang, ayo mas-mas, mbak-mbak, ibu-ibu, bapak-bapak, tante-tante, adek-adek, semuanya, kacang rebusnya murah, masih hangat, rasanya maknyus, Cuma 1000-an. Ayo dibeli, dicoba, dirasa, pasti bakal ketagihan” (HOAX PENJUAL, padahal rasanya biasa saja, wkwkwk. Abaikan !!)

 Pernah merasakan kacang? Gimana rasanya? Gurih? Asin? Manis? pedas? pahit? Atau jangan-jangan kalian enggak pernah makan kacang. Ih, pasti kalian hidupnya dilautan ya. Sukanya sama rumput laut terus, anyir. Tapi tak apa lah, itu gunanya perbedaan. Kalau begitu, saya akan menjelaskan sama orang yang pernah melahap, mengunyah, dan menelan jenis biji-bijian satu ini. 
Di pelosok bumi ini, dari timur ke barat, selatan ke utara pasti kita akan menemukan yang namanya kacang. dari kacang panjang, buncis, kacang tanah, kacang kedelai, dan lain-lain. Tapi sebenarnya bukan inilah yang akan saya bahas. Mau tau? Ih kepo ya. Kalau kepo berarti kalian adalah calon orang sukses. Karena malu bertanya sesat dijalan. Hahahaha. 
  Banyak arti tentang kacang yang saya temukan di berbagai sumber, sampai bingung mana yang harus dipilih. Tapi ada satu arti yang saya kutip dari KBBI. Kacang di sini bermula dari kata kacangan yang artinya tidak bermutu (tentang barang) atau murahan. Meski artinya seperti itu, tapi inilah yang dipakai pijakan oleh mayoritas remaja zaman sekarang. yakni sebagai orang yang tidak dihiraukan dan dianggap dirinya tidak penting dan yang dibicarakan tidak bermutu, kejam bukan?
 Kata yang singkat, padat dan jelas ini ternyata bisa menyentuh hati dan emosi setiap orang. Contohnya ketika kita bicara di depan umum, menanggapi tentang suatu hal yang penting, lalu apa yang kita bicarakan tak dihiraukan oleh orang. Keadaan yang kita rasakan itulah yang dinamakan “diKACANGi”. Benar-benar kacang yang menyakitkan.
 Tak hanya beberapa orang saja yang merasakan hal demikian. Bahkan mayoritas masyarakat pinggiran sering dianggap kacang oleh pemerintah. Dikira hidupnya sudah makmur padahal kemiskinan meraja lela. Pemulung, pengemis, pengamen masih banyak terlihat di daerah perkotaan. Hak mereka tak tersampaikan, tapi taka da yang peduli.
 Daripada susah-susah bahas masyarakat Indonesia yang jumlahnya tak terhitung. Di komunitas kecil kita saja sudah lazim permasalahan seperti ini terjadi. Contohnya saat A bercerita panjang lebar kepada B, eh malah si B tak menghiraukan dan bermain hp. Mungkin satu dari kalian pernah merasakan demikian. Dan bayangkan sendiri bagaimana rasanya jadi si A. Agak mengecewakan pastinya. Tapi jika bukan termasuk salah satunya, berarti kalian hebat. Mengapa demikian? Karena tercatat dalam kategori golongan orang-orang yang berpengaruh dan diperhatikan. Pertahankan prestasi itu.
 Ada kiranya seseorang dikacangin karena pembicaraan mereka dianggap tidak berfaedah bagi pendengar. kadang juga karena si pendengar lagi bad mood, lagi sibuk mikirin tugas, atau lagi ngelamun. Untuk hal semacam ini diperuntukkan bagi kalian yang suka dikacangi, agar tak mengalami hal yang sama. Sebaiknya sebelum berkata, lihatlah situasi dan kondisi sekitar. 
 Selain itu, ada juga orang dikacangi dalam hal serius. Seperti saat rapat atau diskusi. Lalu ketika menyampaikan suatu pendapat. Suara mereka tak dihiraukan. Malah dianggap seperti angin semu. Padahal kita di negara demokrasi,  yang rakyatnya bebas berpendapat dan mendapatkan hak sama. Tapi dalam keadaan ini, mereka merasa jadi jangkrik dalam kesunyian. Yang bunyinya krik krik krik, 
 Jika pernah merasakan demikian. hendaknya kita lebih pintar dan bijak tuk memilih waktu bicara. Saya enggak hanya ngomong belaka. Tapi pernah merasakan juga. Ups jujur amat, wkwkwk. Setidaknya ini juga jadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ketika dalam lingkup diskusi, pasti banyak orang ingin mengutarakan pendapat, di situlah kita kondisikan bagaimana kelompok bisa kondusif dan setiap pendapat dapat terdengar. Dengan itu, virus senapan kacang akan berkurang. Have funKacang-kacang, kacang-kacang, ayo mas-mas, mbak-mbak, ibu-ibu, bapak-bapak, tante-tante, adek-adek, semuanya, kacang rebusnya murah, masih hangat, rasanya maknyus, Cuma 1000-an. Ayo dibeli, dicoba, dirasa, pasti bakal ketagihan” (HOAX PENJUAL, padahal rasanya biasa saja, wkwkwk. Abaikan !!)
Pernah merasakan kacang? Gimana rasanya? Gurih? Asin? Manis? pedas? pahit? Atau jangan-jangan kalian enggak pernah makan kacang. Ih, pasti kalian hidupnya dilautan ya. Sukanya sama rumput laut terus, anyir. Tapi tak apa lah, itu gunanya perbedaan. Kalau begitu, saya akan menjelaskan sama orang yang pernah melahap, mengunyah, dan menelan jenis biji-bijian satu ini. 
Di pelosok bumi ini, dari timur ke barat, selatan ke utara pasti kita akan menemukan yang namanya kacang. dari kacang panjang, buncis, kacang tanah, kacang kedelai, dan lain-lain. Tapi sebenarnya bukan inilah yang akan saya bahas. Mau tau? Ih kepo ya. Kalau kepo berarti kalian adalah calon orang sukses. Karena malu bertanya sesat dijalan. Hahahaha. 
Banyak arti tentang kacang yang saya temukan di berbagai sumber, sampai bingung mana yang harus dipilih. Tapi ada satu arti yang saya kutip dari KBBI. Kacang di sini bermula dari kata kacangan yang artinya tidak bermutu (tentang barang) atau murahan. Meski artinya seperti itu, tapi inilah yang dipakai pijakan oleh mayoritas remaja zaman sekarang. yakni sebagai orang yang tidak dihiraukan dan dianggap dirinya tidak penting dan yang dibicarakan tidak bermutu, kejam bukan?
Kata yang singkat, padat dan jelas ini ternyata bisa menyentuh hati dan emosi setiap orang. Contohnya ketika kita bicara di depan umum, menanggapi tentang suatu hal yang penting, lalu apa yang kita bicarakan tak dihiraukan oleh orang. Keadaan yang kita rasakan itulah yang dinamakan “diKACANGi”. Benar-benar kacang yang menyakitkan.
Tak hanya beberapa orang saja yang merasakan hal demikian. Bahkan mayoritas masyarakat pinggiran sering dianggap kacang oleh pemerintah. Dikira hidupnya sudah makmur padahal kemiskinan meraja lela. Pemulung, pengemis, pengamen masih banyak terlihat di daerah perkotaan. Hak mereka tak tersampaikan, tapi taka da yang peduli.
Daripada susah-susah bahas masyarakat Indonesia yang jumlahnya tak terhitung. Di komunitas kecil kita saja sudah lazim permasalahan seperti ini terjadi. Contohnya saat A bercerita panjang lebar kepada B, eh malah si B tak menghiraukan dan bermain hp. Mungkin satu dari kalian pernah merasakan demikian. Dan bayangkan sendiri bagaimana rasanya jadi si A. Agak mengecewakan pastinya. Tapi jika bukan termasuk salah satunya, berarti kalian hebat. Mengapa demikian? Karena tercatat dalam kategori golongan orang-orang yang berpengaruh dan diperhatikan. Pertahankan prestasi itu.
Ada kiranya seseorang dikacangin karena pembicaraan mereka dianggap tidak berfaedah bagi pendengar. kadang juga karena si pendengar lagi bad mood, lagi sibuk mikirin tugas, atau lagi ngelamun. Untuk hal semacam ini diperuntukkan bagi kalian yang suka dikacangi, agar tak mengalami hal yang sama. Sebaiknya sebelum berkata, lihatlah situasi dan kondisi sekitar. 
Selain itu, ada juga orang dikacangi dalam hal serius. Seperti saat rapat atau diskusi. Lalu ketika menyampaikan suatu pendapat. Suara mereka tak dihiraukan. Malah dianggap seperti angin semu. Padahal kita di negara demokrasi,  yang rakyatnya bebas berpendapat dan mendapatkan hak sama. Tapi dalam keadaan ini, mereka merasa jadi jangkrik dalam kesunyian. Yang bunyinya krik krik krik, 
Jika pernah merasakan demikian. hendaknya kita lebih pintar dan bijak tuk memilih waktu bicara. Saya enggak hanya ngomong belaka. Tapi pernah merasakan juga. Ups jujur amat, wkwkwk. Setidaknya ini juga jadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ketika dalam lingkup diskusi, pasti banyak orang ingin mengutarakan pendapat, di situlah kita kondisikan bagaimana kelompok bisa kondusif dan setiap pendapat dapat terdengar. Dengan itu, virus senapan kacang akan berkurang. Have fun 

  • view 236