Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 30 Mei 2018   23:34 WIB
Siapa Namamu

“Relung hati tak dapat kutahan. Begitu perih diriku membawa beban. Jatuh bangun tiada henti tuk bertahan. Sakit yang benar-benar membuatku kelelahan.”
3 tahun telah berlalu. Usia yang menginjak kepala tiga tak lagi kupikir terlalu jauh. Aku sudah muak dengan janji manusia maupun Tuhan yang tak lelah habis kutunggu. Seyogyanya menunggu kepastian adalah keputus asaan.
“Rani, aku akan kembali”
“Rani, tunggulah beberapa bulan lagi”
“Rani, aku akan pulang sebentar lagi”
“Rani, aku akan melamarmu nanti”
Semua omong kosong yang selalu terngiang di antara lamunan kehidupan. Caka, seorang lelaki yang kudambakan beberapa tahun lalu telah menghilang dengan nyawanya terbang bersama Tuhan. Ia benar-benar meninggalkanku yang terpuruk dengan penantian. Dua tahun menunggunya tuk kembali pulang bukanlah waktu yang singkat. Tapi ia benar-benar tega tuk melakukannya padaku. Membiarkanku pilu dalam sendu yang semakin kelam.
Beberapa waktu lalu sudah kuputuskan tuk mengakhiri semuanya dengan kematian. Menghempaskan diriku di atas bangunan apartemen lantai sembilan. Sebuah loteng kosong, tempat paling cocok tuk merampas nyawaku lenyap. Kulangkahkan kakiku di tepi gedung dengan pelan. Beberapa langkah lagi diriku akan terbang. Suara angin kencang semakin menambah semangatku tuk terjun dalam kenestapaan. Aku terdiam. Memejamkan mataku sambil membayangkan bahwa semua kan habis dilahap masa depan yang hilang. Tak akan ada lagi kesedihan. Hanyalah diriku yang akan menghabisi nyawa dengan ketenangan.
Namun semua tak berjalan sesuai keinginan. Tuhan melarang. Dia bawakan salah seorang hambaNya tuk memberi keamanan. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar menyelamatkanku dari angin yang terus memberi tekanan. Aku menjerit sejadi-jadinya. Menangkal tangannya yang menggenggamku erat seperti cengkraman seekor singa. Pikiranku kocar-kacir. Aku mati rasa, tak ada lagi yang sanggup kurasa. Aku mati cita-cita, layaknya masa depan hanyalah Caka semata. Aku mati raga, rasanya tubuh ini sudah tak sanggup membawa luka.
Dia menarikku, membawaku duduk di atas sebuah sofa merah di balik tangga menuju loteng. Entah sejak kapan ada sofa di sana, aku tak peduli hal itu. Yang penting sekarang diriku masih kalut dalam jeritan yang tak kunjung tuntas. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Membuat celah di antara jemari hingga ku dapat melihat wajahnya sekilas, buram tak jelas. Entah karena aku tak mengenalnya atau pandanganku yang sudah kabur oleh isak tangis yang terus mengucur. Ia menatapku, sehingga segera kubuang muka darinya. Dibiarkannya aku menangis hingga air mataku sudah habis kering. Setelah lelah, aku mulai diam, namun pandanganku masih kosong oleh sekelebat pikiran yang tak sanggup ku gotong.
“Sudah nangisnya? cari makan yuk! Menangis itu membuang banyak kalori. Pasti kamu sekarang laper.” Aku masih diam tanpa menolehnya sedikitpun. Ia menarik lengan kiriku tuk bersamanya pergi dalam pertanyaan yang terbungkam oleh kebisuan. Siapa dia? Mengapa ia ada di sini saat aku ingin menjemput kematian? Mengapa ia menolongku? segelintir rasa penasaran yang kubiarkan hinggap bersama derap lemah langkah kaki yang kian menjauhi sofa merah yang kududuki tadi.
Aku mengikutinya. Membiarkan ia menemaniku di sela-sela kegilaan akan masa lalu. Membuatnya mengoceh panjang di jalanan tuk sekedar menghiburku. Ia menuntunku menapaki luka yang terus menerjang. Diambilnya serpihan luka yang terus menancap di hati. Sedikit demi sedikit, pelan nan lembut, hingga suatu ketika aku bertanya. Siapa namamu?

Surabaya, 29 Mei 2018

Karya : Dai