Tentang Baida

Argo Kumoro
Karya Argo Kumoro Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Februari 2016
Tentang Baida

?

Kisah ini nyata..

nyata terjadi dan teralami..

tentang seorang rekan kerja semasa di aceh dulu..

Rahmad namanya..

Yang tinggal selang dua rumah di belakangku.

Bersama istri serta kedua anaknya...

Zubaidah..? biasa kami panggil baida, adalah nama anak sulungnya yang masih berusia sekitar tiga tahun?

Keluarga kecil yang biasa-biasa saja..

namun terlihat bahagia..

Sesekali mereka pulang ke rumah orang tuanya di meulaboh.

Aku pernah singgah ke sana...

Sebuah rumah sederhana, asri dan rapi, tepat di bibir pantai Aceh Barat....

?

Hari itu,..

saat bertepatan libur kerja dua hari, merekapun berkunjung ke rumah itu..

Aku lupa persisnya, apakah Rahmad sedang berada di rumah itu ketika gempa raksasa itu terjadi. Tapi yang jelas, dia tidak berada di sana saat gelombang tsunami menghantam..

Dia sedang di perjalanan dengan motor butut kesayangannya menuju rumah itu..

Melaju pelan menyusuri jalan raya di sepanjang sisihan pantai..

Tetap tenang, meski gempa yang barusan terjadi pastilah meruntuhkan jantung semua orang..

Tetapi mendadak matanya dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang tidak biasa..

Di sepanjang horizon samudera, muncul sebuah dinding hitam memanjang sejauh pandangan..

Semakin meninggi..

semakin jelas..

Dan semakin mendekat..

Dengan kecepatan yang luar biasa?

Rahmad sadar..

Apapun itu namanya, hawa marabahaya jelas sangat terasa?

Dia campakkan kendaraannya, dan segera berlari memanjat pohon kelapa setinggi-tingginya..

Dipeluknya batang pohon itu sekuat tenaga yang dia punya..

Tepat ketika pohon itu terpelanting dengan kerasnya, saat gelombang air pasang kehitaman menerjang..

Terombang ambing bagai sebatang lidi yang dimainkan anak-anak..

Namun masih tetap bertahan pada akarnya yang tertancap kuat..

Seakan menjaga sesosok tubuh anak manusia yang memang belum saatnya meninggalkan dunia fana..

?

Rahmad selamat..

?

Tapi tidak dengan istri serta orang tuanya..

Tidak juga dengan baida serta adiknya...

?

Tidak ada yang tersisa dari rumah sederhana yang asri dan rapi itu..

Selain beberapa keping sisa lantai., seolah bersaksi bahwa pernah ada rumah berdiri di atasnya..

Bahwa pernah ada anak kecil benama baida yang menghiasai keceriaannya....

?

Kisahku ini sebenarnya memang tentang Baida..

Yang masih melekat dengan erat sosok dan keriangannya di ingatanku..

Anak perempuan kecil bermata bening..

Lincah dan periang..

Yang setiap pagi selalu setia menungguku lewat di depan rumahnya saat kuberangkat menuju tempat kerja..

Menatapku dari balik pintu teras rumahnya..

Dengan tawa dan senyumnya yang lucu..

Untuk sekedar memanggil-manggilku dengan suara renyahnya..

?..awo.. awo.. awo..?

( *awo adalah panggilan anak kecil aceh untuk Uwak atau Pakde..*)

Namun selalu menghilang di balik punggung mamaknya tatkala aku menggodanya dengan berpura-pura hendak mendatangi dan mengambilnya?

Lalu dengan malu-malu mengintipku lagi untuk memanggil-manggilku saat kumenjauh dari rumahnya..

"..awo.. awoo..."

?

hmmm...

Rutinitas pagi yang sangat menyenangkan..

Dan sangat membahagiakan..

Sekedar pengobat rindu kepada anak-anakku yang terpisah ribuan kilo meter....

Aku tulis kisah ini karena ingin kukirimkankan sebuah pesan untuknya..

Dan semoga Allah SWT berkenan menyampaikan padanya...

?

" Baida.. kuharap kau tak melupakan awo-mu ini..

karena awopun selalu mengingatmu hingga detik ini..

Awo ingin kau tetap setia menunggu awo di pintu teras surga..

Dan jagalah pintu itu agar senantiasa tetap tebuka untuk awo.

Dan jika tiba suatu saat nanti, panggillah awo sekeras-kerasnya ketika kau lihat awo melintas di depanmu..

Tapi jangan kau lari dan sembunyi lagi tatkala awo datang menghampirimu..

Peganglah tangan awo erat-erat .

Lalu bimbinglah awo masuk melewati pintu surga itu.

Agar kita bisa bermain-main dan becanda-canda kembali seperti dulu..

Selamanya..,?

?

  • view 92