PERTIWI #3

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Puisi
dipublikasikan 09 Maret 2016
PERTIWI #3

Pada suatu ketika,
pelukis muda yang aku
kurang mengenal namanya
mempersiapkan tinta-tinta.
Kuning, merah, hijau, biru,
hitam dan putih.

Tanpa kuas ia melengokkan lidahnya
di kanvas, papan kayu dan tiang besi.
Begitu saban hari berulang-ulang,
hingga lidahnya menjadi tipis,
aus termakan permukaan media.

Hatinya mulai balau
karena detak melemah,
dan lisan susah berucap,
sedang tinta menunggu dipaparkan.
Ratusan warna, ribuan, hingga angka-angka
yang semakin susah disebutkan jumlahnya.

Tiap terik mereda adalah penanda senja,
ia duduk di serambi, menikmati teh
dan berdendang lirih namun merdu.
Rambutnya menjuntai di punggung kursi,
menyelonjorkan kaki, dan sesekali
menggoyangkan kepala karena terlalu pegal
mungkin dirasakan.

Entah sudah berapa lama
telah ia habiskan melukiskan banyak hal,
karena ibu pun mengenalkanku padanya
manakala aku telah beranjak sebesar
pot anturiun di depan rumah.
pun aku masih susah mengingat-ingatnya.

--Denteng bel menggema di telinga,
wajah sudah menguap karena terlalu terik,
aku terjaga dari hymne yang menggumam,
di bawah bendera yang berkibar liar
seakan-akan ingin lekas lari ke surga--

Malang, 18 Juli 2012
Doni Hariyanto
" Pernah suatu pagi,
setelah abstain dari upacara
aku iseng menghadirinya,
masih sama...
Masih sama".

  • view 80