KOPI GEMILANG

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Maret 2016
KOPI GEMILANG

Salah satu pemandu sekaligus teman berbincang tanpa kalimat, ruang indah tanpa spasi, mengikatmu erat tanpa memaksa, kejujuran yang tak dibuat-buat. Dalam racikan apapun, ia tak mampu menyembunyikan rasa pahitnya. Entah kau hisap dari etopia, brasil, sidikalang, wamena, candiroto, wonosobo hingga kabupaten Dampit, ia pasti dikenali. Esensi hanyalah hiruk pikuk mistisme pengkultusannya, namun pada dasarnya kita tak memperdulikannya. Ya, kopi tetaplah kopi, entah kau peras dengan mesin presso atau seduhan ala kampung, ia hanya ?manut? padamu ditengah tongkrongan.

Saya pernah membaca sebuah ulasan unik, entah dari mana sumbernya saat itu. Dimana masa kelam eropa diguyur kemalasan generasi muda dan tua, dari segala kelas sosial, kehidupan yang terlalu lena, masyarakat sibuk bermanja-manja dengan kemapanan, melimpahnya makanan, jaman kegemilangan yang salah kaprah dan malam berisi alkohol dan sajian memabukkan. Mungkin juga sebagai dalih politik penguasa untuk mengelabui rakyatnya dengan merubah mereka menjadi dungu.
hari berganti hari, tahun berubah tahun, kebiasaan melahirkan kemalasan, keterpurukan pemikiran dan pembaharuan hingga dititik tergelap dalam dunia peradaban.

Lalu, datanglah kopi yang diselipkan sebagai pengganti minuman ?anti kreatif? saat itu. Masyarakat menyukainya, mereka mulai sadar dan waras pikirannya, kembali bugar untuk memacu isi kepala, dan menjadikan minuman keseharian disela penemuan ide-ide baru, kreatifitas dan inovasi baru. Maka saat itulah dinamakan sebagai kelahiran masa reinessance, sebuah masa pencerahan.

Meskipun pada kenyataannya, sebuah kebiasaan memiliki dua sisi yang tak sejalan. Saat ini kopi dianggap sebagai sumber inspirasi serta pemicu kelahiran keilmuan dan seni, disisi lain juga sebagai alat para pengusaha untuk melebarkan bisnisnya, dan yang terburuk adalah bahwa kebiasaan ngopi dan nongkrong telah banyak dilakukan oleh segala kalangan untuk sekedar berbasa-basi, membuang waktu yang berharga dan memupuk kemalasan jenis baru. Entahlah...

Kopi bagai candu, bagai asmara yang tangguh, bagai kebenaran yang cantik berenda foam susu...entahlah juga. mari ngopi...


  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Sekarang mah kayakny bukan kopi yang jadi andalan buat nongkrong atau diskusi. Beralih ke Ponsel men!!! Miris ya

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    "... dan yang terburuk adalah bahwa kebiasaan ngopi dan nongkrong telah banyak dilakukan oleh segala kalangan untuk sekedar berbasa-basi, membuang waktu yang berharga dan memupuk kemalasan jenis baru." Sepakat sama kalimat di atas. Soalnya ngalamin sendiri. Kadang nongkrong ngopi sama teman-teman, ngobrolin hal-hal yg sebenarnya gak penting. Setelah bubar, baru sadar, banyak waktu terbuang percuma.

    • Lihat 1 Respon