Mite Lutung Kasarung dan pencarian identitas

Dadi Setiadi
Karya Dadi Setiadi Kategori Budaya
dipublikasikan 22 Oktober 2017
Mite Lutung Kasarung dan pencarian identitas

Proses pencarian identitas mungkin dapat kita lihat dari mite atau carita pantun Lutung Kasarung sebagai hal yang dimiliki sekaligus disakralkan oleh Masyarakat Sunda. Permaksudan sebagai hal yang dimiliki oleh urang Sunda ini adalah merujuk pada konsepan ‘Literasi Budaya’menurut tafsiran Hirsch, ia mengartikan bahwa padanan kata ‘Literasi Budaya’ itu, dapat dibayangkan sebagai gugusan pengetahuan dasar yang perlu diketahui dan dihayati oleh segenap warga lingkungan budaya tertentu. Hirsch sendiri menuliskan The New Dictionary of Cultural Literacy, sebagai apa yang tadi disebut sebagai gugusan pengetahuan dasar bagi warga Amerika Serikat. Maka, sebagai Urang Sunda tidak salah juga menggambarkan carita pantun Lutung Kasarung sebagai proses pencarian identitas.

Mite Lutung Kasarung berkisah tentang keputusan Guruminda yang hidup dalam kesatuan 'Buana Nyuncung' atau dunia ruhaniah yang damai, wangi, penuh cahaya untuk mencintai seorang manusia Purbasari Ayuwangi. Keputusan untuk mencintai adalah penolakannya terhadap dunia yang satu warna, sekaligus ucapan selamat tinggal kepada dunia yang damai dan turun menjadi sebentuk monyet; lutung dan hidup dalam dunia manusia, dengan menanggung resiko tidak dapat kembali ke tempat asalnya.

Barangkali, itulah pencarian identitas selalu dibayangkan sebagai hal yang menakutkan satu sisi, dan dibutuhkan kegagahan, keberanian sisi lainnya. Sampai-sampai penyair  M Iqbal menulis, "Hanya manusia pemberanilah yang bisa bermuka-muka dengan Tuhan". Mite ini sekaligus menggambarkan, betapa daya cinta mampu menemukan atau setidaknya memberi arah tentang bagaimana identitas itu terbentuk.

Sekalipun Guruminda akhirnya berhasil menjadi bentuk manusia, seringkali ia terbawa suasana untuk bisa kembali ke dunia asalnya. Pembawaan suasana itu kadang kala membuat ia menangis dan hampir putus asa. Kenangan-kenangan yang ia tanggung dalam dunia ruhani dan hewan harus ditinggalkannya. Ia harus hidup dalam dunia manusia yang penuh dengan sehimpun aturan, yang memerlukan pengatasan-pengatasan baru. Namun pada akhirnya, ia tetap maju sebagai manusia; identitas baru yang belum mapan ia jalin.

Pemaknaan dan cinta

Singkat saja, ada dua hal yang seolah mite ini sampaikan pada kita dalam kaitan usaha pencarian identitas, yaitu 'darana' dan 'wening hate'. Kata 'darana' dapat diartikan sebagai kata 'sabar' atau 'gede timbangan'. 'Sabar darana' barangkali diilustrasikan sebagai kegiatan mengayuh sepeda. Betapapun, seorang akan terus mengayuh sepedanya. Ketetapan inilah yang membuat sepeda bisa terus menghasilkan jarak. Lalu kata 'wening hate' dimaknai sebagai sikap tanpa prasangka pada saat menghadapi sesuatu. Inilah perbedaan Filosofis Sunda dengan Barat. Descartes sampai menulis kata 'keraguan' sebagai inti pencarian kebenaran, sementara kata 'wening hate' lebih pada kemestian diri untuk terlepas dari nafsu merusak, lebih religius sifatnya.

Jika akhirnya Guruminda berhasil menjadi manusia setelah melewati usaha pencarian identitas yang bahkan hampir membuatnya putus asa, hanya oleh rasa cintanya pada Purbasari Ayuwangi. Saya membayangkannya, mungkin kita terlalu dini untuk merasa putus asa, mungkin menyerah pada kehidupan yang “sekarang” kita lakoni sebagai manusia dan mahlukNya. Mungkin juga karena darana dan wening hate yang kurang meresap dalam diri kita, pada akhirnya seolah membuat bahwa kita kurang merasakan cinta Tuhan**.

  • view 117