KONSEP 3 in 1; PENERAPAN BLUE ECONOMI TANPA KOMPROMI

Daeng Fadly Soumena
Karya Daeng Fadly Soumena Kategori Ekonomi
dipublikasikan 24 Maret 2016
KONSEP 3 in 1; PENERAPAN BLUE ECONOMI TANPA KOMPROMI

Nenek moyangku seorang pelaut

Gemar mengarung luas samudera

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

??

Sepenggal bait lagu anak-anak di atas mungkin terdengar tidak asing di telinga.Sedikit lagu di negeri ini yang mencoba menggambarkan laut dalam bingkai sejarah.Memang benar,laut merupakan bagian terpenting yang tak dapat dipisahkan dari kepingan sejarahterbentuknya bangsa ini.Nenek moyang bangsa ini telah menjadikan tradisi melautsebagai tradisi turun temurun yang seharusnya dapat dilestarikan dengan baik.Sebuah perpaduan sejarah dan corak kebudayaan yang mencoba melandasi penerapan Blue Economi sebagai suatu keharusan bagi Indonesia.

Luas daratan sekitar 1,9 juta km2 dan luas laut sekitar 5,8 juta km2 , perbandingan yang sangat jelas menyatakan laut negeri ini menjanjikan sebuah harapan guna mencapai kesejahteraan. Julukan Negara Maritim yang disandang Indonesia dari dunia Internasional harusnya dipandang juga sebagai suplemen penyadaran bahwa sektor kelautan Indonesia memiliki potensi yang besar.

Sayang, realita tak semanis julukannya.Di era globalisasi sekarang ini, setiap negara tidak terkecuali Indonesia terus berusaha menciptakan kesejahteraan masyarakatnya melalui beberapa master plan pembangunan.Namun, pembangunan yang tercipta lebih mengarah ke sektor darat ketimbang ke sektor kelautan.Sektor keluatan dengan segala bidang cakupannya seperti di anak tirikan dalam pembangunan bangsa ini.Hal tersebut berakibat pada berkurangnya daya tarik investor lokal ataupun luar negeri untuk berkecimpung di dunia maritim nasional.

Beberapa waktu lalu, KADIN bagian kelautan dan perikanan merilis data kelautan Indonesia yang cukup memprihatinkan.Indonesia kalah dengan China sebagai produsen utama sektor perikanan dan kelautan padahal secara kasat mata luas perairan China lebih kecil dibandingakan dengan Indonesia. Jumlah ekspor ikan Indonesia hanya mencapai USD 3,34 miliyar pada tahun 2011 dan USD 5 miliyar pada tahun 2012 dari sekitar 5,8 juta km2 luas laut Indonesia.Tak heran jika sektor kelautan hanya menyumbang sekitar 22 persen untuk PDB Indonesia.Sebuah realita yang patut dipertanyakan.

Bukan saja menyoal sumber daya alam, tetapi juga menyangkut ketersediaan sumber daya manusia untuk sektor kelautan.Hal ini mungkin tergambar dari kehidupan masyarakat pesisir, Kompleksitas permasalahan dalam berbagai aspek kehidupan silih berganti berdatangan.Mulai dari tingkat kemiskinan, pendidikan, bahkan sampai pada sektor infrastruktur masyarakat pesisir yang kurang memadai.Ketergantungan pada hasil laut, membuat mereka kurang memiliki kemampuan untuk berinovasi dan kreatif mencari pekerjaan sampingan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang ini tak pula membuat mereka berjalan menuju perubahan menjadi lebih baik.Kurangnya perhartian pemerintah membuat mereka semakin tenggelam dalam jurang ketidaktahuan dan buta informasi. Menurut data BPS di tahun 2008, terdapat sekitar 63,47% penduduk miskin yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan dari total jumlah penduduk miskin sekitar 34,96 juta di negara ini.Data tersebut diperkirakan akan terus meningkat karena kurangnya program-program pemerintah yang berpihak pada masyarakat pesisir.

?

KONSEP 3 in 1

??????????? Melihat beberapa realita di atas, wacana Blue Economi mulai menguap ke permukaan.Beberapa pakar ekonomi mulai menyadari betapa potensi laut di negara ini sudah seharusnya menjadi salah satu sektor pendukung perekonomian.Wacana ini mencoba mengarahkan potensi laut agar dapat dikelola secara maksimal oleh masyarakat Indonesia dengan berpedoman pada konsep 3 in 1.

??????????? Konsep 3 in 1 dalam wacana Blue Economi mencoba mencoba mengerucutkan beberapa aspek utama yang perlu mendapat perhatian dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia menjadi 3 sektor utama yaitu pariwisata, pendidikan dan perikanan, yang kemudian dipadukan dengan kemampuan teknologi. Pengelolaan potensi kelautan dan perikanan tak dapat dilepaskan daya dukung sumber daya manusia yang ada, sehingga peranan masyarakat pesisir perlu diberdayakan sebagai objek dari konsep ini.Oleh karena itu, arti dari konsep 3 in 1 adalah 1 kawasan pesisir perlu memiliki 3 sektor utama.

??????????? Pariwisata, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan membuat beberapa daerah memiliki potensi pariwisata pantai yang cukup menjanjikan. Dalam konsep 3 in 1, setiap daerah pesisir/pantai perlu memiliki minimal 1 objek wisata sebagai salah satu sektor penghasilan tambahan, dan wajib memiliki museum bahari sebagai salah satu wacana wisata pendidikan kelautan bagi generasi-generasi muda bangsa Indonesia.Pengelolaan objek wisata tersebut diserahkan kepada masyarakat pesisir dengan dana dari pemerintah dan museum bahari diserahkan kepada sarjana-sarjana kelautan lulusan dari beberapa perguruan tinggi dan tetap bekerjasama dengan masyarakat sekitar.

Museum bahari diharapkan dapat menambah wawasan tentang sejarah kelautan serta menciptakan kesadaran untuk memajukan sektor kelautan Indonesia.Hal ini dianggap perlu karena beberapa museum bahari di Indonesia penempatannya tidak strategis sehingga membuat minat kunjung masyarakat berkurang, contohnya saja di daerah Yogyakarta, museum bahari di dareah ini terletak di tengah kota sehingga kalah dengan objek wisata lain yang ada di kota tersebut. Coba bayangkan ketika museum tersebut diletakkan dekat dengan pariwisata pantai terkenal di kota itu seperti pantai Parangtritis atau pantai Drini.Wisatawan akan mendapat dua manfaat yaitu menikmati pariwisata pantai dan menambah wawasan serta informasi kelautan negara ini, dengan kata lain sekali melangkah, dua tiga pulau terlampaui.

Pendidikan,dalam konsep 3 in 1 sektor pendidikan berlandas pada teori? tokoh sosial ekonomi dunia yaitu Antony Giddens dimana beliau mengatakan bahwa ?Pemerintah perlu menekankan pendidikan seumur hidup, mengembangkan program-program pendidikan sejak masa kanak-kanak dan terus berlanjut bahkan sampai usia senja?.Beberapa program pendidikan dari pemerintah untuk masyarakat pesisir seperti sekolah lapang bagi anak nelayan ataupun wacana sekolah nelayan sudah mulai digalakkan.Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah perspektif orang yang lebih menganggap pendidikan bagi anak nelayan adalah sebuah keharusan kemudian mengesampingkan pendidikan untuk nelayan itu sendiri.

Pendidikan kepada nelayan diharapkan dapat menambah wawasan bahari serta menciptakan nelayan yang kreatif dan inovatif dalam bekerja. Adapun pendidikan yang diberikan seperti sosialisasi peraturan kelautan dan Kredit Usaha Rakyat, cara meningkatkan hasil tangkapan ikan secara kreatif dan inovatif, penciptaan usaha sampingan bagi nelayan, sampai dengan sosialisasi wacana penggunaan teknologi kelautan dan perikanan. Dampak positif lain yang dirasakan adalah penyerapan tenaga kerja dengan memanfaatkan sarjana-sarjana kelautan/perikanan sebagai agen of change di sektor pendidikan maritim yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada pengurangan tingkat pengangguran di negara ini.

Perikanan,dengan laut yang cukup luas, Indonesia memilki potensi perikanan yang cukup besar untuk dikelola. Dalam konsep 3 in 1, sektor perikanan mencoba memasang target yaitu? menjadikannya sebagai salah satu sektor andalan untuk menambah pendapatan negara sekitar 35-40 persen dari PDB. Ini memperlihatkan adanya usaha untuk menyeimbangkan pemanfaatan sumber daya darat dan laut sebagai sarana memajukan bangsa Indonesia dari segala sektor yang ada. Sehingga, anggapan terhadap sektor kelautan sebagai sektor ?anak tiri? hanya akanmenjadi cerita lama yang tidak untuk diungkap lagi.?

Guna mencapai target tersebut, diperlukan adanya usaha-usaha kongkrit dari pihak terkait baik itu pemerintah sampai pada nelayan pesisir itu sendiri. Usaha yang dilakukan pemerintah dapat berupa pemberian danauntuk pengadaan atau peremajaan infrastruktur perikanan, penetapan target penangkapan ikan di beberapa daerah, memberikan bantuan teknologi perikanan seperti navigasi perkapalan ataupun pendeteksi ikan di lautan, sampai pada usaha membuat regulasi perikanan yang berpihak pada nelayan.Adapun usaha yang dapat dilakukan nelayan pesisir antara lain menjaga ekosistem kelautan negara Indonesia, menditribusikan hasil tangkapan ikan ke masyarakat, dan membantu pemerintah mencegah penangkapan ikan secara ilegal.

?

Mari Berubah

??????????? Wacana Blue Economi dengan konsep 3 in 1 nya, merupakan sebuah peluang bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kesejahteraan.Selain mempertegas eksistensi Indonesia di dunia Internasional sebagai negara maritim juga melestarikan budaya nenek moyang bangsa ini dalam menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian.Wacana ini juga dapat dijadikan sebuah master plan pembangunan negara Indonesia, agar tercapai keselarasan pembangunan disegala bidang sehingga tercipta pembangunan yang merata.

Entah kepada siapa lagi negeri ini menaruh harapan tentang masa depan bahari jika bukan pada rakyat sebagai penggerak perubahan. Janganlah luas laut negara ini hanya dijadikan sebagai keindahan kasat mata semata.Jangan biarkan julukan negara maritim membuat bangsa ini berbesar hati dan senang sesaat yang hanya berlaku pada saat dahulu, kemudian hilang tak berbekas.?????

??????????? Marilah coba menyadari betapa masa depan negeri ini berada di pundak dan pikiran bangsa Indonesia. Sudah terlalu banyak goresan-goresan hitam yang membuat ibu pertiwi menetesakan ?air mata?, perubahan tidak dapat ditunda-tunda, waktu terus berputar dan zaman terus berganti. Wacana Blue Economi adalah sebuah keharusan sebagai bukti loyalitas tanpa batas kepada bangsa dan negara.

  • view 122

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Saya bermimpi, suatu hari Indonesia memiliki tambak ikan tuna sirip biru dan kuning--guna membantu perekonomian masyarakat dan swasembada pangan.

    • Lihat 1 Respon