KAU, AKU, TANPA JUDUL

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
KAU, AKU, TANPA JUDUL

Dimulai pada hari yang cerah,?

dimana sisa-sisa ngiang pesan pendek berulang kita kirimkan semalaman, berbincang basa-basi keseharian, kuliner dan lembar estetika. Namamu tertera di urutan yang sering kulupa di buku telepon genggam, karna mengenalmu saja bisa kuhitung dengan jari jumlah hari dan menit yang telah terlalui.

Aku memiliki beberapa kisah untuk kuceritakan, sebuah masa lalu tentang kehadiran-kehadiran, pekerjaan, keluarga dan kisah-kisah asmara --sedikit menyebalkan, karena aku terlihat brengsek di dalamnya--, beberapa berakhir menyenangkan namun sebagian besar lainnya berisi kegagalan. Pekerjaanku, menciptakan karya-karya baru untuk kemasan sebuah produk, obat, makanan, display, dan berbagai kebutuhan teknis tampilan. Sepulangnya, mengumpulkan ide dari perbincangan di warung kopi, toko, dan di tempat dimana aku bisa diterima dengan baik sebagai seorang perancang (kata 'perancang' sering aku pakai sebagai penyemangat hidup, karena hidup selalu dituntut untuk bergerak dengan pelbagai varian, meskipun tak seluruhnya benar, karna terkadang aku lebih banyak berdiam diri merenung habis-habisan).

Hingga hari ini keberuntungan menyertai tanpa direncanakan, kebutuhan makanan, gaya, informasi dan eforia-eforia kecil, juga hubungan sosial dengan lingkungan yang membuatku merasa seimbang dengan alam semesta.?

?

Aku mengambil mata kuliah manajemen di sebuah universitas swasta, yang kupikir nantinya memberiku peluang besar untuk menciptakan karya baru, pekerjaan yang lebih mapan dari saat ini dan setidaknya --juga-- ?memperbaiki kredibilitas potensi diploma di mata negara ini. Selebihnya tentang diriku, lebih mencintai sayuran ketimbang ikan dan daging, kopi setengah pahit, hampir 3 tahun berhenti mengkonsumsi nikotin, dan sedikit temperamental, dan mungkin ini bukan pengenalan yang lancar untuk di teruskan karena hingga paragraf ini aku masih tak ingin memberimu nama. bagaimana jika kita beralih pembahasan?

?

------------

?

Dimulai di hari yang cerah saat senyummu adalah visual terbaik dibandingkan desain apapun,

seakan-akan aku telah merencanakan apapun yang melibatkan dirimu di sini, meskipun pada kenyataannya kehadiranmu seolah mengantarku pada gurun pasir dimana aku sebagai ahli waris darah raja-raja mesir menggali tertatih menemukan harta aminhotep, mummy yang adalah nenek moyangku, atau jika aku anusapati, dan dalam mimpi bertemu seorang lelaki tua yang mengaku sebagai ayah dan juga darah dagingku, lalu menceritakan padaku perihal pembunuhan, kudeta yang berakhir pada menikahnya ibuku dengan ayah baru bernama ken angrok. Dan intinya adalah, aku telah mengubur sesuatu dalam-dalam dan kau datang menggalinya.

Aku tak menyalahkan dirimu atau diriku sendiri perihal ini, hanya saja susah sekali untuk memperbaiki apapun yang tak pernah bisa aku perbaiki sebelumnya. Percintaan atau apapun namanya menjadikanku berpikir lebih matang, juga hidup. Terkadang pula menjadikanku jatuh teramat dalam dan menyakitkan yang berangsur memotong level kecerdasan di titik nol. Jadi apakah pertemuan ini, pertemuan kita, adalah sebuah kebodohan atau keindahan dalam hidup?

?

Aku kecup di sudut bibirmu dan sesaat aku merasa kau membalasnya,

juga cumbuan-cumbuan kecil yang bisa aku dengarkan dari nafasmu yang menderu, dan seakan tiap detik kita membutuhkan delapan puluh persen oksigen di dalam ruangan. Aku takut berhenti, dan aku tahu kau juga takut untuk berhenti...benar atau tak, sesuatu telah tertinggal disana, entah di hati atau energi yang abadi. Bukankah kita hanya berloncatan dari dimensi satu ke dimensi lainnya?

?

Dimulai dari menulis, saat celena terjatuh dari antartika,

menunggu pesan-pesan itu menyala dari layar telepon selular dan namamu terpatok di sana.

Mungkin akan aku berikan segalanya, dongeng dan ruas jari ramalan-ramalan.

Sekedar pertemuan di resep-resep kesukaan, berbincang dan basa-basi. Dan sungguh, tanpa menyentuhmu pun, aku telah menyukaimu sejak pandangan itu habis-habisan menyerbu.

  • view 57