Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 2 Maret 2018   13:45 WIB
Surat Cinta Untuk Ibu Guru

SURAT CINTA

Assalamualaikum…

Bagaimana kabar ibu?, saya boleh ‘kan saya memanggil anda dengan sebutan  ibu?

Saya salah satu mahasiswa ibu di semester empat ini, semester yang awalnya membuat saya jenuh setengah mati. Berpikir bahwa saya akan mengulangi hari-hari seperti semester sebelum-sebelumnya. Kontrak kuliah, analisis novel, metode pembelajaran, dll. Saya merasa jenuh…

Saya masih mengingat dengan jelas ketika pertama kali ibu masuk ke kelas, menebarkan senyum yang meneduhkan. Sebelumnya saya mulai menarik beberapa kesimpulan mengenai ibu yang sempat beredar di kalangan teman-teman sekelas, sebagian besar gossip berasal dari desas-desus anak-anak sebelah.

Namun, ketika ibu berdiri pertama kali di hadapan saya, tersenyum dan bertutur sapa. Saya tahu, saya keliru. Seharusnya saya tidak terlalu gegabah menilai ibu, maafkan kealpaan saya.

Selanjutnya, saya memiliki ketertarikan aneh dengan mata kuliah ibu. Tugas-tugas yang sebenarnya memberatkan entah mengapa mulai saya nikmati, apalagi ketika ibu membalas semua tugas-tugas kami dengan catatan yang ditulis sambil membayangkan tiap-tiap wajah kami yang berlelah-lelah diri ketika mengerjakan tugas tersebut. Pasti jauh lebih melelahkan. Namun saya mendapatkan diri saya sendiri justru menantikan tugas itu dikembalikan, lalu membaca catatan kecil ibu berulang-ulang.

“Sesuatu yang dikerjakan dengan hati, maka akan sampai pada hati juga”

Adalah kalimat yang hampir setiap pertemuan selama satu semester ini ibu sampaikan kepada kami, tanpa kenal lelah. Kalimat itu mulai menyugesti saya, memengaruhi pola pikir saya, mengubah beberapa hal dalam hidup saya. Meski tak besar, karena sejatinya perubahan memang berawal dari hal-hal kecil yang terus menerus dilakukan. Seperti yang pernah ibu sampaikan, entah di pertemuan ke berapa.

Saya menyukai cara ibu mengajar. Jujur, hal itu mulai memunculkan kembali sesuatu yang selama ini tertanam dalam diri saya. Sesuatu yang pernah bersinar, sebelum kemudian redup dan padam. Sirna.

Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai kehilangan tujuan mengapa saya memilih jurusan pendidikan. Mengapa saya mencentang dan bersusah payah mengikuti ujian SBMPTN jauh-jauh ke Kota Surabaya, menyisihkan ribuan pendaftar lain. Saya kehilangan euforia itu, kehilangan alasan-alasan mengapa saya harus berada di kampus ini dan membaca teori-teori.

Dulu sekali, ketika saya masih SD, setiap kali saya mendapatkan pertanyaan tentang CITA-CITA, saya akan dengan lantang dan bangga menjawab; Menjadi Guru. Polos sekali, penuh imajinasi dan sangat murni.

Kini, saya merasa tersesat. Saya tidak tahu saya keliru berbelok di sebelah mana, namun tiba-tiba saja saya sudah kehilangan arah mata angin dan keluar jalur dari peta konsep yang sebelumnya saya buat. Saya berusaha menemukan jalan untuk kembali pada masa-masa ketika saya masih semangat membaca agar kelak dapat menjadi guru yang baik.

Namun, saya semakin tersesat dan tersungkur ke dalam jurang. Ketika saya melihat dosen-dosen, guru-guru saya sebelumnya yang hanya masuk ke kelas untuk sekadar mengajarkan teori dan menuntaskan RPP. Saya tahu, bahwa sejak saat itu saya mulai berada di jalan yang salah.

Dan imbasnya, saya kehilangan kepercayaan kepada diri saya sendiri, juga pada orang-orang dewasa di sekitar saya.

Mungkin ibu tidak menyadari, namun ketika pertama kali ibu masuk ke kelas, saya yang sedang duduk di pojokan memandang ibu dengan sinis. Menganggap bahwa ibu sama saja dengan orang-orang dewasa yang selama ini saya temui setiap hari. Tanpa saya menyadari bahwa setiap orang (sekalipun ia sudah dewasa) pada dasarnya memiliki karakter yang berbeda-beda.

Maafkan kekhilafan saya ya bu.

Saya mulai merubah persepsi saya akan dunia orang dewasa sejak saya bertemu ibu. Dengan penuh senyum dan telaten ibu mendidik saya dan teman-teman sekelas dengan cara yang berbeda.

Dan itu menyentuh saya.

Menghidupkan kembali sesuatu yang dulu pernah bersinar dengan terang dalam dunia kecil saya, sebelum kemudian redup dan padam diterpa oleh realita.

Terima kasih ibu, nasehat-nasehat ibu masih terngiang hingga kini, dan semoga hingga saya menjadi guru sehebat ibu yang tanpa lelah menginspirasi muridnya untuk menjadi lebih baik melalui tugas-tugas, kisah-kisah, bahkan sekadar tayangan video yang menjadi intermezzo setiap selesai perkuliahan. Oh ya, saya menyimpan dan membaca berulang kali catatan-catatan kecil ibu di setiap tugas peta konsep, sekadar menjadi penyambung semangat untuk terus melangkah.

Terima kasih ibu, sudah menjadi oase dalam gersangnya jalan kehidupan saya.

Terima kasih ibu, sudah menjadi setitik cahaya yang menjadi pengantar pada jiwa yang tersesat ini untuk menemukan jalan pulang, lalu melanjutkan kembali perjalanan sebelumnya yang tertunda.

Terima kasih ibu, sudah membuat saya jatuh cinta kembali pada cita-cita kecil saya.

Saya jatuh cinta.

Karya : My Halwah