Catatan Mahasiswa

Fadly Yashari Soumena
Karya Fadly Yashari Soumena Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 April 2016
Catatan Mahasiswa

Telah lama gaung reformasi berbunyi, suara mahasiswa telah merubah wajah negeri yang dahulu suram akan keserakahan, kejahatan, keterpurukan bahkan terjebak dalam jurang kebodohan menjadi sebuah harapan akan mimpi indah di masa depan. Dengan teriakan dan spanduk di tangan, mahasiswa menunjukkan kepada dunia bahwa suara yang mereka keluarkan adalah suara jeritan rakyat? yang telah lama haus akan kebebasan. Mahasiswa seakan menjadi sebuah ?mata air? penyejuk di tengah padang pasir tandus tanpa tanda-tanda kehidupan.

Gerakan mahasiswa, telah memberikan lembaran cerita tersendiri dari sejarah negeri ini. Gerakan yang mengantarkan Indonesia pada gerbang kebebasan? dari tangan-tangan penindas dan pikiran-pikiran licik para pemangku kekuasaan . Bak gayung bersambut, cucuran keringat mahasiswa akhirnya terbayar dengan digusurnya rezim perusak moral bangsa. Senyum ibu pertiwi yang dahulu hilang, telah dilukis kembali oleh jiwa-jiwa ksatria muda dalam diri mahasiswa Indonesia.

Kini waktu terus berputar, negeri ini terus mengalami perubahan dari berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Tak dapat dipungkiri, sejak reformasi didengungkan sampai sekarang, kompleksitas pemasalahan juga silih berganti berdatangan. Pembunuhan, pertikaian berbau SARA, penyuapan, sampai dengan kasus korupsi hampir setiap hari menghiasi halaman depan ?berbagai media cetak dan menjadi berita utama diberbagai media elektronik.

Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, mahasiswa tidak hanya memiliki tugas untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Akan tetapi sebagai pihak yang telah menyandang gelar ?pengkritisi?, mahasiswa juga berperan dalam mengawal dan mengawasi sepak terjang pemerintah dalam berbagai kebijakannya. Hal ini sangat diperlukan agar pemerintah tidak seenaknya mempermainkan jabatan mereka dengan memperalat rakyat kemudian mempertebal kantong pribadi.

Mahasiswa dengan berbagai pergerakannya yang mengatas namakan rakyat, telah banyak memberikan sumbangsi positif bagi perubahan negeri ini. Suara keluh kesah rakyat miskin dipinggriran kota seakan menjadi teriakan besar ketika keluar dari mulut mahasiswa. Jeritan hati para buruh yang menuntut haknya seakan berarti ketika mahasiswa ikut menyurakan hak tersebut. Tangisan bayi busung lapar seakan terdengar sampai ke media massa ketika disuarakan oleh mahasiswa. Semuanya akan berarti ketika mahasiswa mulai bergerak.

Mahasiswa bukan tong kosong nyaring bunyinya, ketika mahasiswa beserta pergerakannya mulai memperjuangkan sebuah hak, maka mereka datang dengan segudang solusi pasti. Mahasiswa bukan orang bodoh yang mau menyiksa tenggorokannya dengan teriakan-teriakan penuh omong kosong. Pola pikir kritis dan terkonsep membuat mahasiswa mengerti akan betapa pentingnya kode etik dalam mengkritik, bukan malah sebaliknya, mengkritik sebuah kode etik tanpa ada jalan keluar yang ditawarkan.

Hal yang sangat disayangkan, ketika mahasiswa menyuarakan aspirasi, para pemangku jabatan di pemerintahan seakan diam dan tak ada respon sama sekali. Para pejabat pemerintahan menganggap suara mahasiswa hanya sekelas ocehan belaka yang dengan sendirinya akan hilang tanpa harus ditanggapi. Memang, ada juga pejabat pemerintahan yang meluangkan waktunya mendengarkan aspirasi dari gerakan mahasiswa, namun tidak ada tindak lanjut sama sekali. Janji hanya sebuah isapan jempol belaka, semuanya dilakukan demi sebuah niat kemunafikan yang terkonsep dalam sebuah politik pencitraan.

?

Yogyakarta, 03/04/2016

  • view 585