Pikirkan Ini Sebelum Melukai

Fadly Yashari Soumena
Karya Fadly Yashari Soumena Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Juni 2018
Pikirkan Ini Sebelum Melukai

Aku pernah melukai dan terlukai. Tidak ada yang bagus dari keduanya, sama-sama sulit berdamai dengan kerelaan. Dalam perkara asmara dan jatuh hati, terluka dan melukai bukan lagi hal yang biasa, karena itu hanya soal waktu. Orang yang melukai selalu membenarkan caranya karena itu adalah keputusannya, dan orang yang dilukai menepatkan dirinya pada objek paling menderita dan tersakiti. Padahal semuanya, bisa saja berakhir bahagia tanpa harus ada yang melukai dan terluka, jika saja logika dapat disatukan dengan perasaan.

Awalnya kita yakin bahwa “dia yang terbaik untuk saya”, namun nyatanya waktu menjawab “jelas, perasaan ini salah”. Jangan berdamai dengan penantian, berlarut-larut dalam rasa yang hampa, hanya membuatnya terluka. Berikan kepastian, walaupun pada akhirnya dia akan terluka dengan kepastian yang kau berikan, setidaknya perasaan terlukanya tidak akan sedalam dan sekejam jika kau mengutarakannya pada hubungan yang sudah terlalu lama. Semuanya terletak pada konsekuensinya, sehingga pikirkanlah sebelum mengambil keputusan masalah asmara, yakinkan diri apakah itu cinta sejati atah hanya cinta “makan hati”. Saya pernah jatuh cinta pada hati yang salah, perasaan yang saya anggap benar nyatanya tidak seperti yang diperkirakan. Saya pun mengakhirinya, walaupun cara ini cukup kejam, namun itu saya lakukan sekadar agar hatinya tidak terluka lebih dalam.

Karma, adalah cara terbaik dalam mengobati rasa sakit orang dilukai perihal asmara. Karena jika karma terjadi, kalimat simpulan yang akan hadir adalah “ini balasannya karena kau dulu pernah menyakitiku”. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, pasti ada dampak dan akibatnya. Jika kita pernah melukai seseorang, jangan heran jika saja nanti giliran hatimu yang akan terluka. Begitupun dengan orang yang dilukai, penderitaan sebenarnya tidak perlu disematkan padanya, mungki saja apa yang dia alami itu, merupakan karma dari perbuatan dahulu. Jadi, jangan berbangga dengan predikat “melukai dan terlukai”.

  • view 69