AKSIOMA

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Filsafat
dipublikasikan 22 Februari 2016
AKSIOMA

Ya, saya sadar dan tentu saja ini hanyalah persepsi sekedarnya dalam menanggapi cara berapresiasi terhadap sebuah pengkaryaan.?

Jika secara pribadi terjebak pada masa lalu. Ya, itu memang dan pasti terjadi sehingga melemahkan beberapa harapan untuk berpendapat.?

Bagaimana saya musti membandingkan rodin, michelangelo, Gustave, William, David Grey, Warhol, Bach, Tucker, Zhen, dan ratuan maestro dengan maraknya karya yang lahir saat ini?

Bayangkan bagaimana jika masyarakat memiliki referensi yang sama. Mungkin akan sulit ada ruang baru bagi pengkarya-pengkarya muda karena dianggap secara pragmatis sebagai imitasi, ketidakstabilan kemampuan dan lebih pada ego yang mengedepankan status eksistensi akibat perubahan jaman, meskipun beberapa menganggapnya sebagai proses adaptasi atau memakai istilah 'revolusi' atau istilah asing rumit lainnya hanya untuk kembali menonjolkan diri diantara bayangan samar.

Sebaik apapun bentuknya hanyalah sebagai upaya mempersiapkan diri untuk melaju di tali pengait leher lalu mengikatnya erat dan terjun bebas dari ketinggian.

Begitupun sastra, syair, teater?

--yang kadang tiap dari mereka lupa akan pagar drama turgi, musik, reproduksi--

Sedangkan disisi lain banyak yang memberikan penilaian sebagai 'keterpurukan visi', Apatis dan membabi buta.

Lalu bagaimana jika kita mengaitkannya dengan hal-hal lain diluar kreatifitas? Pekerjaan mungkin, percintaan, hubungan sosial sesama spesies, atau absurditas penafsiran keberadaan Tuhan. Padahal jelas tonggak-tonggak aktivitas inilah yang menjadikan kita 'melek'.

Kita harus menerima bahwa apapun yang dikatakan tiap manusia akan kebebasan hanyalah sebuah loncatan kecil di dalam pagar, dimana ia tetap 'kekeh' mempelajari, menyibak dan menelitinya dengan detail bahkan menyusuri lorong-lorong tergelapnya hanya sekedar ingin menemukan tembok pembatas, lalu berusaha melewatinya.?

Intinya, Kebebasan yang bebas adalah doktrin kosakata. Dimana diksi dimainkan dengan lincahnya hanya untuk memberikan sugesti, stimulan semangat menjalani kehidupan, sedangkan bentuk lainnya kita analogikan seperti ini;?

--Kita duduk sendirian, membayangkan padang hijau dan dari kejauhan nampak pohong-pohon menjulang, suara burung, riak air, gesekan daun, kaki-kaki rusa beradu cepat, matahari sehangat awal terbit, langit biru, bidadari turun dari langit tanpa busana, kulitnya cerah, bibirnya ranum, dan beraroma menenangkan. Lalu hujan turun mendadak, petir menyambar, angin topan mencabut apapun hingga akarnya, membesar, mendekat...makin dekat...

dan kita masih tak mampu beranjak dari posisi di atas kursi, rasa panik dan ketakutan yang luar biasa...

Dan satu cara menghilangkannya ternyata hanya cukup menghapus gambaran awal saat memejamkan mata.--

Bukankah itu yang sering terjadi? berlari tanpa henti untuk diri sendiri?

Kita terima saja kenyataannya sebagai tragedi untuk diperbaiki, menciptakan apapun yang kita anggap indah, membanggakannya, atau menutup hidung dengan masker karena telah menyimpan terlalu banyak sampah dan rongsokan busuk.

Ada yang mengatakan jika penciptaan hanyalah masalah kepekaan. Atau sebaliknya, kita malah mematikan indera 'seakan-akan' tak memahami sebuah kesempurnaan. Dan bahwa penciptaan hanyalah implementasi tanpa tujuan.?

Apakah benar??

Apakah benar-benar tak memiliki tujuan, padahal tak bertujuan adalah tujuan itu sendiri?

Ya, ya...ada baiknya kita terima saja...

  • view 106