Takut atau Minder

Dai
Karya Dai  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 Oktober 2017
Takut atau Minder

Kita semua pasti punya sesuatu yang ditakuti. Dan yang pasti hal pertama itu adalah Tuhan, jika tidak saya angkat tangan. Namun masalahnya, mengapa ketakutan itu dijadikan hal yang berlebihan dalam kehidupan nyata. Toh, seharunya itu menjadi kekuatan terbesar akan kejadian yang akan dihadapi.sKita semua pasti punya sesuatu yang ditakuti. Dan yang pasti hal pertama itu adalah Tuhan, jika tidak saya angkat tangan. Namun masalahnya, mengapa ketakutan itu dijadikan hal yang berlebihan dalam kehidupan nyata. Toh, seharunya itu menjadi kekuatan terbesar akan kejadian yang akan dihadapi.
Baik, secara sederhana begini. Kita bicara tentang individu masing-masing. Masihkah ada rasa tidak nyaman untuk berbicara di depan khalayak umum? Mungkin tak sedikit dari kalian begitu demikian. Alasannya pun beragam, ada yang grogi, demam panggung, bingung mau ngomong apa, gagap bicara, dan lain-lain. Dan karena hal tersebut mayoritas orang jantungnya berdetak kencang dari biasanya. Lalu yang dinamakan demikian disebut takut atau minder?
Kita akan membahas satu persatu. Apa sih takut itu? Apa sih minder itu? Apakah sangat berpengaruh pada masa depan? Dan jawaban saya “YES”. Mengapa demikian? Karena kedua hal tersebut adalah hasil dari pikiran yang akan ditransfer menuju otak dan akhirnya membuat individu mendoktrin dirinya sebagai penakut dan minder. 
Takut adalah suatu rasa tidak berani, gelisah, takwa, atau khawatir terhadap sesuatu. Untuk hal semacam ini, kita bisa mengambil dua sisi yang berlawanan, yakni segi positif dan negatif. Segi positifnya yakni seperti takut pada Tuhan, orang tua, maupun guru. Karena kepada merekalah kita mengharap ridlo. Sedangkan segi negatifnya seperti takut pada teman, takut untuk bercita-cita tinggi, takut untuk melangkah maju, dan lain-lain. Hal inilah yang sebaiknya dihindari agar tidak menghalangi celah mimpi dan masa depan cerah.
Minder adalah kata lain dari rendah diri. Diingat kembali, rendah diri bukan rendah hati. Sikap tersebut merupakan bentuk spesifikasi dari rasa tidak berani. Jika takut bisa saja membuahkan hal positif, tapi ini beda lagi. Ciri-ciri orang minder biasanya tidak suka berpartisipasi, enggan untuk melakukan sesuatu yang bukan bidangnya. Dan alasan pasarannya adalah “TIDAK MAMPU”. Kita tahu, Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurnya. Dari fisik, akal, hati, semuanya lengkap. Tapi mengapa kita masih minder? Allah bersabda dalam QS. Ibrahim:7
....لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ,وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيْدٌ
Artinya : “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Dari ayat tersebut sudah jelas bagaimana Allah memerintahkan untuk bersyukur. Dengan apa yang dipunyai sekarang, bagaimanapun kekurangan kita, hendaknya tetap semangat dan tidak minder. Prof. Ali Aziz, selaku salah satu dosen di UIN Sunan Ampel pernah mengatakan bahwa “Minder itu sama dengan tidak bersyukur terhadap nikmat Allah, dan lawan dari syukur adalah kufur nikmat, maka minder adalah kafir ” Sebuah kalimat singkat penuh makna yang kata anak zaman sekarang itu “Mak Jleb”.
Allah telah memberi 2 harta yang tidak ada tandingannya, yakni akal dan perasaan. Dan itulah potensi terbesar manusia. Harus kita ketahui bahwa selagi kita punya 2 hal tersebut, hendaknya banyak syukur dan  berusaha tuk memperbaiki diri dan selalu melangkah ke depan. Diam di tempat tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan sekali-kali kita harus keluar dari zona aman tuk mencari benang merah kehidupan. Masih mau minder?
Baik, secara sederhana begini. Kita bicara tentang individu masing-masing. Masihkah ada rasa tidak nyaman untuk berbicara di depan khalayak umum? Mungkin tak sedikit dari kalian begitu demikian. Alasannya pun beragam, ada yang grogi, demam panggung, bingung mau ngomong apa, gagap bicara, dan lain-lain. Dan karena hal tersebut mayoritas orang jantungnya berdetak kencang dari biasanya. Lalu yang dinamakan demikian disebut takut atau minder?
Kita akan membahas satu persatu. Apa sih takut itu? Apa sih minder itu? Apakah sangat berpengaruh pada masa depan? Dan jawaban saya “YES”. Mengapa demikian? Karena kedua hal tersebut adalah hasil dari pikiran yang akan ditransfer menuju otak dan akhirnya membuat individu mendoktrin dirinya sebagai penakut dan minder. 
Takut adalah suatu rasa tidak berani, gelisah, takwa, atau khawatir terhadap sesuatu. Untuk hal semacam ini, kita bisa mengambil dua sisi yang berlawanan, yakni segi positif dan negatif. Segi positifnya yakni seperti takut pada Tuhan, orang tua, maupun guru. Karena kepada merekalah kita mengharap ridlo. Sedangkan segi negatifnya seperti takut pada teman, takut untuk bercita-cita tinggi, takut untuk melangkah maju, dan lain-lain. Hal inilah yang sebaiknya dihindari agar tidak menghalangi celah mimpi dan masa depan cerah.
Minder adalah kata lain dari rendah diri. Diingat kembali, rendah diri bukan rendah hati. Sikap tersebut merupakan bentuk spesifikasi dari rasa tidak berani. Jika takut bisa saja membuahkan hal positif, tapi ini beda lagi. Ciri-ciri orang minder biasanya tidak suka berpartisipasi, enggan untuk melakukan sesuatu yang bukan bidangnya. Dan alasan pasarannya adalah “TIDAK MAMPU”. Kita tahu, Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurnya. Dari fisik, akal, hati, semuanya lengkap. Tapi mengapa kita masih minder? Allah bersabda dalam QS. Ibrahim:7
....لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ,وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيْدٌ
Artinya : “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Dari ayat tersebut sudah jelas bagaimana Allah memerintahkan untuk bersyukur. Dengan apa yang dipunyai sekarang, bagaimanapun kekurangan kita, hendaknya tetap semangat dan tidak minder. Prof. Ali Aziz, selaku salah satu dosen di UIN Sunan Ampel pernah mengatakan bahwa “Minder itu sama dengan tidak bersyukur terhadap nikmat Allah, dan lawan dari syukur adalah kufur nikmat, maka minder adalah kafir ” Sebuah kalimat singkat penuh makna yang kata anak zaman sekarang itu “Mak Jleb”.
Allah telah memberi 2 harta yang tidak ada tandingannya, yakni akal dan perasaan. Dan itulah potensi terbesar manusia. Harus kita ketahui bahwa selagi kita punya 2 hal tersebut, hendaknya banyak syukur dan  berusaha tuk memperbaiki diri dan selalu melangkah ke depan. Diam di tempat tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan sekali-kali kita harus keluar dari zona aman tuk mencari benang merah kehidupan. Masih mau minder?

  • view 35