Saya menikah muda, Kamu ? (Part 2)

Fadly Yashari Soumena
Karya Fadly Yashari Soumena Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Mei 2018
Saya menikah muda, Kamu ? (Part 2)

Salah satu dosen saya di Universitas Indonesia, Bapak Cholil Nafis pernah berkata bahwa “Orang yang mengingat kematian adalah cerdas, tapi takut akan kematian adalah sebuah kebodohan. Sehingga, orang yang ingat mati akan mempersiapkan kematian”. Nah, jika meningkatkan ibadah kepada Tuhan merupakan cara untuk mempersiapkan kematian, maka menurut saya menikah adalah salah satu bentuk ibadah kepada Tuhan yang secara tidak langsung membantu kita dalam mengingat kematian. Menikah mengajarkan kepada kita bagaimana menyatukan kebahagiaan dan ibadah melalui sebuah ikatan. Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menikah, dan kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Karena saya yakin dengan menikah,  dapat memberikan kebahagian pada diri sendiri maupun orang-orang disekitar saya.

Hanya ada dua tipe alasan seseorang belum menikah, pertama dia belum siap, kedua dia siap tapi dihadapkan pada tantangan. Ada yang beralasan “Takut berkeluarga”, “Mau ngejar karir dulu, ngumpulin duit dulu”, “Mau sekolah dulu yang bagus, kemudian kerja” nah alasan-alasan tersebut tergolong kategori tipe pertama. Ada juga yang beralasan “belum ketemu jodohnya, belum ada yang cocok di hati”, “belum diizinkan sama orang tua”, “saya masih ngga punya uang ngelaksanain pesta pernikahan”, “Saya sudah siap, tapi dia-nya belum” nah alasan-alasan ini tergolong tipe kedua. Setiap orang memiliki hak menentukan arah dan jalan hidupnya, termasuk soal pernikahan, tidak ada yang salah dalam setiap alasan orang-orang di atas. (Saya akan menjelaskan lebih lanjut pada part 3)

Dulu, saya pernah meraih beberapa prestasi di bidang pendidikan, dan itu cukup membuat orang tua saya bahagia dan bangga. Bahkan sempat terfikir dalam benak ini, untuk terus membahagiakan mereka walaupun dengan mengorbankan kebahagiaan saya sendiri. Namun, muncul pertanyaan dalam diri, ”apakah saya bisa membahagiakan mereka dengan cara saya sendiri tanpa harus mengorbankan kebahagiaan saya ?”. Pertanyaan inilah yang menjadi tantangan bagi saya ketika memutuskan untuk menikah. Karena pada awalnya orang tua saya sudah memperingatkan untuk lebih mengutamakan pendidikan dulu dari pada membahas soal pernikahan.

Apakah saya memaksakan kehendak untuk menikah? Jawabannya tidak, karena saya tahu “Ridho Tuhan, tergantung ridho kedua orang tua, murkanya Tuhan tergantung pada murkanya orang tua”. Saya ingin mengejar ridho kedua orang tua, dan tentu perlu proses untuk sampai pada titik itu . Saya membutuhkan waktu kurang lebih 7 bulan untuk meyakinkan mereka, walaupun saya yakin diluar sana masih ada orang yang masih berjuang meyakinkan orang tuanya perihal pernikahan dengan memakan waktu bahkan hingga bertahun-tahun. Mengapa saya berani menjalani semua itu ? sekali lagi, ini karena saya punya kesempatan untuk berbahagia sekaligus beribadah, dan saya yakin setiap orang tua ingin anak mereka hidup dalam kebahagiaan.

  • view 147