NOSTALGIA

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
NOSTALGIA

Pernah suatu ketika, aku duduk di sebuah pedistrian tepat di seberang jalan rumah kakekku. Membayangkan masa kecil dimana jalanan masih beraspal tipis, lalu lalang kendaraan lebih banyak terdengar tiap lima menit sekali dan itupun tak selalu tepat perhitungan sebab jarang sekali saat dimana jaman belum teraliri listrik dan serba-serbi elektronik seperti hari ini dan orang-orang membeli kendaraan yang masih diluar jangkauan kantong. Jalanan lebih banyak dilewati kereta pengangkut hasil panen tebu, batu bata, para pedagang pasar dan suara kanak-kanak menarik benang layang-layang...

?

Beranjak remaja seperti mengais pemantik api, kau hanya tinggal menarik rodanya lalu kobaran menghangatkan udara. Saat dimana asmara menjadi begitu membara, saat kekasih memeluk pinggang kala berkendara dibawah guyuran hujan, saat kami sering menghafalkan jalan mana saja yang telah terlintasi, beberapa tempat menuntaskan perbincangan; rumah makan, bioskop, departemen store, bangku taman, dan kolam ikan yang seringkali merekam ciuman kami lewat pantulannya.

?

-Matahari tak buta, begitupun bulan-.

?

Februari,

Tak ada hari yang pasti di bulan penguasa air ini tentang kelahiranku, bahkan ibuku sendiri meragukan ingatannya, bahkan ia juga lupa tanggal pastinya.?

Itulah mengapa aku tak memiliki kebiasaan mengamini perulangannya dalam pesta besar ataupun kecil, dalam doa khusus ataupun tiupan lilin diatas kue coklat berlapis lemak. Juga menghitung berapa pengirim pesan pendek penuh ucapan bahagia dari kekasih, sahabat, mitra kerja serta kolega di jam-jam yang sangat mengganggu instirahat tengah malam...

?

Pernah suatu ketika, aku kembali duduk di sebuah pedistrian...

Beberapa bongkah cor semennya retak, menjadi hunian lalang dan jalur serangga di musim kemarau. Jalanan telah ramai penjaja makanan, kendaraan dan debu yang mengalahkan kabut malam. Langit hanya mengintip sesekali lewat sela spanduk propaganda hiburan, produk masa depan, serta undangan dakwah rohani tanpa biaya masuk.

-Kanak-kanak tak lagi terdengar, begitupula langkah kaki, suara desir roda kayu menggilas jalan, lenguh kerbau dan lonceng purba, daun trembesi menari di rantingnya-.

Entah ke arah mana mata orang-orang saat melintas, jumlahnya puluhan, ratusan dan kadang lebih. Mereka hanya menatap lurus seperti kumpulan biri-biri. Tiap mata tak saling memandang dalam-dalam, tak saling sapa, tak saling meneriakkan nama. "Mungkin, mereka tak pernah memiliki rasa takut sedikitpun dalam kesendiriannya", pikirku...

  • view 71