ALIH MUSIM

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Maret 2016
ALIH MUSIM

Harusnya semenjak dulu tak perlu acuh untuk menumbuhkan keinginan-keinginan yang pada akhirnya harus disesali. Mungkin juga Tuhan telah berencana akan banyak hal dalam kehidupan ini dimana telah Dia ciptakan kegagalan-kegagalan dan sugesti kemenangan.

Pada sebuah pohon, berbatang coklat muda dengan guratan seni yang rumit dijabarkan. Dahan menjulang begitu pula rantingnya. Daun hijau segar nan rimbun, siapapun akan lapar mata pun hanya untuk memandang. Selalu dan selalu saja di tiap rimbun daun-daun muda diujung yang menjemurkan dirinya di terik pagi, akan datang ulat-ulat bersarang dan menyiapkan sajian makan utama, termasuk juga kudapannya. Saban waktu mengundang pesta pora dan lena yang siapapun tak ingin lagi beranjak walaupun sejenak.

Dan masa dimana daun-daun menggugurkan diri, menjelma remahan kecil di dasar akar untuk kemudian terserap lagi menunggu hujan turun tiada henti. Ulat-ulat, sebagian dari mereka mencari tempat-tempat terbaik untuk menenangkan diri, mengosongkan pikiran sejenak, lalu merajut benang-benang dari tubuhnya dan membangun kepompong, sedangkan sebagian lainnya hanyut dalam hiruk pikuk pesta dan tiada ingin berhenti berenang di kolam eforia.

Lalu datanglah semi, dimana udara mengalir di pelipis dan mengurai kedipan mata, menyejukkan. Meninggalkan sedikit saja jejak-jejak embun semalam. Kepompong menjelma kupu-kupu, penuh warna, melaju di cakrawala dan menerobos hujan kelopak dendelion. Juga daun-daun, mereka memantulkan cahaya di sayap-sayap indahnya.

Kupu-kupu melayang dari dahan ke dahan lain, sesekali bercengkrama diantara madu bunga. Menunggu hari berganti petang, bersarang dan merencanakan perjalanan panjang entah dalam mimpinya, atau di semak dan belantara antah berantah keesokan harinya, mungkin juga merencanakan kelahiran-kelahiran baru dan mewariskan petualangan terdahsyat di sisa umurnya.

Pada pohon dimana mereka dilahirkan, pesta masih saja berlangsung entah sampai kapan, yang bertahan telah mabuk kepayang, tubuhnya kering kerontang, lupa jika musim tak selalu menghadirkan makan pagi terbaik saban harinya, tapi musik terus berdendang, membunuh perlahan-lahan.