Lima Jari yang Kugenggam

Dai Firda
Karya Dai Firda Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Februari 2018
Lima Jari yang Kugenggam

Suatu hari umi pernah bilang, “nak, sampai kapanpun jagalah saudaramu. Jangan sampai kalian bertengkar karena apapun, umi tidak ridlo”. Kalimat itulah yang selalu mengiang-mengiang pikiranku. Tapi bagaimana mau cerai berai, kasih sayang tak semudah itu retak. 
Namaku Dai. Anak ketiga dari 5 bersaudara. Kakakku yang pertama telah sold out. Sedang yang kedua masih setia dengan Al-Qur’annya di pondok pesantren. Adikku yang pertama adalah satu-satunya lelaki setelah abi. Dia masih kelas 6. Meski begitu, umi telah memasukkannya dalam penjara suci yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. Hanya saja lokasinya berada di pedesaan yang jarang berpenghuni. Sehingga nyaman untuk belajar. Dan yang terakhir adalah saudari kecilku yang imut. Dia masih berusia 2 tahun dan pandai berbicara, meski bicaranya kadang enggak jelas, hahaha. 
Dan aku? Aku hanyalah Dai. Mungkin aku akan berbeda dengan 2 kakak perempuanku yang jeblosan pondok pesantren semua. Ya, aku dulu juga mondok sih. Tapi hanya 6 tahun. Dan kini aku sedang melanjutkan studi S1 di UIN Sunan Ampel setelah mendapatkan beasiswa MORA selama 4 tahun. Alhamdulillah.
Oke, kini kembali ke pembicaraan umi di atas. Siapa sih orang tua yang mau anak-anaknya enggak rukun dan bertengkar, apalagi kalau masalahnya adalah sepele. Pasti enggak ada kan. Mungkin umiku sedikit trauma atau bagaimana melihat lingkungan sekitarnya yang banyak ada pertengkaran keluarga gara-gara perebutan harta warisan. Menurutku sih itu sepele. Kan sekarang juga sudah ada hakim, para ulama juga masih ada. Tinggal datangkan mereka dan dihitung menurut ilmu faroidl kan beres. Gitu aja kok repot (“quotes of Gus Dur).
Kadang sih aku sering bertengkar dengan adikku. Dia memang suka mengganggu dan egois. Disitulah adakalanya emosi tak tertahankan. Akhirnya pun aku mengalah. tapi dengan kakak-kakakku, aku tak bisa bertengkar. Mereka berdua saja kadang ada konflik. Bagaimana aku bisa mencampur dan menambah konflik mereka. Meski perasaan tak enak, bagaimanapun juga mereka tetap saudaraku.
Itulah saudara. Bagaimanapun perasaan kita kepada mereka. Entah iri, benci, tak ingin mengalah, percayalah, batinmu tetap jadi satu dengan mereka. Genggam tangan mereka erat-erat. Karena ketika mereka disatukan, maka akan ada persatuan dari lima jari yang akhirnya jadi sebuah kekuatan tak tertandingi. **
 

  • view 118