Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 18 Juni 2016   23:26 WIB
Tentang pers kita

DAF

Akhir-akhir ini kulihat pemberitaan di media begitu menjemukan. Baik itu media online atau pun televisi. Informasi yang disuguhkan membuat masyarakat semakin terkotak-kotak, mungkin terinspirasi dari baju kotak-kotak saat kampanye dua tahun lalu, entahlah.

Perkembangan pers di bumi nusantara bermula dari kebijakan politik kolonial Belanda yang mereka sebut “politik Etis”. Utang kehormatan dibayarkan kembali dengan jalan memberi prioritas utama kepada kepentingan penduduk pribumi di dalam kebijakan kolonial, salah satunya pendidikan yang dikemudian hari melahirkan kesadaran pribumi.

Awal sejarah pers di Indonesia mempunyai ciri-ciri yang khusus, berhubung dengan keadaan masyarakat, kebudayaan, dan politik. Sejak pertumbuhannya pers di Indonesia mencerminkan struktur masyarakat majemuk, dengan adanya golongan penduduk yang terpisah satu sama lain: golongan penduduk Belanda, tionghoa, Arab, India, dan pribumi yang berada dalam batas-batas kesukuan. Dengan demikian bahasa yang digunakan pun berbeda. Pers dipakai sebagai media pemberitaan dan pendapat yang berbeda, tidak jarang merupakan suara pendukung berbagai ideologi.

Sejak akhir abad ke-19 banyak pers tumbuh, sejumlah tokoh bermunculan sebut saja Abdul Rivai dan Tirto Adhi soerjo. Banyak pers (red: koran) kala itu menggunakan nama-nama seperti “Terang”, “Suara”, dan “Gerak”. Tiga kata yang mewakili spirit zamannya, bahwa pers menjadi alat untuk memberikan penerangan (sesuatu yang mencerahkan – dari kegelapan), lalu menjadi corong suara (kepanjangan untuk menyuarakan sesuatu), dan gerak (sebagai bagian dari gerakan kaum nasionalis).

Setelah perlawanan kaum komunis pada 1926 kehidupan pers di bumi nusantara tenggelam. Pemerintah kolonial memanfaatkan momentum tersebut untuk mengirim para cendekiawan pengisi kolom-kolom surat kabar ke digul, mulai dari perintah halus sampai ke tindakan kasar. Hingga pers menemukan kembali gairahnya di masa revolusi. Menyuarakan propaganda melawan Belanda. Menghimpun semangat mempertahankan kemerdekaan.

Masa Bung Karno menjadikan pers sebagai saluran nafas persatuan hingga masanya Jenderal Soeharto yang mengantinya dengan nafas pembangunan. Tetapi kini, di masa yang mereka menyebutnya masa reformasi pers seperti limbung. Sebagian besar informasi yang disuguhkan adalah memecah, membelah, dan mengkotak-kotakan ke-bhineka-an kita. Ahh pantas saja tayangan dangdut di televisi lebih diminati ketimbang berita.

Kini pers lebih terlihat menjadi alat kekuasaan. Konten yg dikabarkan serasa bias, tidak objektif, minim fakta. Beberapa pers yg mencoba memberikan pencerdasan mengenai informasi aktual malah di nistakan. Bukan masalah besar jika semua konsumen berita itu orang "terpelajar", tapi apa jadinya jika konsumennya manusia berkacamata kuda? Yakinlah ke-bhinneka-an kita tidak akan berumur panjang.

Bandung, 2016.

Ilustrasi oleh suwito associates

Karya : DAF