Catatan Kecil untuk Buah Hatiku

Catatan Kecil untuk Buah Hatiku

Aditia Ningrum
Karya Aditia Ningrum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Agustus 2018
Catatan Kecil untuk Buah Hatiku


Gamping 220797.0754pm

Malam ini sunyi seperti biasanya nak. Kau tau apa yang terjadi hari ini? Hari ke-8 di usia 21 tahun bunda. Bunda membuat sebuah keputusan besar, keputusan yang akan merubah diri bunda mulai hari ini hingga akhir hidup bunda nanti. Kau tau nak, berubah dan mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, terlebih perkara cinta. Kau pasti berpikir bahwa bundamu ini sedang patah hati? Iya bukan? Sudah mengaku saja :D

Ya, memang betul bundamu ini sedang patah hati. Bukan hari ini bundamu patah hati, tapi 1 tahun lalu bunda patah hati. Patah hati yang berkepanajangan. Kau tahu kenapa bunda patah hati? Bunda patah hati karena bunda telah memberikan hati dan cinta bunda pada orang yang salah. Orang yang seharusnya belum bunda berikan hati dan cinta bunda. Dan bunda baru menyadarinya sekarang..

Kau tau nak, saat kau mulai menaruh hati pada seseorang tanpa kau sadari kau kau telah mengeyampingkan cinta untuk Tuhanmu dan orangtuamu. Percaya atau tidak begitulah adanya. Kau mau tau apa yang terjadi pada bunda beberapa saat lalu?
Dulu bunda pernah menyukai seorang laki-laki, kalau bunda boleh gambarkan ia tipe ideal bunda. Lukisan wajahnya sempurna, alis tebal yang menghias mata sayunya, hidung mancung dengan kumis tipis sebagai pelengkapnya. Ahh kau bisa bayangkan bukan? Haha bahkan ia lebih dari itu. Tapi bunda menyukainya bukan karena wajah itu, semua itu murni bonus. Ia seorang pekerja keras dan pekerja cerdas, pintar dalam dunia jurnalistik, fotografi, design, masih banyak lagi. Sulit bagi bunda menggambarkan bagaimana ia, bahkan sampai sekarang. Bagi bunda ia masih menjadi laki-laki kedua yang bisa mengambil hati bunda setelah kakekmu.

Waktu terus berjalan, bunda semakin akrab dengannya, bahkan bunda menjalin hubungan special dengannya. Hubungan itu bertahan 4 tahun lamanya. Bayangkan, sejak kelas 2 SMA hingga bunda kuliah semester 4. Bukan perkara mudah untuk menjalin hubungan semacam itu. Bunda harap aku tidak mencoba hubungan itu. Awal semester 5 hubungan bunda dengan laki-laki itu berakhir. Menangis? Tentu saja bunda menangis. Siapa pula yang tidak menangis mengalami hal itu. Saat itu sebisa mungkin bunda tidak menangis di depan siapapun, sampai akhirnya pelatih Tapak Suci bunda berkata,”luapkan aja rum, luapkan lewat tendangan.” Haha benteng yang selama ini bunda buat runtuh nak. Bunda menangis saat itu juga. Bunda merasakan emosi yang begitu besar dan membuat kekuatan bunda bertambah.
Tendangan pertama. Berhasil.
Tendangan kedua. Berhasil.
Tendangan ketiga.. Mak gedebuk. Bunda salto nak. Kegledak konyol. Pantat bunda sakit. Hati sakit pantat pun sakit. Kalau kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula hahaha.
2 minggu lamanya bunda hanya terbaring di Kasur. Duduk sakit, jalan sakit. Lengkap sudah..
Untuk beberapa saat bunda bisa melupakan sakit yang ditinggalkan laki-laki itu. Walau sebentar bunda sudah cukup bersyukur.
Waktu terus berjalan, bunda sadar bahwa cepat atau lambat bunda harus melupakannya. Dan akhirnya bunda bisa melupakannya. Namun semua tak seperti yang bunda inginkan, tiba-tiba ia muncul lagi kedalam hidup bunda setelah sekian lama ia menghilang. Ia muncul dengan segala perlakuan hangat yang pernah ia berikan, perlakuan hangat yang selalu bunda rindukan darinya. Bodohnya dengan mudah bunda percaya dengannya lagi daan bunda jatuh di lubang yang sama lagi. Ia menghilang. entah kemana. Bunda berusaha untuk tidak peduli dengannya, apapun kabar tentangnya, tapi entah kenapa nafsu bunda selalu mengarah kesana. Sampai beberapa minggu yang lalu bunda mendengar seseorang yang bunda tak tau ia siapa, ia berkata,”Semakin kau banyak tau tentangnya, kau akan semakin kecewa. Biarkan saja. Yang penting jadilah rumah, kapanpun ia datang kau selalu ada disana. Dan aku yakin kau adalah orang ternyaman baginya.” Iya juga pikir bunda. Semakin bunda taau apa yang kali-laki itu lakukan bunda justru semakin terpuruk. Dan hari ini bunda memutuskan untuk benar-benar melepaskannya. Memasrahkannya pada Sang Maha Cinta dan memberikan semua doa baik untuknya.

Kau tau nak, mengapa bunda begitu lama melupakannya? Karena bunda mencintainya karena nafsu, bukan karena Allah Sang Maha Cinta. Dan saat bunda benar-benar memasrahkannya pada Sang Maha Cinta bunda merasa lebih tenang dan lebih tentram. Bunda merasa lebih khusyu’ dalam beribadah, walaupun bunda belum tau bagaimana khusyu’ beribadah itu seperti apa, apakah seperti yang bunda rasakan atau lebih dari itu. Satu hal lagi, bunda menyadari bahwa cinta yang selama ini bunda miliki telah terbagi, cinta yang seharusnya tidak bunda berikan pada laki-laki selain kakekmu dengan mudah bunda berikan pada laki-laki yang belum tentu menjadi milik bunda. Bunda menyesal. Benar-benar menyesal.

Nak..
Bunda harap kau tidak mencoba-coba apa yang seperti bunda lakukan. Namun jika nanti kau terlanjur masuk dalam lubang itu, bunda yakin kau tau cara keluar dari lubang itu. Satu hal yang bunda bunda harapkan darimu hari ini adalah tolong jangan berikan cintamu pada orang selain padaku bundamu dan ayahmu sebelum kau benar-benar serius dengan hubungan itu, karena jujur kami cemburu jika kau sampai memberikan cintamu pada orang yang belum layak itu.
Kau tau nak, keputusan terbesar bunda hari ini dan sampai akhir hidup bunda? Bunda memutuskan untuk menutup wajah bunda dengan cadar. Keputusan yang begitu berani bukan??

  • view 35