SEPI

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Puisi
dipublikasikan 20 Februari 2016
SEPI

15.00?

Saat dimana hujan memantulkan nada-nada lirih,
dan angkasa mengeja biru, biru muda, amat muda jua abu.
Beberapa mendendangkan sakitnya hati,
cinta teramat mati
dan lainnya bergumam bagai mesin mekanik.

??They caled beatbox, but i said ?it?s a bitter one, it?s a bitter symphony!??

butir demi butir tergelincir air,
menyelam dalam-dalam.
Kopi mestilah tuntas,
karna tak hanya mahal
tapi lebih nikmat di garis akhirnya.

??Of course, this is the best forplay before the climax i think??

Kala ini,
hujan benar-benar terhenti,
ranting trembesi meneteskan kisah-kisahnya.
Pun bangku kayu sawo telah menopang setengah hari,
Tak berbeda dengan bangku demi bangku
yang sebelumnya telah aku terjemahkan
atmosfer di ruang sekitarnya,
entah itu sekedar visi khayalan atau gelombang ghaib
yang menembus telinga hingga ke dada.

?but I feel that is everywhere, ?coz i am everywhere?
?
Tak basah jua kering,
apalagi lembut jua renyah
Sama saja,
sama saja,
teramat sama.

  • view 87