Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 3 Maret 2016   14:06 WIB
LASMI; CERPEN YANG HILANG

Ini adalah potongan yang tersisa, back up itu hukumnya wajib. semangat!

...Nasikin, si juragan kripik buah kering itu sudah menanti Lasmi di balik pintu dalam kamarnya, kemeja dan celananya sudah tak jelas dimana tadi telah ia lemparkan, hasratnya telah memanas hingga diujung kepala, bayangan tentang lasmi semenjak subuh tadi telah menggodanya bahkan saat shalatpun, ia coba dengan segenap hati meng-khusu'kannya. Di balik pintu sisa parfum pembantunya itu menempel di jarik yang menggantung dan menyebar di sela-sela ketiak kaos dan kutang yang tak kunjung di cuci.

Lasmi memang telah membantu di keluarga juragan Nasikin semenjak beberapa tahun lalu. Bahkan ketika itu Nasikin masih menuntaskan kuliahnya di Solo, sebelum Abah dan Umi'nya masih memegang kendali usaha yang telah dirintisnya dari emper jalan. Karena terlalu uzur dan lelah, dan Nasikin adalah satu-satunya anak yang mereka miliki, maka otomatis Nasikinlah yang mewarisi seluruh kekayaan keluarganya.

Sebenarnya, Nasikin juga Lasmi tidak begitu dekat karena sebelumnya mereka berbeda jarak, apalagi kesibukan anak kuliahan membuatnya jarang pulang ke kampung halamannya. Mereka sesekali dipertemukan ketika musim liburan, itupun hanya menghabiskan tak sampai beberapa detik saling pandang. Sebenarnya Lasmi lumayan cantik untuk gadis seusianya, matanya bulat seperti wanita jawa kebanyakan, rambut hitam dan ikal, menjuntai hingga pinggang, biasanya ketika kerja ia kelungkan, dipilin dan putar lalu diberinya kuncian sumpit bambu, atau apapun yang tersedia disekitarnya, bisa sendok, atau ranting pohon waru yang sering kali patah di pelataran belakang rumah. Banyak hal telah tumbuh dari dirinya, Abah dan Umi mengajarkannya banyak hal pula, menyekolahkannya hingga tamat SMU dan mengharuskannya ngaji di pondokan kyai Sho'if yang masih memiliki jalur darah dengan keluarga ini.

...Nasikin, si juragan kripik buah kering itu sudah menanti Lasmi di balik pintu dalam kamarnya, kemeja dan celananya sudah tak jelas dimana tadi telah ia lemparkan, hasratnya telah memanas hingga diujung kepala, bayangan tentang lasmi semenjak subuh tadi telah menggodanya bahkan saat shalatpun, ia coba dengan segenap hati meng-khusu'kannya. Di balik pintu sisa parfum pembantunya itu menempel di jarik yang menggantung dan menyebar di sela-sela ketiak kaos dan kutang yang tak kunjung di cuci.

Lasmi memang telah membantu di keluarga juragan Nasikin semenjak beberapa tahun lalu. Bahkan ketika itu Nasikin masih menuntaskan kuliahnya di Solo, sebelum Abah dan Umi'nya masih memegang kendali usaha yang telah dirintisnya dari emper jalan. Karena terlalu uzur dan lelah, dan Nasikin adalah satu-satunya anak yang mereka miliki, maka otomatis Nasikinlah yang mewarisi seluruh kekayaan keluarganya.

Sebenarnya, Nasikin juga Lasmi tidak begitu dekat karena sebelumnya mereka berbeda jarak, apalagi kesibukan anak kuliahan membuatnya jarang pulang ke kampung halamannya. Mereka sesekali dipertemukan ketika musim liburan, itupun hanya menghabiskan tak sampai beberapa detik saling pandang. Sebenarnya Lasmi lumayan cantik untuk gadis seusianya, matanya bulat seperti wanita jawa kebanyakan, rambut hitam dan ikal, menjuntai hingga pinggang, biasanya ketika kerja ia kelungkan, dipilin dan putar lalu diberinya kuncian sumpit bambu, atau apapun yang tersedia disekitarnya, bisa sendok, atau ranting pohon waru yang sering kali patah di pelataran belakang rumah. Banyak hal telah tumbuh dari dirinya, Abah dan Umi mengajarkannya banyak hal pula, menyekolahkannya hingga tamat SMU dan mengharuskannya ngaji di pondokan kyai Sho'if yang masih memiliki jalur darah dengan keluarga ini.

....

harus menulis mulai awal lagi :(

Karya : Donny coffeeaddict