PINTU

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Maret 2016
PINTU

Pintu itu masih tertutup

Bahkan tak ada yang tahu apakah telah dikunci atau kita tinggal membukanya seketika

Hanya saja keraguan dan kekhawatiran telah ditetapkan

Bahwa tiap dari kami di dalam ruangan ini harus mengepul berbagai kemungkinan sebelum melewatinya.

Orang-orang sebelum adanya kami disini telah menceritakan banyak hal, pintu yang terlanjur rapat dan permanen untuk didobrak apalagi menggampangkannya dengan sekali sentuh lalu terbuka.

Ada juga kisah yang laris di telinga kami, bahwa pernah suatu hari seseorang dari sini berhasil menerobos keluar meskipun tak lama kemudian ia kembali dengan keringat bercucuran dan wajah memucat, ia mendadak menjadi pendiam dan sering berbicara dengan udara, tubuhnya sering menggigil dan mulutnya merapal sesuatu yang tak jelas bahasanya.

Ada pula kisah seorang tua dimana suatu malam di musim hujan membuka pintu dari sisi luar dan membangunkan semua yang berada di dalam, ta ada penerangan kala itu, wajahnya sedikit digambarkan oleh cahaya bulan melalui sela retakan di dekat lubang kunci. Wajah penuh guratan penanda usia, suara yang terbata menggumam berulang-ulang membisik di tiap telinga ?tinggal, tinggal...? dan para penghuni ruangan hanya diam membeku, mengimajinasikan ruang kelam dan pekat dibalik pintu yang tak memiliki tekstur jelas yang mungkin tak beda jauh dengan ruangan yang mereka tempati saat ini. Tapi bayangan diluar sana selalu menarik perhatian, menjadi bahasan rutin saban waktu, bahkan hari ini pun kami tak pernah bosan memperbincangkannya.

Seperti aku misalnya, aku berkhayal menemukan kunci ajaib yang mampu membuka pintu lalu menemukan lorong hitam yang panjang dan aku berlari menelusurinya, menemukan hal-hal baru yang tak terbayangkan, goresan garis, titik, atau bertemu dengan diriku yang lain untuk mengajak pada pintu baru, lalu kami membukanya lagi. Entahlah...

Tapi sampai sejauh ini, untuk membayangkannyapun semakin sulit, dan pda akhirnya aku berfikir untuk kembali berlari menuju pintu yang lama, bergegas memasukinya, menguncinya lagi dan berkumpul dengan yang lain di dalam ruangan.

Lalu kami menarik nafas panjang, memaklumi kebingungan.

?