Lovina

Cuno Go
Karya Cuno Go Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
Lovina

Lovina


Kategori Acak

281 Hak Cipta Terlindungi
Lovina

Lovina, lovina, lovina.

Sore ini aku duduk dipersingahan dimana aku bisa melihat banyak siluet punggung yang sama sepertiku, menikmati dunia sebatas kertas, melihat pena dan tinta saling beradu, bersekutu, lalu menjelma menjadi diriku.

Tempat ini masih saja sama seperti sedia kala saat kita pertama berjumpa, deretan bangku serta kursi yang tak pernah diubah, kopi dan singkong yang selalu disajikan panas. Sehari, seminggu, sebulan, dan seterusnya aku selalu duduk disini untuk melirikmu yang sibuk dengan buku-bukumu. Satu, dua, tiga, dan berulang-ulang aku coba ucapkan, bak sebuah mantra agar kamu meliriku. Namun sudahlah, aku hanya dapat melihatmu sebatas punggung, lalu tenggelam menyisakan bayangan dirimu. Bukankah itu hal yang lucu untuk seorang lelaki yang tercekik romansa?

Ah, sudahlah itu kenangan terdahulu.

Lovina, dengarkah kamu?

Aku ingin bercerita tentang penemuanku akan duniamu, sekarang aku mengerti mengapa kamu tak pernah memilih duduk di kursi yang berbeda, bukankah kau sedang mengadu nasib?

Menunggu langit menguning, mengubah maha karya manusia menjadi bayang-bayang, melihat siluet dari setiap punggung yang kekar, hingga semua dari mereka menengelamkan diri pada malam yang sepi. Mungkin berbeda karena aku menafsirkan hal yang sederhana dengan sedemikian hiperbola.

Namun, bagaimana nasibmu?

Dipelataran manakah senjamu?

?Senja bagaikan sebuah nasib, hanya sedikit orang yang beruntung dapat melihatnya? ujarmu.

Lalu harus kemana aku mencarimu?

Timur?

Selatan?

Utara?

Barat?

atau arah manakah?

Mungkinkah kau menutup telingamu rapat-rapat hingga sebuah nama yang telah dipatrikan bertahun-tahun padamu tak pernah kau hiraukan, ataukah kau lelah dengan kata-kata yang selalu jadi sia-sia, seperti gurauanmu terdahulu. Tapi bukankah dunia ini tersusun dari sebuah kata, lalu sebelum mimpi ada doa, lalu berbuah menjadi gerak-gerik nan puspa warna.

Ah, aku mulai berdebat kembali.

Lovina yang berada di pelataran nun jauh disana dengan ini aku titipkan sebuah rindu pada udara yang tercemar, sungai yang kotor, kopi yang mulai bari, dan siluet punggung yang sepi.

  • view 119