Aku Sebut itu KARMA

Daeng Fadly Soumena
Karya Daeng Fadly Soumena Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 April 2016
Aku Sebut itu KARMA

Air mataku sudah habis, dadapun terasa kian sesak. Hati yang dulu menjadi puncak dari segala rasa, kini hanya menangisi sosok perusak kotak pandora hidupku. Ratapan kosong sudah menjadi makanan hari-hariku, dibarengi "bayangan" niat buruk untuk mengakhiri hidup dalam sekejap. Alunan musik yang dulu kita dengarkan bersama, sekarang terasa seperti irama instrumen "Gugur Bunga". Logika dan rasaku tidak dapat menerima semua ini, parasamu hanya menjadi topeng penghasut yang ternyata melindungi niat setan yang ada dibelakangmu. Terkadang aku bertanya pada Sang Pencipta Rasa, Mengapa harus menempatkanku pada orang yang salah dan akhirnya mengantarkannku pada keadaan yang salah? 

Aku tidak berharap banyak pada keadaan, karena aku tahu KARMA sedang berjalan menghampirimu. KARMA yang kuharap dapat menjadi wakil dalam menitip rasa sakitku padamu. Tidak usah berlari, diam disitu, diamlah seperti alasamu pertamamu menungguku, yang ternyata menjadi "Bom Waktu" untukku. Katamu "Cinta itu kita, kita hanya perlu berjalan bersama dan saling bergandengan tangan". Semuanya salah, yang aku tahu kini kita tetap berjalan bersama namun berlawanan arah, langkah kita tidak lagi sama. Aku mencoba berlari dari kenyataan, dan kau berjalan dengan sangat tenang bersama pendamping barumu. 

  • view 145