Surga di telapak tangan

daeng faiz
Karya daeng faiz Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Surga di telapak tangan

Surga di Telapak Tangan

By Khairul Faiz

Ini bukan kali pertama aku berdiri di hadapan banyak orang. Aku bahkan pernah berada di podium yang lebih megah dengan jumlah audiens yang lebih banyak. Akan tetapi, kali ini rasanya berbeda. Kedua kaki ku rasanya tidak cukup menopang tubuhku yang ringkih.

Sesungguhnya, aku tidak ingin berada di sini, bahkan tidak seharusnya ada di sini. Berdiri di hadapan ratusan wisudawan salah satu universitas terbaik di Jerman. Aku bersyukur di hela-hela nafas ketegangan, yang ku atur sedemikian rupa agar tidak tampak gugup.

Berdiri sebagai mahasiswa terbaik adalah target yang sudah ku rencanakan 2 tahun silam. Saat mimpi-mimpi itu masih terselip di sela-sela pintu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Layaknya kayuhan pedal sepeda, mimpi-mimpi itu bergerak perlahan menuju satu arah yang sama.

Saat itu, lamunanku membawaku kembali ke tahun 1995, ketika lengan ayahku masih menjadi guling istirahat yang hangat. ?Ayahku bernyanyi tanpa sumbang untuk mengantar anaknya yang penakut ini tidur. Beliau teristimewa. Tak jarang aku dinaikkan di atas kepalanya. Senang sekali, melihat dunia ini dari ketinggian, impian setiap anak kecil kala itu. Beliau membahagiakan.

Ayah ku adalah sosok yang tiada bosan diceritakan. Aku masih ingat ketika dua minggu lalu beliau menelpon ku dan menceritakan tentang film Sang Pencerah yang dulu kami nonton bersama di Bioskop. Yah, itu pengalaman pertama kami ke Bioskop. Tidak lain karena Ayahku sangat mengidolakan KH. Ahmad Dahlan. Dari 30 menit durasi percakapan kami, ada satu hal yang paling membekas, beliau berpesan

?Boleh saja otak mu kualitas Jerman, tapi ingat, hati mu harus berkualitas Medinah? tutur beliau di ujung pembicaraan.

Bukan tidak pernah kami berselisih. Sering sekali, bahkan untuk hal-hal kecil yang selalu aku anggap kolot. Pandangan ayah ku terlalu visioner, bahkan beliau seringkali mencemaskan sesuatu yang tidak pantas mengisi ruang di kepala. Tak jarang aku kesal dengan sikap beliau.

Namun ketika beranjak dewasa, aku menemukan jawaban atas keganjilan-keganjilan di masa kecil itu. Salah satunya ketika beliau mendaftarkan ku kursus bahasa inggris, aneh, padahal beliau berprofesi sebagai guru bahasa inggris di sekolah dekat rumah. Ternyata, ayah ku ingin agar anaknya yang manja ini, merasakan perjuangannya sendiri. Menemukan setiap tetes ilmu, dan mengumpulkannya dalam botol ku sendiri.

Waktu SMA dulu, tiap hari beliau mengantar ku ke sekolah dengan motor bututnya. Seringkali, sengaja aku minta diturunkan agak jauh dari sekolah. Pertama, aku malu dengan motor tua ayah ku. Aku sekolah di salah satu sekolah favorit di Makassar, yang notabenenya sukar menemukan orang pas-pasan di sana. Beberapa temanku bahkan mengendarai mobilnya sendiri.

Alasan kedua, aku tidak ingin teman-teman ku melihat kebiasaan ku mencium tangan ayah sebelum ke sekolah. Dalam otak ku, itu sebuah kebiasaan kolot yang aku lakukan hanya untuk menghargai beliau. Sampai suatu hari, salah satu teman baik ku, Andry, ?tidak sengaja melihat ku dari jauh. Aku malu sekali ketika dia bertanya.

?Itu tadi Bapak kamu?? tanya Andry dengan penuh rasa penasaran.

?yang mana? Mm... iya? jawab ku diselimuti rasa malu.

?Boleh aku kenal dengan beliau, aku juga ingin menyalimi tangannya? pinta Andry.

Aku terkejut. Saraf di otak ku rasanya tidak berfungsi dalam hitungan detik. Awalnya, ku pikir dia bercanda, sekedar menjadikan aku dan ayah ku bahan leluconnya. Namun, ternyata permintaannya itu serius. Keesokkan harinya, Andry berdiri di tempat biasanya ayah ku menurunkan ku. Andry tiba-tiba memperkenalkan dirinya sendiri, dan tanpa malu-malu menjabat tangan ayahku, lalu diciumnya.

Setibanya di kelas, aku segera menemuinya. Tak sabar rasanya memecahkan ribuan tanya di kepalaku.

?Maaf Andry, saya tidak mengerti dengan apa yang kamu lakukan pagi tadi.

Ayah kamu masih ada kan?? tanya ku dengan sedikit nada pelan.

?

?Iya, ayah saya masih ada, tapi beliau sangat sibuk. Kamu beruntung, punya seorang ayah yang bisa kau salim tangannya tiap hari sebelum berangkat sekolah? jawab Andry.

?

Dada ku seketika sesak. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi malu mencium tangan ayah ku. Dari Andry, aku belajar bersyukur, ?ternyata melampaui batas gengsi ?jauh lebih membahagiakan. Sampai terakhir kali ayahku mengantarku di Bandara Soekarno-Hatta, aku masih mencium tangannya. Aku rindu aroma itu.

?

Aku membawa kebiasaan-kebiasaan baik dari beliau. Termasuk, ketika menjelang waktu shalat, Ayahku akan menghentikan kegiatan apapun yang dikerjakannya. Beliau selalu mempersiapkan 30 menit waktunya sebelum adzan berkumandang. Tak lupa, beliau mengetuk pintu kamar ku, untuk mengingatkan. Ketukan pintu yang selalu aku rindukan di tanah rantau.

?

Aku masih sibuk merapikan dasi yang kukenakan. Sebentar lagi aku harus berdiri di podium itu, tidak hanya membawa nama ku sendiri, bukan pula keluargaku, ?tetapi ?juga mewakili negara Indonesia. Perasaanku masih kacau. Aku masih memikirkan ayah ku.

?

Bagaimana mungkin aku bisa merayakan pencapaian ini, sementara beliau sedang terbaring berjuang menghadapi proses operasi amputasi ?kedua tangannya. Tangan yang aromanya selalu aku rindukan. Tangan yang mengetuk pintu kamar ku di setiap waktu shalat. Tangan yang tak pernah berhenti menengadah seraya mendoakan ku. Tangan yang bekerja siang dan malam demi memenuhi pintaku. Tangan yang pernah menjadi guling istirahat ku di waktu kecil. Tangan yang mengangkat ku tinggi-tinggi hingga aku bisa melihat dunia, hingga aku berani untuk bermimpi.

?

Aku berdiri lagi di hadapan cermin, berbicara dengan pantulanku sendiri. Ku rapikan lagi sedikit demi sedikit rambut ku. Aku masih cemas. Sesekali ku intip jam di layar handphone yang ada di saku celana. Perlahan aku memejam, berharap dimensi lain sedang di atur Tuhan. Aku berbicara pada-Nya. ?Tuhan, terima kasih untuk surga yang kau titipkan di telapak tangan ayah ku. Izinkan beliau memeluk ku sekali lagi.?



  • view 240