KAU

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
KAU

...Dulu,
Pastinya kau perawan juga...

--Mereka menyebutmu rampai, fosil stigi langka yang bahkan status tertinggi dari kampung ini tak mampu membelinya.
Lalu seseorang meminangmu, menyandarkanmu di kabut yang tak putih, pelepah senja yang gamang munculnya.
Hujan meninggalkan sisa menggenang, membuatmu berkaca dalam-dalam, memantulkan sepatu docmart coklat tangguh, garis maskara hingga ke pipi mengalahkan panorama kanyon di hilir air.--

Padahal kau pernah bermimpi memuja bintang tertinggi di semesta, meredam erangan jikalau langit runtuh.
Katamu pula, kakimu sehebat kuda troya, mampu menghentak tanah dan melesat sekejap mata.

Dulu, aku pula yang menunggumu di halte tempatmu mengantri pemberangkatan, di taman kota, dimana akhir minggu kita habiskan kalimat-kalimat sembari memandang kanak-kanak bermain pasir, di toko-toko penjaja coklat, dan di perpustakaan dimana buku-buku sering menyebutkan kecintaannya padamu.

Dan, kita pula pencipta puji-pujian bilamana minoritas dilabelkan secara visual jika kau dan aku berkaca.
Ah, justru itu yang aku takutkan. Ialah menjadi penyakit menular kerinduan, menjadi bengkak dalam gendang telinga sebab schizophrenia sering sambang bagai penyakit menahun.

Dulu pastinya kau perawan juga...

Mungkin tak ada yang menyimpan memori karena hidup tak menyisakan ruang untuk pertemuan rutin, mata asing, aura asing, jejak kaki asing dimana kursi beton diatas rumput gajah hanya bersanding sepatu converse-ku dan kau diseberang jalan menjilat es krim lembut berhimpit roti.

Ya, aku memimpikan betapa porimu mampu dan Nampak jelas tanpa harus kulihat menggunakan mikroskop.
Ya, aku memimpikan pula menodaimu diam-diam dan kau membalas kenakalan dengan senyum meruntuhkan.

Dulu pastinya kau bertanya, batinku.

Atau sekilas mengisi pandangan walau sekedarnya, adakah aku melintas?
Apapun itu, bukankan lelaki bebas bermimpi, tak peduli apakah selaput dara-mu harus dipertanyakan,
bahkan tak pernah jenak meski dalam jeda, bahwa tiap memikirkanmu adalah persenggamaan ataukah peribadatan?. Atau bahkan keperawanan menjadi mahkota utama kegilaan jiwa, bukankah wajib bagiku meraba-raba untuk sekedar perkenalan?

Sekarang pastinya kau tak perawan,

jujur, persetan dengan hipotesa, apa lacur aku menyusun rencana hebat per-jabatan tangan, ciuman singkat, malam panjang di antara steak dan blue ocean, bergaya ala bangsawan perancis yang ?mecucu? dialegnya, dan pagi menjelang dimana bahuku linu karena kau tenggelam diatasnya?

Sekarang tak akan kutanyakan apapun padamu,
Cinta tak selalu buta, hanya orang goblok yang membutakan dirinya.
aku hanyalah sebuah keinginan?
atau banyak keinginan,
entahlah...
entahlah.

  • view 70