Bersama UNTAN Membangun Negeri

Bersama UNTAN Membangun Negeri

Fadly Yashari Soumena
Karya Fadly Yashari Soumena Kategori Lainnya
dipublikasikan 31 Juli 2018
Bersama UNTAN Membangun Negeri

UNTAN JADI PANUTAN “JEJAK PENGABDIAN TAPAL BATAS DARI BUMI KHATULISTIWA”

Tebentang gares khatulistiwa
Sungai Kapuas membelah kote
Nikmat makanan menggugah rase
Pontianak berlimpeh cinte santon masyarakatnye

Lirik lagu berjudul “Pontianak Berjuta Mimpi” karya Muhaammad Irfan Hadiri, sudah cukup memberi kesan betapa baiknya karunia Tuhan yang diberikan kepada Kota Pontianak. Kekayaan alam yang berlimpah, budi masyarakatnya yang elok, serta kebudayaan yang sarat akan makna. Terletak di salah satu pulau terbesar di dunia, membuat Pontianak menjadi salah satu destinasi terbaik pariwisata di Indonesia. Di luar keelokan itu, Kota Pontianak dan Provinsi Kalimantan Barat pada umumnya, masih memiliki permasalahan sosial kemasyarakatan yang memerlukan perhatian khusus. Salah satunya permasalahan yang ada di wilayah perbatasan.
"Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang merubah dirinya”. Sejatinya, kompleksitas permasalahan di wilayah perbatasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat semata, tetapi seluruh elemen masyarakat, termasuk di dunia pendidikan. Hal inilah yang kemudian melahirkan semangat pengabdian dan pengorbanan dari beberapa lembaga pendidikan di Provinsi Kalimantan Barat, termasuk Universitas Tanjungpura (UNTAN)

 KEBAIKAN ITU BERNAMA UNTAN

Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik yang ada di Pulau Kalimantan, UNTAN tentu memegang peranan penting pada proses pembangunan, khususnya di bidang pendidikan. Sejak beridiri pada tahun 1959, UNTAN telah menghasilkan lulusan yang mampu bersaing tidak hanya pada dunia kerja, tetapi juga berdedikasi positif di tengah masyarakat. Hal tersebut kemudian tercermin dalam misi utama yang coba diusung oleh UNTAN yaitu “Menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara bermutu sehingga dapat menghasilkan luaran yang mampu mengikuti, mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta mampu memberikan arah bagi pengembangan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing”. Misi inilah yang coba diorientasikan pada setiap kegiatan kampus, baik secara internal maupun eksternal.
Kualitas sebuah perguruan tinggi, tidak hanya dilihat dari kemampuanya dalam memberikan wadah pendidikan bagi masyarakat, tetapi lebih dari itu. Salah satu isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian pada masyarakat. Aspek inilah yang menjadi tolak ukur utama bagaimana sebuah kampus mengelola kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk kemudian mampu berkontribusi memecahkan masalah yang ada di tengah masyarakat, baik pada lingkup sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, maupun agama. Permasalahan masyarakat yang begitu kompleks, menuntut peran serta dunia perguruan tinggi dalam memberikan ide ataupun gagasan yang bersifat kreatif, inovatif, dan kompetitif.
Karakteristik negara Indonesia yang berciri khas kepulauan, merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan di masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan. Selaras dengan hal tersebut, UNTAN sejatinya ikut ambil bagian dalam usaha perbaikan diwilayah perbatasan, termasuk yang berada di Provinsi Kalimantan Barat (Perbatasan Indonesia dan Malaysia).
Seperti seekor “bunglon”, UNTAN mencoba menyelaraskan usaha pengabdiannya dengan melihat ruang lingkup permasalahan di perbatasan. Hal tersebut terlihat dari beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kampus ini. Pada tahun 2014, UNTAN bahkan dipercaya menjadi tuan rumah konferensi internasional yang khusus membahas tentang wilayah perbatasan. Konferensi yang bertajuk “Border and Development International Conference” juga dihadiri oleh beberapa delagasi negara. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah mengkaji formulasi yang paling tepat bagi pengembangan pembangunan dan kesejahteraan di wilayah perbatasan.
Pada tahun 2017, UNTAN kembali menginisiasi sebuah kegiatan internasional bernama The 8th CILS International Conference on States Boundary Affairs. Kegiatan ini dilakanakan oleh Fakultas Hukum UNTAN bekerjasama dengan Center for International Law Studies (CILS). Terhitung 6 pembicara internasional ikut ambil bagian pada konferensi tersebut diataranya berasal dari negara Belanda, Switzerland, New Zealand, dan Jepang. Kepedulian UNTAN terhadap wilayah perbatasan juga ditunjukkan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pada 23 Agustus 2017, kelompok KKN Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Revolusi Mental Posko Kaliau mengadakan Seminar Bahaya Narkoba kepada pelajar SMKN 1 Sajingan Besar. Seminar tersebut dilaksanakan sebagai upaya mencegah peredaran narkoba di wilayah perbatasan, mengingat wilayah perbatasan di Indonesia merupakan titik rawan penyelundupan narkoba lintas negara. 
Terbaru, pada tanggal 21 April 2018 misalnya Agroteknologi Lintas Batas (Aglib) Fakultas Pertanian UNTAN memberikan penyuluhan dan pelatihan tanaman Lada kepada masyarakat salah satu wilayah perbatasan di Kalimantan Barat yaitu Desa Sontas, Kecamatan Entikong. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengoptimalisasi hasil pertanian masyarakat khususnya pada tanaman Lada, sehingga mampu memiliki nilai jual yang tinggi dan mampu bersaing dengan komiditi lainnya.

 PENGABDIAN TIDAK PUNYA TITIK

Apa yang dilakukan oleh UNTAN dengan ikut ambil bagian dalam membantu masyarakat perbatasan merupakan cerminan dari usaha perguruan tinggi untuk menjadi bagian pembangunan bangsa. Usaha ini juga merupakan salah satu wujud mengubah stigma masyarakat yang melihat pengabdian dari ranah kampus hanya sekelas “Pagarisasi” dan “Plangisasi”. Jejak pengabdian yang dilakukan oleh UNTAN seharusnya mampu menjadi penyemangat bagi Perguruan Tinggi lain untuk “peka” terhadap permasalahan sosial masyarakat disekitarnya. Wilayah perbatasan mungkin saja memiliki keterbatasan, namun kreatifitas dan semangat pengabdian yang terus dilakukan oleh UNTAN tidak akan mencapai titik habisnya, karena pengabdian bagi sebuah Perguruan Tinggi lebih dari sekadar Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu panggilan dari hati.



REFERENSI

  1. tribunnews.com
  2. antaranews.com
  3. untan.ac.id

  • view 64