MAS ROMEO & MBAK JULIET

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Maret 2016
MAS ROMEO & MBAK JULIET

Suatu siang di perpustakaan Kota Malang, sebuah pagi yang panas setelah berjalan-jalan di pasar minggu, menghabiskan segelas es dawet ayu (minuman tradisional, terbuat dari tepung beras, air santan dan gula merah cair) hingga memutuskan untuk mampir mengikuti prosesi pembukaan pameran seni rupa ?Situs yang terlupakan Malangsuko? dimana beberapa tokoh budaya dan perupa Malang menampilkan karya-karya terbaiknya. Yaitu mengajarkan kecintaan masyarakat muda kita pada sejarah kota ini dengan sebuah pancingan visual warna-warni sebagai adaptor kondisi psikologi, karena perubahan jaman yang menuntut telah berpengaruh besar terhadap referensi dan pola pikirn mereka.

Setelah menuntaskan waktu di dalam ruang pamer, saya beserta kawan-kawan menuju luar ruang untuk berbincang perihal apapun sembari duduk-duduk di pelataran, lantai keramik di sisi luar ruang pameran, dimana kami bisa melihat banyak kejadian-kejadian, gadis-gadis cantik yang berdatangan, para tetua yang lagi reunian ?rasan-rasan sambil ngopi?dan satu hal yang membuat saya tegun ialah mas-mas pelukis, umur sekitar 40 tahunan dan saya lupa siapa namanya, duduk di seberang kami (juga leyehan di pelataran keramik) ditemani seorang istri yang bersandar di sebelahnya.

Setengah jam sebelumnya beliau sempat dikerumuni beberapa reporter, yang masih terlihat umur belasan (anak-anak sekolah menengah dari organisasi jurnalistik, atau mungkin tugas dari sekolah untuk meliput karena beberapa seniman di sini memiliki profesi sebagai guru dan pengajar).

Kembali pada sosok pelukis dan istrinya yang saling memandang dan berbincang di seberang saya, berdasarkan rumor yang saya dengar dari beberapa kawannya bahwa beliau memiliki banyak prestasi di bidang seni lukis, tak hanya karena indahnya karya yang dibuat namun juga unik karena beliau melakukannya dengan menggunakan kaki (beliau adalah salah satu pelukis unik, saya tidak melihat tangannya yang bentuk keduanya sebagai sebuah kekurangan yang diberikan Tuhan, tapi pasti Tuhan memiliki rencana terbaik untuknya di sisi lain, dan beliau telah menemukannya).

Maaf, karena saya tak sempat mengabadikan karya pelukis ini lewat foto, tapi sebagai gambaran salah satu karyanya bertema sub urban, sebuah desa, rimbun bambu (jawa: barongan) dan cahaya matahari yang masuk lewat sela-sela rimbun daunnya, juga jalan setapak dan sawah dimana seorang peternak (angon bebek) memimpin unggasnya berbaris berjalan. Menggunakan garis-garis kuas yang kuat, tegas dan rapi.

Seorang istri yang beliau ajak bicara berusia sekitar 30 tahunan, sedikit gemuk berisi dan berambut ikal. Menyalakan sebatang rokok dan sesekali menghantarkannya ke mulut suaminya, membiarkan rokok terhisap lalu mencabutnya kembali dan seterusnya dilakukan hingga rokok terbakar habis.

Hal paling romantis lagi adalah istri beliau?mengambil sapu tangan dari tas kulit lalu menyekakan keringat di dahi suaminya, nampak sekali perbincangan mereka begitu riang dan menyenangkan.