Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 2 Maret 2018   13:30 WIB
Surat Cinta Untuk Ibu

Teruntuk Ibuku.

Hai ibu.

Inilah aku putri kecilmu, yang sembilan belas tahun lalu kau lahirkan.

Kini aku sudah tumbuh, semakin dewasa dan cantik. Wajahku juga sudah mulai ditumbuhi jerawat, padahal rasanya baru kemarin aku merengek meminta engkau membelikanku boneka Barbie.

Ibu, kini aku berada jauh darimu. Terpisah jarak tempat aku menuntut ilmu dengan rumah yang selama ini kita tempati. Aku jauh darimu, tak selalu bisa melihatmu, tak selalu bisa menyentuhmu, juga tak selalu bisa menjagamu.

Ibu, masih ingatkah engkau tatkala mengantarku ke tempat ini?, tempatku akan mendapatkan gelar sarjananku?. Kau menangis, ya… aku ingat engkau menangis, karena ini adalah kali  pertama kau akan melepaskan putri kecilmu seorang diri, jauh dari penjagaanmu, jauh dari pengawasanmu juga jauh dari pelukan hangatmu.

Aku takut, tapi engkau lebih merasakan ketakutan daripada aku.

Aku khawatir, namun engkau lebih menghawatirkanku.

Aku tahu ibu, meskipun aku tak pernah melihatnya secara langsung. bahwa engkau selalu mendoakan aku dalam setiap sujud-sujudmu, berharap aku selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa.

Aku tahu ibu, meskipun aku tak pernah melihatnya secara langsung. bahwa tak ada satu haripun yang kau lewatkan tanpa mengingat putri kecilmu. Menelepon, berpura-pura bertanya, cukupkah uang yang engkau berikan? Sudahkah aku makan? Bagaimana ospeknya?

Engkau terus bertanya, memberikan solusi, menguatkan seraya mengatakan bahwa esok hari semuanya akan baik-baik saja, hanya perlu menunggu dan bersabar.

Aku tahu ibu, meskipun aku tak melihatnya secara langsung. bahwa tak satu malam pun engkau lewatkan sebelum tidur kecuali dengan mengingat putri kecilmu yang jauh disana, sedang menuntut ilmu, lantas dengan sangat pelan berbisik kepada angin malam “semoga putriku tidur nyenyak dan mimpi indah malam ini”.

Aku tahu ibu, sungguh, aku pun tahu.

Bahwa selama ini engkau menyimpan sakit, pedih hati karena semua anak-anakmu mencari penghidupan diluar, meninggalkan pulau, rumah dan juga engkau. Hanya mampu menunggu melalui pintu, berharap salah seorang anakmu akan pulang, hanya sekedar untuk beristirahat dari kesibukan dunianya.

Bahwa selama ini, engkau berpura-pura tegar dalam kesunyian malam. Mengadu kepada Yang Maha Esa, memohon keselamatan untuk semua anak-anakmu dimanapun mereka berada, lewat surat Al-Fatihah yang tak pernah absen engkau bisikkan selepas sujud panjangmu dihadapan-Nya.

Aku tahu ibu, percayalah, aku pun tahu ibu.

Bahwa kasih sayangmu tak terhingga, bahwa lautan maafmu tak pernah surut, bahwa cinta kasihmu tak pernah habis.

Ibu, aku disini hanya bisa memohon kepada-Nya dalam bait-bait doa ini. Semoga engkau senantiasa selalu berada dalam lindungan Allah Yang Maha Esa, semoga semua doamu membuka jalan-jalan kesulitan yang akan aku hadapi di depan.

Karya : My Halwah