TENTANG HARAPAN

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 Februari 2016
TENTANG HARAPAN

Akan aku ceritakan untukmu tentang bunga dolar yang tak mengenal dari mana ia dibangkitkan manakala membuka matanya dan menyadari ia berada di suatu berantah.
Sebenarnya hanyalah ruang kosong dua kali dua setengah meter bekas hunian yang tak lagi ditinggali.
Kayu sawo dengan rongga-rongga dan rayap yang malu-malu mengintip sembari menuntaskan makan paginya, lantai tanah dan benang wol pengukur jarak ubin akan disematkan, pipa karat tak lagi menuangkan air sumber karena tandon telah tersegel, dan sebuah jendela kecil seperti pigora dengan lukisan matahari, bukit kecil, akasia, dan langit abu-abu.

Daun Dolar kecil hanya menyisakan ingatan dimana suatu pagi seekor burung gereja membawa dirinya saat masih benih, lalu mampir dari perjalanan panjang di bingkai jendela dan lupa mengambil dirinya lagi manakala terjatuh ke dalam sebuah kamar.
Musim demi musim terlewati, akar serabut mulai tumbuh seiring berjalannya waktu, hujan yang jarang hadir, membuatnya harus bekerja keras mencari air sedalam mungkin.

Ruang yang terlalu teduh terkadang membuatnya nyaman, dan menimbun penasaran saban hari sebab suara semesta berikut cahaya malam-pun hanya mampu ia terjemahkan melalui koloid yang melayang di sela-sela jendela.
"Ada dunia yang indah pastinya disana" gumamnya.
Dunia yang menarik dirinya seakan-akan pada hakikatnya ia terlahir untuk menembus banyak hal, melakoni kisah-kisah liar, dan belajar tak hanya berbincang dengan kerikil tua, tanah lembab, tembok sunyi, laron di musim tertentu, rayap yang setia di rumah kayunya, semut yang menelusuri jalan, dan cacing yang tak kuat terlalu lama di bawah cahaya.

Suara malam mengajarkan kerinduan. Seperti hipnotis, alam memiliki kehidupan yang dinamis, bergerak, melambai dan mengeluarkan aneka bunyi-bunyian. Seperti lagu, atau lebih kompleks, akan mengajarkannya mengeja huruf, bermain kata, menjalin diksi dan merenungkan sang pencipta.
"Akan aku tuntaskan dunia, suatu hari nanti, ya nanti" gumam dolar kecil sekali lag.
Daunnya mulai merayap kesana kemari, akarnya dari beberapa saja, menjadi ratusan, mungkin ribuan suatu hari, mendekati tembok lembab di bawah jendela.
"Hidup berawal dari tanah, aku telah menancapkan jiwa disini, juga pada dinding bahkan batu terkeras sekalipun, merapuhkannya, meluluh lantakkan dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Terlalu lama mungkin, tapi bukankah ini adalah harga yang pantas untuk sebuah impian kan?, suatu hari...Ya, suatu hari. Akan aku robohkan dinding-dinding dan menerpa cahaya matahari hanya untukku, udara juga, guguran bunga juga, suara alir sungai juga, gemeretak ranting di kaki-kaki rusa juga, sisa embun juga, semesta ini juga...Suatu hari, ya suatu hari akan aku simpan dalam sebuah kotak pusaka agar dapat kubagikan penuh kebahagiaan untuk siapapun yang telah renta.
Suatu hari akan aku temukan jiwa yang sama dengan diriku, pejuang di tanah gersang, mendulang air tak hanya untuk dirinya sendiri, untukku juga, untuk apapun yang semestinya dipertahankan".

--Saat bunga bermekaran, bukan indahnya saja kau kagumi,
ia tumbuh dalam diam, tak banyak bicara, tapi seketika...
menjatuhkan hatimu dalam cinta.--

  • view 98